Wahyuni, Nenek Pendaki Gunung Asal Pekalongan

 Wahyuni, Nenek Pendaki Gunung Asal Pekalongan

Kitapastibisa.id – Wahyuni, Nenek Pendaki Gunung Asal Pekalongan – Detik

Wahyuni, Nenek Pendaki Gunung Asal Pekalongan – Nenek warga Kelurahan Sapuro Kebulen, Pekalongan Barat, Kota Pekalongan ini membuktikan bahwa tidak ada yang tidak mungkin. Yang ada adalah rasa malas. Buktinya, pada usianya yang ke 66 tahun, ia mampu menaklukkan Gunung Latimojong, Sulawesi Selatan. Itu adalah pendakiannya yang ke-14.

Gunung Latimojong bukanlah tidak menawarkan pendakian yang mudah. Pertama, gunung tersebut merupakan salah satu dari 7 puncak tertinggi Indonesia. Ketinggiannya mencapai  3478 Mdpl. Selain itu, lereng yang curam dan cuaca ekstrem tak menghentikan langkahnya menaklukkan Gunung Latimojong.

Empat hari mendaki, akhirnya Nenek Wahyuni berhasil mencapai puncak. Seluruh rasa penat dan lelah terbayar saat melihat panorama surgawi Gunung Latimojong. Saking semangatnya, Wahyuni tidak tahu bahwa kuku kakinya lepas saat turun gunung.

“Kepuasan saat sampai puncak. Menikmati keindahan dan keagungan Sang Maha Pencipta atas ciptaan alam yang indah ini,” katanya.

Pendakian itu tidak ia lakukan sendiri. Wahyuni dibantu oleh kedua anaknya, Endang Cahyo Wiroyowati (42) dan anak bungsunya Mohammad Menang Susilo (28). Bahkan setelah ia berhasil menaklukkan salah satu gunung tertinggi Indonesia, Wahyuni kembali menyusun rencana pendakian.

Baca Juga  Karakter Superhero Asli Indonesia

“Kalau di Jawa hampir sudah semuanya. Tahun depan saya berencana mau naik ke Gunung Kerinci di Sumatera, lagi kumpul-kumpul uang dulu,” kata Nenek Yuni yang setiap harinya menjual nasi keliling pasar ini.

Baca Juga: Li Ziqi Gadis Desa dengan Penghasilan Fantastik

Warisan Terbaik Dari Orang Tua Adalah Pendidikan

Wahyuni, Nenek Pendaki Gunung Asal Pekalongan
Kitapastibisa.id – Wahyuni, Nenek Pendaki Gunung Asal Pekalongan – Detik

Sejak kecil, Wahyuni sudah menjadi pecinta alam. Bahkan, ia sempat menjadi pendaki tiga zaman. Status itu terpampang lewat sebuah penghargaan dari Jawa Timur yang bertengger pada ruang tamunya.

“Sejak kecil suka jalan-jalan di alam. Cuma pas nikah anaknya banyak, saya istirahat. Dan baru saya mulai lagi saat anak sudah besar-besar di tahun 2010,” tuturnya dikutip dari Detik, (11/11/2019).

Wahyuni memiliki 9 orang anak. Sejak kecil, ia mengajarkan anak-anaknya untuk mencitai alam. Mohammad Menang Susilo, anak bungsu Nenek Yuni, mengaku sudah ikut naik gunung saat berumur 2 tahun. Tak tanggung-tanggung, pada usianya yang belia ia sudah menikmati Indahnya Merbabu.

“Kalau saya sejak saya umur dua tahun sudah diajak naik Gunung Merbabu,” ucap Mohammad Menang Susilo.

Baca Juga  Aksamina Woisiri Penggiat Aplikasi Bajalan Untuk Papua

Untuk tetap bugar dalam menekuni hobinya sebagai pendaki, Nenek Wahyuni memerlukan berbagai persiapan. Salah satu caranya menjaga fisik. Pertama, Nenek Yuni menyebut kan bahwa ia kerap berjualan nasi keliling pasar setiap hari sebagai latihan fisik. Kedua yakni soal makanan pun ia cukup perhatian. Makanan favoritnya adalah ikan asin.

“Saya jarang makan daging. Makanan kesukaan di gunung ya ikan asin,” jelas Nenek Yuni.

Sementara itu, untuk biaya, Yuni mengumpulkan uang dari hasil usahanya. Selain berjualan nasi. Yuni berjualan kaos. Desain kaos tersebut berupa sketsa wajahnya tertulis ‘Asa Di Masa Tua Menggapai gunung Tertinggi.

Bayangkan, menjadi seorang pendaki hingga usia yang senja bukanlah hal mudah. Sementara untuk hal yang paling berharga dari perjuangan Yuni pada anaknya adalah pendidikan yang ia berikan. Selanjutnya pendidikan mencintai alam, menjaga kesehatan, dan persiapan dalam meraih mimpi.

“Kalau yang naik gunung, jangan bawa sampah ke atas, hargai alam dan jangan bicara tanpa aturan. Selain itu juga harus mempersiapkan fisik dan perlengkapan mendaki yang mewadahi, itu saja sih pesan saya ke pemuda yang mau mendaki,” tutupnya.

Baca Juga  Komitmen Sang Sufyan ats-Tsauri, Pemimpin Ahli Hadis

Artikel Terkait