Usmar Ismail, Bapak Perfilman Indonesia

 Usmar Ismail, Bapak Perfilman Indonesia

Kitapastibisa.id – Usmar Ismail, Bapak Perfilman Indonesia – studioantelope

Usmar Ismail, Bapak Perfilman Indonesia – Darah dan Doa (The Long March) merupakan film garapan Usmar Ismail pada tahun 1950 yang tergolong laris pada masanya. Film lokal yang memiliki ciri khas Indonesia ini juga merupakan film pertama yang disutradarai oleh orang Indonesia asli dan diproduksi oleh perusahaan film Indonesia. Film karya Bapak Perfilman Nasional ini sekaligus menandakan kelahiran industri perfilman tanah air.

Usmar Ismail lahir di Bukittingi pada 20 Maret 1921. Ia sempat menempuh pendidikan di sekolah Belanda HIS di Batusangkat, MULO di Padang Panjang, lalu Algemene Middlebare School di Yogyakarta. Sebelum terjun ke dunia perfilman, Usmar pernah menjadi pemain drama radio, bekerja di Pusat Kebudayaan Jepang bersama Armijn Pane pada era koloni Jepang, menulis naskah teater, menulis lirik lagu, menjadi tentara hingga berpangkat Mayor, serta menjadi wartawan.

Baca Juga: Tingkatkan Daya Tahan Tubuh dengan Hal Berikut

Darah dan Doa Film Pertama Indonesia

Usmar Ismail, Bapak Perfilman Indonesia
Itapastibisa.id – Darah dan Doa Film Pertama Indonesia – grid.id

Darah dan Doa menjadi film penting dalam sejarah film Indonesia. Sehingga Konferensi Kerja Dewan Film Nasional (DFN) pada 11 Oktober 1962, DFN mengajukan Darah dan Doa  sebagai salah satu film domestik yang layak dirayakan. Selain itu diputuskan 30 Maret sebagai Hari Film Nasional. Dimana memperoleh Pengakuan resmi dari pemerintah baru lewat Keppres No 25 tahun 1999 tentang Penetapan Tanggal 30 Maret Sebagai Hari Film Nasional yang ditandatangani Presiden BJ Habibie.

Baca Juga  Sambal Bu Rudy Usaha Rumahan Yang Melegenda

Film ini mengangkat cerita tentang tentara dan Revolusi. Dianggap mewakili semangat kemandirian rakyat indonesia untuk bebas dari muatan politis atau propaganda, serta menyampingkan perhitungan komersial dan semata-mata idealisme. Film berdurasi 128 menit ini lebih difokuskan pada rombongan prajurit divisi Siliwangi pimpinan Kapten Sudarto. Mereka yang menghadapi ketegangan dalam perjalanan panjang (long march) prajurit militer dari Yogyakarta kembali ke Jawa Barat.

Film ini lahir atas dasar keinginan Usmar dalam membuat perusahaan film sendiri guna menuangkan gagasan dan idealismenya. Film yang merupakan produksi pertama dari Perusahaan Film Nasional Indonesia (Perfini) milik Usmar Ismail berasal dari Naskah karya Sitor Situmorang. Proses produksi film ini bisa dibilang tidak mudah karena minim biaya, kru dan pemain terbatas. Dalam produksi film ini Usmar merangkap menjadi produser, sutradara sekaligus penulis skenario.

H. Usmar Ismail telah menghasilkan 33 film layar lebar dengan sebagai Citra adalah judul film pertama yang dibuat pada tahun 1949. Selain itu ia juga suskes mendirikan Perfini (Pusat Perfilman Nasional Indonesia). Selain sebagai Bapak Perfilman Nasional, Usmar Ismail juga berjasa dalam perkembangan pariwisata Jakarta. Melalui karya film-filmnya dan juga mendirikan Akademi Teater Nasional Indonesia.

Baca Juga  Designer Kenzo Takada Meninggal Dunia karena Covid-19

Artikel Terkait

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *