Waspada Nafsu yang Tersembunyi

 Waspada Nafsu yang Tersembunyi

Kitapastibisa.id – Waspada Nafsu yang Tersembunyi – rctiplus

Waspada Nafsu yang Tersembunyi – Apa itu nafsu? Sebuah pertanyaan retoris kerap ditanyakan kepada diri kala menyendiri. Menjawab pertanyaan tersebut, Imam Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah rahimahullah mengatakan,

“Hawa nafsu adalah kecondongan jiwa kepada sesuatu yang selaras dengan keinginannya” (Asbabut Takhallaush minal hawa, Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah, hal. 3)

Manusia selalu diliputi oleh nafsu. Baik yang sifatnya condong kepada ketaatan kepada Allah, atau sebaliknya. Dari kedua sifat nafsu tersebut, terdapat kondisi di mana nafsu menjadi abu-abu yang disebut dengan nafsu tersembunyi. Lantas, bagaimana kah nafsu yang tersembunyi itu?

Baca Juga: Siapakah Itu Orang Munafik Menurut Islam

Kisah Imam Ahmad bin Miskin

Ia adalah Imam Ahmad bin Miskin. Seorang imam dari abad ke-3 tahun Hijrah yang tinggal di Basrah. Tahun 219 Hijriah, ia diuji dengan cobaan yang begitu berat, yakni kemiskinan yang luar biasa. Setiap hari, ia dan keluarganya diliputi perasaan cemas. Belum lagi kondisi perut yang lapar lantaran tidak punya uang untuk makan.

Imam Ahmad akhirnya memutuskan untuk menjual rumahnya. Syahdan, ia pergi mencari orang yang mau membeli rumahnya. Di perjalanan, ia bertemu dengan sahabatnya, Abu Nashr.

Baca Juga  Cara Menghemat Uang Belanja Mingguan

Imam Ahmad pun menceritakan kondisinya kepada sahabatnya itu. Melihat karibnya sedang kesusahan, Abu Nashr memberikan 2 lembar roti berlapis manisan kepada Imam Ahmad seraya berkata,

“Berikanlah makanan ini kepada keluargamu.”

Imam Ahmad begitu bersyukur atas pemberian sahabatnya itu. Ia membayangkan betapa bahagianya keluarganya yang tengah kelaparan. Setidaknya, ia merasa sedikit lega.

Di tengah perjalanan pulang, Ia bertemu dengan seorang fakir miskin bersama anaknya.

Bola matanya menatap lekat roti yang dipegang oleh Imam Ahmad.

“Tuanku, anak yatim ini belum makan, tak kuasa terlalu lama menahan rasa lapar yang melilit. Tolong beri dia sesuatu yang bisa dia makan. Semoga Allah merahmati Tuan,” ujar sang ibu.

Tanpa ragu, Imam Ahmad memberikan roti tersebut kepada mereka. Meski kondisinya sedang sulit, Imam Ahmad tidak keberatan untuk membagi rezekinya kepada orang yang membutuhkan. Tidak lama setelah ia berlalu dari orang fakir tersebut, muncul Abu Nashr.

“Hei, Abu Muhammad! Kenapa kau di sini sementara limpahan harta sedang memenuhi rumahmu?” tanyanya.

Imam Ahmad menatap Abu Nashr dengan wajah yang kebingungan. Lantas Abu Nashr melanjutkan perkataannya.

Baca Juga  Rihanna Dikabarkan Berpacaran dengan Sahabatnya, A$ap Rocky

“Tadi ada pria datang dari Khurasan. Dia bertanya-tanya tentang ayahmu atau siapapun yang punya hubungan kerabat dengannya. Dia membawa berduyun-duyun angkutan barang penuh berisi harta,” ujarnya.

Imam Ahmad terperanjat seraya mengucapkan syukur kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Pertolongan Allah datang dari arah yang tidak disangka. Seluruh harta yang ia peroleh merupakan balas budi dari seorang kerabat ayahnya yang dahulu pernah berhutang kepada orang tuanya.

Kala Kekayaan Adalah Ujian

Waspada Nafsu yang Tersembunyi
Kitapastibisa.id – Waspada Nafsu yang Tersembunyi – Lintasterkini

Hidup Imam Ahmad berubah 180 derajat. Dari kekayaan yang ia peroleh, Imam Ahmad menyibukan diri dengan sedekah, kegiatan sosial, dan berdagang. Hartanya terus bertambah seiring dengan pribadi Imam Ahmad yang banyak melakukan amal kebaikan.

Lantas, Imam Ahmad mulai merasa puas akan dirinya. Betapa beruntungnya manakala Allah memberikan kesempatan kepadanya untuk melakukan berbagai amal ibadah. Ia pun merasa sudah mengisi masa hidupnya dengan ibadah yang begitu banyak. Bahkan, ia merasa dirinya sudah digolongkan sebagai orang salih oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Suatu malam, Imam Ahmad bermimpi ia berhadapan dengan hari kiamat. Pemandangan yang sangat mengerikan di mana manusia begitu banyak layaknya ombak dengan dosa yang mereka pikul masing-masing. Bahkan, ia melihat seorang manusia memanggul dosa sebesar kota Basrah.

Baca Juga  Perkembangan Kompor dari Masa ke Masa

Tiba saatnya amalan Imam Ahmad dihitung. Betapa kagetnya ia tatkala melihat amalan buruknya lebih banyak dari pada amalan baiknya. Setelah dijabarkan seluruh amal buruknya, ia menemukan satu yang paling memberatkan timbangannya: Nafsu yang tersembunyi.

Perihal Nafsu Yang Tersembunyi

Nafsu yang tersembunyi adalah perasaan riya, ingin dipuji, serta ingin dianggap ahli ibadah. Ia teringat saat di dalam benaknya terbesit perasaan bahwa ia adalah orang saleh karena banyak amal ibadah yang sudah dilakukan. Ia bangga akan amal ibadahnya sendiri.

“Masihkah orang ini punya amal baik?” sebuah suara terdengar di tengah penyesalan sang Imam Ahmad.

Ada sebuah amalan yang mampu memberatkan timbangan amal baik Imam Ahmad. Bahkan, satu amalan itu cukup untuk membuatnya masuk ke dalam surga. Apakah itu?

Adalah sebuah perasaan tulus karena Allah subhanahu wa ta’ala kala membantu keluarga fakir dengan 2 lembar roti. Olehnya, ia selamat dari siksa api neraka.

Artikel Terkait