Tradisi Berburu Paus Di Pulau Lembata NTT

 Tradisi Berburu Paus Di Pulau Lembata NTT

Kitapastibisa.id – Tradisi Berburu Paus Di Pulau Lembata NTT – Okezone

Tradisi Berburu Paus Di Pulau Lembata NTT – Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT) selain punya keindahan alam yang unik, juga punya tradisi yang tak kalah unik dan mendunia, ialah berburu paus. Beberapa negara di dunia masih melakukan perburuan terhadap paus, meskipun mamalia terbesar di laut ini masuk dalam daftar hewan yang hampir punah.

Di Indonesia memiliki tradisi berburu paus yang terkenal di Desa Lamalera, Pulau Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang sudah dilakukan selama ratusan tahun untuk kebutuhan pangan. Tetapi tidak seperti negara-negara lain yang masyarakatnya juga berburu paus, Indonesia tidak memiliki regulasi yang mengatur perburuan tradisional.

Masyarakat Lamalera merupakan keturunan para pelaut yang tiba dari Sulawesi bagian selatan lebih dari 500 tahun yang lalu. Saat tiba di Lamalera, mereka membawa juga tradisi perburuan mereka yang dimodifikasi untuk menangkap paus-paus yang sering ditemukan di perairan selatan Pulau Lembata.

Baca Juga: Budidaya Udang dengan Era Digital

Perburuan Masih Mengunakan Cara Tradisional

Perburuan Masih Mengunakan Cara Tradisional

Kitapastibisa.id – Perburuan Masih Mengunakan Cara Tradisional – Pedomanwisata

Baca Juga  Potensi Desa Ponggok Untuk Kesejahteraan Bersama

Para pemburu Lamalera menggunakan kapal layar yang disebut sebagai paledang yang didayung beramai-ramai ke tengah laut. Dalam satu paledang, setidaknya ada 9-15 laki-laki yang ikut bersama lemafa (orang yang bertugas membawa tombak).

Pada bulan Mei hingga Oktober, ada banyak paus yang bermigrasi dan melewati Laut Sawu. Pada masa itu perburuan baleo berlangsung. Berbekal pengalaman dari nenek moyang, tradisi berburu paus di Lamalera masih terus berlangsung dengan tetap menjaga aturan adat.

Paus yang sering ditangkap oleh masyarakat Lamalera adalah paus sperma (Physeter macrocephalus) atau dikenal penduduk lokal sebagai koteklema. Kini, paus sperma masuk daftar satwa yang populasinya hampir punah.

Indonesia telah menyatakan kalau paus dan lumba-lumba sebagai satwa yang dilindungi dan terlarang untuk diburu. Tetapi Masyarakat Lamalera tetap memburu paus karena kegiatan ini merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari budaya masyarakat Lamalera.

Karena alasan ekonomi, masyarkat Lamalera masih berburu paus sampai sekarang. Pada dasarnya di Lembata, masyarakat tak punya kekayaan lain selain laut. Oleh karena itu tidak bisa bertahan hidup dengan bertani sebab keadaan tanah yang kurang subur.

Baca Juga  Cara Memasak Unik Khas Tanah Papua

Mereka menyebut laut sebagai pemberian dari Tuhan. Adapun paus yang termasuk di dalamnya, juga dianggap sebagai rezeki. Meski disebut pemberian, mereka tidak terlalu  mengeksploitasinya. Hasil buruan paus akan dipotong-potong dan dibagi rata untuk warga setempat atau dibarter ke pasar-pasar tradisional.

Artikel Terkait

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *