William Sidis: Manusia yang Lebih Jenius dari Einstein

 William Sidis: Manusia yang Lebih Jenius dari Einstein

Kitapastibisa.id – William Sidis: Manusia yang Lebih Jenius dari Einstein – Kaskus

William Sidis: Manusia yang Lebih Jenius dari Einstein – Albert Einstein merupakan salah satu orang terjenius di dunia. Berdasarkan catatan sejarah, ia memiliki IQ 160, sama seperti Stephen Hawking. Isaac Newton sebelumnya memegang status orang terjenius dengan IQ 190. Mereka terkenal karena kejeniusannya yang mampu mengubah dunia.

Namun, dari nama-nama tersebut, terdapat satu pria yang bahkan memiliki IQ lebih tinggi. Ia adalah William James Sidis. Seorang pria asal Amerika serikat dengan IQ berkisar 250 hingga 300. Meski memiliki otak yang cemerlang, James bukanlah sosok yang terkenal.

Ia meninggal tahun 1944 pada usia 46 karena menderita pendarahan otak. Namun yang mengejutkan, ia mati dalam keadaan miskin dan terasing. Sebelumnya, William bahkan sempat bekerja sebagai operator mesin. Lantas, apa yang terjadi dengan manusia terjenius ini?

Baca Juga: Biasakan Menabung untuk Keperluan Mendesak

Masa Muda William Sidis

Saat berumur 18 bulan bahkan William sudah bisa membaca koran. Kejutan tidak berhenti, saat berumur 8 tahun ia bisa berbicara 8 bahasa. Bahkan ia membuat bahasanya sendiri ia beri nama ‘Vendergood”.

Baca Juga  Celyn Bocah Jenius Asal Sragen Mengantongi 700 Piala

James lahir dari kedua orang tua yang cemerlang. Ayahnya adalah seorang psikologis lulusan Harvard. Dengan kemampuannya yang luar biasa, keluarga, bahkan masyarakat menaruh harapan besar pada anak ini.

Pada tahun 1909, William sekolah di Harvard sebagai orang termuda di perguruan tinggi bergengsi itu. Setahun kuliah, William mampu mengajar dosen matematika di Harvard. William menyelesaikan studinya sebagai sarjana seni pada umur 16 tahun. Dengan prestasinya itu, masyarakat Amerika pun mengenalnya.

Sebuah buku berjudul ‘The Prodigy: A Biography of William James Sidis, America Greatest Prodigy’ mengangkat kemampuan Jenius tersebut. Namun ketenaran bukanlah impian dari anak jenius ini. Ia menghendaki kehidupan yang tenang tanpa ketenaran. Ia memilih untuk hidup menyendiri dalam keterasingan. Bahkan ia memutuskan untuk tidak menikah.

Melihat hal tersebut, ayahnya mendorong William untuk melanjutkan studinya. Namun seiring dengan pertumbuhan William, ia menolak hidup dalam bayang-bayang ayahnya. Ia ingin menjadi manusia yang normal. Ini merupakan cikal bakal pertengkaran dengan ayahnya.

Tahun 1923, Wiliam tidak menghadiri pemakaman ayahnya yang meninggal karena pendarahan otak. Ia tetap pada pendiriannya soal hidup menyendiri dan sederhana. Namun dengan seluruh kemampuan dan prestasinya, orang-orang masih mengenalinya.

Baca Juga  Umur Semakin Tua, Semangat Semakin Muda - Sarjana Di Usia Senja

Akhirnya dunia mengakui itikad William. Media pemberitaan melabeli William sebagai seorang jenius yang gagal karena kerap melihat sang jenius menjadi pekerja kasar. William pun pernah ditahan selama 18 bulan karena ikut dalam aksi demonstrasi.

Begitulah akhir kisah dari sang jenius dunia. Orang yang memiliki kemampuan untuk mengubah dunia hidup dalam keterasingan. Dunia telah mengubahnya dan menghancurkannya.

Artikel Terkait