Zakat Fitrah Bisa jadi Solusi di Tengah Pandemi

 Zakat Fitrah Bisa jadi Solusi di Tengah Pandemi

kitapastibisa.id – Zakat Fitrah Bisa jadi Solusi di Tengah Pandemi – Detik

Zakat Fitrah Bisa jadi Solusi di Tengah Pandemi – Pandemi covid-19 betul-betul membuat negara Indonesia raya kelimpungan. Tak hanya menjadi dalang dari gelombang PHK yang mewarnai hari buruh kemarin, wabah virus corona juga menghambat warga untuk pulang ke kampung halamannya. Indonesia terancam mengalami peningkatan angka kemiskinan.

Menurut Sri Mulyani, Menteri Keuangan, dalam kondisi terberat, peningkatan jumlah angka kemiskinan dapat menjapau 3,78 orang. Pemerintah tengah bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup warganya. Tak hanya pemerintah, sektor swasta, hingga masyarakat pada umumnya turut bekerja sama.

Menanggapi hal ini, Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan fatwa pemanfaatan zakat, infak, sedekah dalam rangka penanggulangan dampak wabah covid-19. Fatwa tersebut telah dipertimbangkan sejak awal Ramadan tahun 2020. Mereka menilai dengan memaksimalkan potensi zakat yang diperkirakan mencapai kisaran Rp 375 triliun, dapat menjadi stimulus untuk membantu umat. Diketahui, saat ini jumlah tersebut baru mencapai angka Rp15 triliun.

Tak hanya MUI, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) maupun PP Muhammadiyah pun sepakat. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj mengimbau agar umat Islam mempercepat pembayaran zakat, yakni di awal bulan Ramadan. Menurutnya, zakat dapat menjadi angin segar di tengah pandemi saat ini.

Baca Juga  4 Tips Menjaga Kesehatan Selama Menjalani Puasa di Tengah Pandemi

”Saya mengimbau kepada umat Islam agar mengeluarkan zakat dipercepat di awal bulan Ramadan ini, dalam rangka membantu masyarakat yang tidak mampu di tengah-tengah wabah Covid-19 ini,” ujar Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj dalam siaran persnya.

Direktur Utama Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Arifin Purwakananta mengamini pernyataan tersebut. Ia mengungkapkan banyak warga yang tergerak untuk mengikuti anjuran tersebut. Menurutnya telah terjadi kenaikan penerimaan, terutama dalam bentuk donasi, dari tahun lalu naik mendekati 50 persen atau naik 10 persen dari target. Baznas menargetkan selama Ramadan bisa mengumpulkan Rp 102 miliar.

”Ini di awal Ramadan saja sudah terkumpul hampir Rp40 miliar. Nanti puncak kedua kami targetkan Rp70 miliar. Tapi, melihat dari awal sudah lebih banyak sehingga kami memperkirakan ada kenaikan dari target kami, bisa sampai 50% dari tahun lalu. Semua (penerimaan awal), hampir Rp40 miliar itu, juga sudah kami salurkan,” jelas Arifin.

Baca Juga: Menjaga Tubuh Agar Tetap Segar Selama Berpuasa

Baca Juga  Tradisi Megengan Menyambut Ramadan yang Sarat Makna

Bagaimana Cara Membayar Zakat di Tengah Pandemi?

Pembayaran zakat fitrah tahun ini akan berbeda. Mulai dari waktu pelaksanaan, penerima zakat, hingga caranya. Sebagaimana disampaikan sebelumnya, zakat fitrah akan dibayarkan lebih cepat. Terlebih, pemerintah yang akan mengkoordinasikan langsung penyaluran zakat fitrah, serta donasi dan infaq yang diberikan oleh masyarakat. Lantas, bagaimana hukumnya?

Ketua Ikatan Sarjana Quran Hadis Indonesia Fauzan Amin mengatakan, bahwa metode demikian adalah sah. Pengumpulan zakat boleh dikoordinasikan oleh ulil amri, atau pemimpin. Dalam kondisi saat ini, ulil amri yang dimaksud adalah Baznas, atau lembaga zakat lainnya. Ia mengungkapkan bahwa pemerintah boleh mengeluarkan anjuran untuk membayar zakat di awal karena alasan percepatan penyaluran bagi mustahiq korban Covid-19.

Hal ini dilandasi oleh kewajiban kewajiban bagi tiap muslim yang mampu untuk membayar zakat. Ia menambahkan, bagi mereka yang mampu membayar zakat namun menolak, maka dia layak diperangi seperti pernah dilakukan sahabat Abu Bakar.

Kemudian ihwal tata cara pembayaran zakat, maka pemerintah sepakat untuk menggunakan teknologi digital. Tujuannya sederhana, yakni hendak mengurangi kemungkinan terjadinya kerumunan. Hal tersebut disampaikan oleh Arifin yang pula mengampanyekan penyaluran zakat digital.

Baca Juga  Lathi Lagu EDM dengan Nuansa Jawa

“Masyarakat bisa memilih moda zakat yang gampang dan kami tetap menjaga semua berbasis syariah. Pilihan itu bisa dibuka di website Baznas,” tuturnya.

Selain Baznas, masyarakat juga dapat menjangkau lembaga lainnya, seperti Lembaga Amil Zakat Nahdlatul Ulama (Lazisnu), dan Aksi Cepat Tanggap (ACT). Lantas, bagaimana persoalan akad dan ijab kabul yang biasa dilakukan sewaktu penyerahan zakat?

Dewan Syariah Rumah Zakat sudah melakukan kajian‎ perihal permasalahan tersebut. Kajian tersebut memperbolehkan pembayaran zakat yang dilakukan secara non tunai atau online. Namun hal yang perlu diperhatikan adalah niat dari pemberi zakat sebagaimana niat merupakan kunci dari diterimanya amalan. Untuk menggantikan ijab kabul, penerima dalam hal ini Rumah Zakat akan mengirimkan pesan teks melalui telepon seluler sebagai bentuk serah terima dan doa.

Artikel Terkait

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *