Transisi Pendidikan Indonesia yang Merdeka

 Transisi Pendidikan Indonesia yang Merdeka

Transisi Pendidikan Indonesia yang Merdeka

Potret pendidikan Indonesia menjadi hal yang terus diperhatikan demi mencapai pendidikan berkualitas dan merata di seluruh wilayah Indonesia dari Sabang hingga Merauke. Ketimpangan standar pendidikan mulai terasa dalam 1 dekade terakhir, di mana masyarakat yang tinggal di kota besar terutama di Jawa cenderung memiliki pendidikan yang lebih baik secara mutu. Hal ini mendorong dilakukannya sebuah standarisasi untuk memperoleh hasil yang setara dengan dilakukan Ujian Nasional. Soal dibuat oleh Pemerintah pusat dan berlaku bagi seluruh sekolah di Indonesia.

Adanya sistem ujian nasional ini menjadi evaluasi bersama karena justru mengacaukan pendidikan itu sendiri. Banyak kasus kecurangan yang ditemukan karena ketakutan akan gagal dalam mencapai standar kelulusan nilai UN. Daerah kota cenderung memiliki tingkat keberhasilan yang jauh lebih tinggi dibanding daerah. Tentu saja hal ini dipengaruhi oleh banyak faktor. Bagaimana kualitas tenaga pendidik seperti guru yang mengajar, ketersediaan buku pelajaran, dan kondisi murid, serta fasilitas sekolah itu sendiri. Bisa jadi sekolah memiliki fasilitas cukup namun tidak diimbangi oleh tenaga pendidik yang mumpuni, atau sebaliknya.

Baca Juga  Sejarah Baru Olahraga Tenis Indonesia

Sementara, dilain sisi, sekolah yang memiliki fasilitas lengkap, tenaga pendidik yang mumpuni, ketersediaan fasilitas sekolah yang lengkap akan lebih mudah mencapai “keberhasilan” sistem pendidikan yang telah ditetapkan tersebut. Jika terus dilanjutkan, sistem seperti ini justru akan semakin melemahkan nilai dari pendidikan kita, karena murid dan guru “dipaksa” untuk mampu memenuhi target nilai demi sebuah kelulusan. Padahal dalam arti sangat luas, pendidikan lebih dari sekedar selembar kertas yang mencantumkan nilai-nilai akademik ketika pelaksanaan ujian.

Baca Juga: Gerakan Bersama Kreatifitas Bangsa untuk Perekonomian Indonesia

Pendapat Menteri Pendidikan Nadiem Makarim

Kemerdekaan belajar dan guru penggerak adalah dua hal yang disampaikan oleh Menteri Pendidikan, Nadiem Makarim, terkait dengan visi presiden. Kemerdekaan belajar artinya kita memberikan ruang bagi semua jenjang institusi pendidikan untuk mengembangkan metode atau sistem pengajaran agar sesuai dengan kebutuhan, kemauan, dan kemampuan peserta didik. Hal ini juga turut berlaku bagi guru atau pengajar untuk dibebaskan dari segala macam birokrasi. Terlebih lagi birokrasi yang membebani kinerja guru karena harus mengurusi hal diluar pengajaran. Sedangkan guru penggerak, artinya guru bisa menjadi salah satu inspirasi bagi murid atau peserta didik untuk terus terpacu mengembangkan minat dan kemampuannya.

Baca Juga  Menstrual Cup, Alternatif Pengganti Pembalut

Seringkali kita temukan guru-guru yang justru merasa terancam apabila memiliki murid yang lebih cerdas dari nya. Dengan terjebak pada paradigma lama bahwa guru yang selalu memberi, mengajarkan, dan memfasilitasi peserta belajarnya. Saatnya guru atau tenaga pengajar lebih banyak belajar dan menanyakan pertanyaan dari peserta didiknya dari pada ceramah mengenai ilmunya. Guru penggerak secara otomatis akan mencari ilmu baru dan orang lain untuk meningkatkan pengajaran di kelasnya.

Dua hal ini, menjadi sebuah dasar penting untuk mengubah arah pendidikan Indonesia. Menjadi babak baru bagaimana kita akan memberikan ruang, kepercayaan, dan kebebasan bagi para peserta didik maupun tenaga pengajar guna membentuk manusia yang terdidik, berilmu, dan bertanggung jawab.

Artikel Terkait

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *