Suami Ideal dalam Pandangan Islam

 Suami Ideal dalam Pandangan Islam

Kitapastibisa.id – Menjadi Suami Ideal dalam Pandangan Islam – Tribun

Suami Ideal dalam Pandangan Islam – Kasus perceraian meningkat dalam setengah tahun terakhir. Pagebluk virus corona menjadi salah satu stimulus terbesar dari melonjaknya angka tersebut. Dilansir dari warta ekonomi, Pengadilan Agama Cianjur menyebutkan tingkat perceraian di Cianjur meningkat. Menurut mereka, terdapat 50 pengajuan perceraian dalam satu hari.

Hal tersebut disampaikan oleh humas Pengadilan Agama Cianjur, Fajar Hermawan. Menurutnya, sejak Januari, tingkat perceraian di Cianjur meningkat drastis.

“Dari Januari hingga saat ini, tingkat perceraian di Cianjur dengana adanya pandemi meningkat. Dari 2029, sebanyak 1.613 gugatan cerai dan 416 perkara permohonan. 80 persen adalah cerai gugat,” kata Fajar Hermawan.

Ia menambahkan terdapat dua sebab utama gugatan perceraian, yakni ekonomi dan akhlak. Fajar tak bisa menampik bahwa kasus kekerasan dalam rumah tangga menjadi salah satu kasus yang mendasari kategori akhlak.

Kasus di atas menjadi renungan bagi para suami di luar Cianjur. Sebagaimana Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam pernah bersabda,

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik (dalam bergaul) dengan keluarganya dan aku adalah orang yang paling baik (dalam bergaul) dengan keluargaku.”

Baca Juga  Antara Sehat dan Kaya Mana yang Lebih Utama?

Dalam ayat lainnya, Allah berfirman,

“Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada istrinya dengan cara ma’ruf” (QS. Al Baqarah: 233).

Sudah kewajiban seorang suami untuk menyediakan berbagai keperluan keluarganya. Ini sudah menjadi janji dengan wali pasangannya saat ia melakukan ijab dan qabul. Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan tafsir ayat tersebut perihal nafkah yang baik. Maksud dari nafkah dengan cara yang ma’ruf adalah dengan tidak bersikap berlebih-lebihan dan tidak pula pelit. Ia harus memperhatikan kebiasaan masyarakat serta keluarganya terkait nafkah. Hendaklah ia memberi nafkah sesuai kemampuannya dan yang mudah untuknya, serta bersikap pertengahan dan hemat.

Seorang suami yang baik dalam pandangan Islam tidak akan pernah melakukan kekerasan kepada pasangannya. Lantas, apa lagi kriteria suami ideal dalam kacamata Islam?

Baca Juga: Jangan Lelah Berdoa dan Beristighfar

Ciri-ciri Suami Ideal dalam Islam

Perihal sosok kepala keluarga ideal, Allah subhanahu wa ta’ala menyebutnya dalam firman-Nya,

“Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam al-Qur’an. Sesungguhnya dia adalah seorang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang rasul dan nabi. Dan dia (selalu) memerintahkan kepada keluarganya untuk (menunaikan) shalat dan (membayar) zakat, dan dia adalah seorang yang di ridhoi di sisi Allah” (QS Maryam: 54-55).

Baca Juga  Cara Menghemat Uang Belanja Mingguan

Dalam ayat tersebut, Nabi Ismail alaihisallami digambarkan sebagai salah satu sosok suami ideal. Beliau adalah sosok yang taat kepada agama serta mampu membimbing keluarganya menuju surga Allah subahanhu wa ta’ala. Hal ini disampaikan dalam hadis dari Jabir, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Bertakwalah kepada Allah pada (penunaian hak-hak) para wanita, karena kalian sesungguhnya telah mengambil mereka dengan amanah Allah dan kalian menghalalkan kemaluan mereka dengan kalimat Allah. Kewajiban istri bagi kalian adalah tidak boleh permadani kalian ditempati oleh seorang pun yang kalian tidak sukai. Jika mereka melakukan demikian, pukullah mereka dengan pukulan yang tidak menyakiti. Kewajiban kalian bagi istri kalian adalah memberi mereka nafkah dan pakaian dengan cara yang ma’ruf” (HR. Muslim no. 1218).

Selain nafkah dan berperilaku lembut, terdapat hal yang kerap dipukana suami. Mari tengok hadis dari Al-Aswad. Ia bertanya pada ‘Aisyah,

“Apa yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lakukan ketika berada di tengah keluarganya?” ‘Aisyah menjawab, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membantu pekerjaan keluarganya di rumah. Jika telah tiba waktu shalat, beliau berdiri dan segera menuju shalat.” (HR. Bukhari, no. 6039)

Baca Juga  Merawat Kumpulan Buku Kesayangan Tetap Rapi

Salah satu sunnah yang dilupakan pria kala menjadi suami adalah membantu pekerjaan rumah. Mampu memberikan nafkah bukan berarti suami menjadi superior. Keluarga adalah pekerjaan bersama antara suami dan istri. Banyak yang berpandangan bahwa pekerjaan rumah bukanlah tugas lelaki. Jika seperti itu sudut pandangnya, maka suami telah kehilangan sisi romantis dan lemah lembutnya kepada sang istri.

Artikel Terkait