Yohanes Surya Melahirkan Fisikawan Indonesia Dari Timur

 Yohanes Surya Melahirkan Fisikawan Indonesia Dari Timur

Yohanes Surya Melahirkan Fisikawan Indonesia Dari Timur

Fisikawan Indonesia yaitu Yohanes Surya, dikenal sebagai pembimbing Tim Olimpiade Fisika Indonesia/TOFI. Banyak anak-anak muda jenius lahir dalam pengasuhannya. Ia membuat sebuah langkah menarik dengan datang ke Papua dan mencari anak-anak yang ia anggap memiliki bakat dan potensi untuk dikembangkan. Ia sendiri ingin menantang persepsi publik yang selama ini terus mengulas bahwa Papua adalah sebuah daerah terbelakang dan tidak pintar. Ketika Yohanes datang ke Papua, ia memang tidak bisa memungkiri bahwa kondisi Papua saat itu sangat memprihatinkan. Kurangnya fasilitas dan sarana sekolah bisa menjadi sebuah tolak ukur kenapa pendidikan di Papua memiliki perkembangan yang sangat pelan. Ditambah lagi minimnya tenaga pendidik yang mampu mengajar dan menjadi guru mereka di sekolah. Kemampuan baca tulis merekapun masih sangat terbatas.

Namun di sisi lain, Yohanes melihat sebuah peluang dan keyakinan bahwa ketika anak-anak Papua dilatih, diberi kesempatan, dan diajarkan dengan baik  maka mereka sangat mungkin memiliki kemampuan dan kecerdasan layaknya anak-anak di daerah lain. Justru Yohanes menilai bahwa anak-anak Papua memiliki logika yang sangat baik apabila dilatih dengan sungguh-sungguh.

Baca Juga  Mengebut, Debut Micah di Putaran Satu Kejurnas Gokart

Baca Juga: Wanita Karier, Why Not?

Anak Didik Yohanes Surya yang Juga Berprestasi

Yohanes Surya sendiri telah menemukan banyak bibit fisikawan Indonesia dari Timur yang tidak kalah luar biasa. Diantaranya adalah Kristian Murib (Wamena), Merlin Kogoya (Tolikara), Kohoin Marandey (Sorong Selatan), dan Ayu Rogi (Waropen). Mereka yang meraih medali perak adalah Syors Srefle (Sorong Selatan), Natalisa Dori (Waropen), Nikolaus Taote (Mimika), dan Emon Wakerwa (Tolikara). Adapun medali perunggu dipersembahkan Alex Wanimbo (Lani Jaya), Boni Logo (Wamena), dan Ester Aifufu (Sorong Selatan). Dalam ajang ASMOPS (Science and Mathematics Olympiad for Primary School) pertama di bidang Matematika ini ada 11 siswa peraih emas, 16 siswa peraih perak, dan 18 siswa peraih perunggu. Untuk bidang Sains, ada 7 siswa peraih emas, 9 siswa peraih perak, dan 9 siswa peraih perunggu.

Anak-anak muda Papua ini hampir memiliki latar belakang yang tidak terlalu berbeda, mereka cukup kesulitan dalam hal ekonomi dan tidak memiliki fasilitas yang cukup memadai untuk mendukung kegiatan belajar di rumah bahkan di sekolah. Namun Mutiara tetaplah berharga tidak peduli di manapun ia. Kesempatan dan kerja keras telah membuktikan bahwa anak-anak hanya perlu kesempatan dan didikan yang tepat untuk mengeluarkan sisi terbaik dirinya.

Baca Juga  Elliot Handler, Tokoh di Balik Pamor Mainan Hot Wheels

Artikel Terkait

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *