Sultan Baabullah, Pribumi Perkasa Pengusir Penjajah

 Sultan Baabullah, Pribumi Perkasa Pengusir Penjajah

Kitapastibisa.id – Sultan Baabullah, Pribumi Perkasa Pengusir Penjajah – Facebook

Sultan Baabullah, Pribumi Perkasa Pengusir Penjajah – Namanya begitu terkenal dalam kalangan sejarawan kolonial barat. Bayangkan, ia merupakan orang pribumi pertama yang mampu mengusir penjajah. Sebagian orang menyebutnya pahlawan, sebagian lainnya menyebutnya penakluk.

Bagaimana namanya sampai begitu tenar? Selain mampu menaklukkan kedigdayaan Portugis kala itu, Sultan Baabullah mampu menduduki 72 negeri. Wilayah kekuasaannya membentang luas bahkan hingga Filipina. Ia memiliki perwakilan di Jawa, Sumatera, bahkan Papua. Beberapa wilayah Papua yang menjadi pengawasannya adalah Raja Ampat, Sorong, Biak, Jayapura, dan Merauke.

Selain sosok penakluk, Sultan Baabullah juga terkenal akan kemampuan diplomasinya. Memiliki kekuasaan yang luas, Sultan Baabullah membuka kerja sama dengan bangsa Eropa. Perjalinan kerja sama ini tak serta merta meluluhkan kedudukan pribumi. Ia mewajibkan bangsa pendatang untuk melepaskan topi dan sepatu mereka sebagai tanda agar mereka tidak lupa diri.

Sebagaimana namanya ‘Baabullah’ yang berarti pintu Allah, ia menjadi pintu masuk perkembangan Islam pada Timur Indonesia. Kesultanan Ternate menjadi pelopor penyebaran Islam di bawah pimpinannya. Beberapa raja yang memeluk Islam kala itu antara lain Raja Gowa, Tunijallo.

Baca Juga  Lathi Lagu EDM dengan Nuansa Jawa

Baca Juga: Maskne, Jerawat Akibat Penggunaan Masker

Profil Sultan Baabulla

Ia adalah anak dari Sultan Khairul Jamil, pemimpin Ternate pada tahun 1535–1570. Pangeran yang lahir pada 10 Februari 1528 ini sudah mengemban tugas berat sejak muda. Ia sudah menduduki jabatan Kapita Laut, sebuah jabatan militer tertinggi dalam struktur Kerajaan Ternate, saat masih belia.

Saat ayahnya, Sultan Khairul Jamil, wafat di tangan Portugis, Sultan Baabullah kemudian ditasbihkan menjadi pemimpin Ternate. Kematian ayahnya merupakan dorongan besar bagi Sultan Baabullah untuk melawan penjajah. Ayahnya wafat pada perjamuan damai antara Ternate dengan Protugis.

Diego Lopez de Masquita, dalang pembunuhan Sultan Khairul Jamil, menjebak Sultan Ternate itu dan menyerangnya saat lengah. Namun, agaknya keputusan de Masquita akan ia sesali selamanya. Bak membangunkan macan yang sedang tertidur, Sultan Baabullah yang menggantikan ayahnya mampu mengusir Portugis.

Dalam waktu singkat, Sultan Baabullah merebut sejumlah benteng Portugis. Beberapa benteng tersebut antara lain Tolucco, Santo Lucia, dan Santo Pedro. Baabullah hanya menyisakan benteng Sao Paulo yang menjadi kediaman de Masquita. Kemudian, Sang Sultan memutus jalur kebutuhan benteng Sao Paulo dengan mengepung benteng tersebut.

Baca Juga  Mengenal Reza Rahardian Dari Sudut Pandang Hanung

Tak tahan dengan boikot dari Kesultanan Ternate, de Masquita memutuskan untuk hengkang dari Ternate. Pada 15 Juli 1575, Ternate bersih dari penjajah Portugis. Ini juga menjadi tanda mulainya misi Islamisasi Ternate pada Timur Nusantara. Setidaknya, ada 72 wilayah yang berada dalam naungan Kesultanan Ternate pada masa kepemimpinannya.

Namun, kematian dari Sultan Terbesar pada masanya itu masih menjadi misteri. Pada awal tahun 1583, Sultan Baabullah wafat. Momen ini menjadi gerbang bagi penjajah untuk kembali masuk ke Nusantara. Kekuatan Kesultanan Ternate kian melemah hingga akhirnya penjajah seperti Spanyol dan Belanda mampu menancapkan taringnya.

Artikel Terkait