Tidurnya Orang Berpuasa Mendapat Pahala, Benarkah?

 Tidurnya Orang Berpuasa Mendapat Pahala, Benarkah?

kitapastibisa.id – Tidurnya Orang Berpuasa Mendapat Pahala, Benarkah? – Wartakota

Tidurnya Orang Berpuasa Mendapat Pahala, Benarkah? – Al-Baihaqi dalam buku Syu’bul Iman 3/1437 mengungkapkan hadis tentang keutamaan orang yang tidur saat berpuasa. hadis itu cukup terkenal di kalangan umat muslim. Banyak sekali keuntungan serta keutamaan yang diperoleh bagi orang yang tidur di saat berpuasa. Adapun hadis tersebut berbunyi:

نومُ الصائمِ عبادةٌ وصمتُه تسبيحٌ وعملُه مُضاعفٌ ودُعاؤهُ مُستجابٌ وذَنبُه مَغفُورٌ

“Tidurnya orang yang berpuasa itu ibadah, diamnya adalah tasbih, amalannya dilipat gandakan (pahalanya), doanya dikabulkan dan dosanya diampuni.”

Sebuah amalan yang ringan dengan keutamaan yang berlipat yang berlipat ganda. Namun, benarkah demikian? Permasalahannya, hadis tersebut kerap dijadikan rujukan untuk membela orang yang gemar tidur sepanjang hari di bulan puasa. Lantas, hadis tersebut dipertanyakan keabsahannya. Terlebih, hadis tersebut tidak tercantum pada kitab-kitab hadis populer.

Imam Suyuti menilai hadis tersebut dhoif (lemah). hadis tersebut dianggap lemah lantaran ditemukan perawi yang bermasalah dalam sanadnya. Beberapa perawi yang dianggap lemah dalam sanad hadis tersebut antara lain Ma’ruf bin Hisan dan Sulaiman bin Amr an’Nakha’i.

Baca Juga  Negara Paling Dingin Di Dunia

Terdapat anggapan bahwa Sulaiman adalah merupakan rawi yang lebih dhaif dari Ma’ruf. Hal tersebut diungkapkan oleh Imam bin Hanbal dan Yahya bin Ma’in, bahwa Sulaiman dikenal sebagai pemalsu hadis. Begitu pula oleh Imam Bukhari yang menyebut hadis Sulaiman adalah matruk alias semi palsu.

Meski tidak membahas hal fundamental, hadis ini berpotensi menjerumuskan umat untuk berlaku malas. Meski begitu, sebagian menganggap tidur lebih baik ketimbang melakukan hal-hal yang makruh dalam berpuasa. Bagaimana menyikapi hal tersebut?

Baca Juga: Bangkitkan Mood agar Tak Malas WFH saat Puasa

Menyikapi Hadis ‘Tidur Adalah Pahala’

Meski dinilai lemah, hadis tersebut dapat dimaknai secara benar. Para ulama menjelaskan bahwa kaidah segala amalan yang berstatus mubah dapat mendatangkan pahala dan bernilai ibadah jika diniatkan dengan niat ibadah. Amalan mubah merupakan amalan yang tidak memiliki nilai pahala apabila dilakukan seperti makan, tidur, berbincang-bincang dan lain sebagainya.

Hal tersebut sebagaimana disampaikan dalam hadis dari Amirul Mukminin, Abu Hafsh ‘Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu, ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Baca Juga  Filosofi Mangan Ora Mangan Sing Penting Kumpul

إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ

“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR. Bukhari dan Muslim) [HR. Bukhari, no. 1 dan Muslim, no. 1907]

Hal serupa juga diungkapkan oleh An Nawawi dalam Syarh Muslim (6/16) di mana ia mengatakan bahwa perbuatan mubah akan berubah menjadi suatu ketaatan dan mendapatkan pahala jika dimaksudkan untuk mengharapkan wajah Allah Ta’ala.

Misal, kita berniat tidur siang sebentar agar kuat beribadah di malam hari. Hal tersebut merupakan bentuk ketaatan di mana niat tidur adalah untuk melakukan ibadah lainnya di waktu lainnya. Dengan demikian, segala amalan mubah yang diniatkan untuk mencari ridha Allah akan mendapatkan pahala.

Baca Juga  Tetap Melakukan Shalat Malam Setelah Bulan Ramadhan

Artikel Terkait

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *