Surga Menantikan Orang yang Gemar Berprasangka Baik

 Surga Menantikan Orang yang Gemar Berprasangka Baik

Kitapastibisa.id – Surga Menantikan Orang yang Gemar Berprasangka Baik – Bincangsyariah

Surga Menantikan Orang yang Gemar Berprasangka Baik – Suatu hari, Anas bin Malik radhiyallahu anhu sedang duduk di sebuah majelis ilmu bersama Nabi shallallahu alaihi wa sallam beserta beberapa sahabat lainnya. Tatkala mereka sedang berbincang-bincang, Rasulullah berkata kepada semua sahabatnya saat itu, “Sebentar lagi akan muncul di hadapan kalian seorang laki-laki penghuni surga”.

Tak berapa lama setelah Nabi mengatakan hal tersebut, terlihat sosok seorang laki-laki Anshar. Di raut wajahnya terlihat bekas air wudhu yang membuat janggutnya basah. Sambil mengikat kedua sandalnya pada tangan kiri, ia berlalu. Perkataan Nabi membuat Abdullah bin Amr bin Al-Ash, seorang sahabat Nabi yang memiliki ketaatan luar biasa, penasaran.

Seusai majelis bersama Nabi, Abdullah bin Amr bin Al-Ash pergi bertemu dengan lelaki yang disebut sebagai ahli surga itu. Saat berhadapan dengannya, Abdullah bin Amr bin Al-Ash berkata padanya, “Saya ini bertengkar dengan ayah saya dan saya berjanji kepada ayah bahwa selama tiga hari saya tidak akan menemuinya. Bolehkah saya tinggal di tempat Anda selama tiga hari?”

Mendengar pinta sahabat Nabi itu, lelaki itu mengabulkan permintaannya.

Tujuan Abdullah bin Amr bin Al-Ash satu, yakni mengetahui amalan apa yang membuat lelaki tersebut disebut sebagai penghuni surga. Ia ingin melihat keseharian sang lelaki agar ia dapat pula mengamalkan amalan yang dinilai sebagai amalan surga itu. Namun, Abdullah bin Amr bin Al-Ash tidak menemukan apa yang ia cari.

Baca Juga  Memaknai Cinta Dalam Pandangan Islam

Menurut Abdullah bin Amr bin Al-Ash, ibadah yang dilakukan oleh lelaki itu biasa saja, tak lebih baik darinya. Ia pun bertanya kepada lelaki tersebut perihal amalan yang belum ia ketahui. Akhirnya, ia mendapatkan jawabannya.

“Demi Allah, amalku tidak lebih dari yang kau saksikan itu. Hanya saja aku tidak pernah menyimpan pada diriku niat yang buruk terhadap sesama muslim, dan aku tidak pernah menyimpan rasa dengki kepada mereka atas kebaikan yang diberikan Allah kepada mereka,” ujar sang lelaki yang disebut oleh Rasullullah sebagai penghuni surga.

Baca Juga: Umat Muslim dalam Pusaran Riya di Era Modern

Antara Prasangka Buruk dan Baik

Berprasangka baik di era modern dewasa ini nyatanya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Konten dan objek yang disajikan oleh media informasi kerap mengundang tanya. Tidak berhenti di sana, tidak jarang sebuah pertanyaan berujung pada prasangka. Menyoal prasangka, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam surat Al-Hujurat ayat 12,

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang.” (QS. Al Hujurat: 12).

Baca Juga  Hukum Bermulut Kasar Namun Berhati Baik Dalam Islam

Ayat tersebut menyebutkan bahwa perilaku berprasangka buruk tidak jarang dibarengi dengan perilaku mencari-cari kesalahan orang lain, atau disebut dengan tajassus. Allah subhanahu wa ta’ala tidak menyukai hamba yang berperilaku demikian.

Namun meski sebelumnya dikatakan bahwa sebagian besar prasangka adalah dosa, agama Islam membolehkan bentuk prasangka yang dibolehkan. Dari Zaid bin Wahab berkata,

“Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu telah didatangi oleh seseorang, lalu dikatakan kepadanya, ‘Orang ini jenggotnya bertetesan khamr.’ Ibnu Mas’du pun berkata, ‘Kami memang telah dilarang untuk tajassus (mencari-cari kesalahan orang lain). Tapi jika tampak sesuatu bagi kami, kami akan menindaknya.’ (HR. Abu Daud no. 4890. Sanad hadits ini dhaif menurut Al Hafizh Abu Thohir, sedangkan Syaikh Al Albani mengatakan bahwa sanadnya shahih).

Meski hadis ini dinilai dhaif, namun Imam Nawawi dalam kitab Riyadhus Sholihin mengatakan bahwa tajassus diperbolehkan jika mendesak, atau terdapat bukti padanya.

Belajar untuk Berprasangka Baik

Belajar untuk berprasangka baik merupakan cara untuk menghindari prasangka buruk dan tajassus. Sebagaimana kisah sahabat Nabi yang dipaparkan sebelumnya, surga menanti orang-orang yang gemar berprasangka baik. Nabi shallallahu alaihi wa sallam memberikan contoh perihal berprasangka baik dalam hadis yang disampaikan oleh Aisyah radhiyallahu ‘anha,

“Ada suatu kaum yang berkata, ‘Wahai Rasulullah, ada suatu kaum membawa daging kepada kami dan kami tidak tahu apakah daging tersebut saat disembelih dibacakan bismillah ataukah tidak.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas menjawab, “Ucapkanlah bismillah lalu makanlah.” (HR. Bukhari no. 2057).

Baca Juga  Kisah Seorang Saleh yang Gemar Beli Miras

Berhati-hati boleh saja, namun meletakkan prasangka pada suatu hal secara berlebihan justru akan merepotkan diri sendiri. Rasullullah shallallahu alaihi wa sallam mengajarkan umatnya untuk berprasangka baik agar tidak menjadi beban di kemudian hari. Bayangkan jika pada hadis tersebut sahabat diperintah untuk mencari tahu siapa yang memotong daging tersebut dan bagaimana caranya.

Daripada berprasangka buruk, Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu mengatakan dalam sebuah hadis agar umat muslim lebih memperhatikan kesalahan dirinya ketimbang orang lain. Ia berkata,

“Salah seorang dari kalian dapat melihat kotoran kecil di mata saudaranya tetapi dia lupa akan kayu besar yang ada di matanya.” (Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Adabul Mufrod no. 592. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa riwayat ini shahih).

Sebuah peribahasa, “Semut di seberang lautan nampak, gajah di pelupuk mata tak nampak,” cocok untuk menggambarkan hadis tersebut.

Artikel Terkait

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *