Siri Na Pacce Falsafah Hidup Dalam Budaya Sulawesi Selatan

 Siri Na Pacce Falsafah Hidup Dalam Budaya Sulawesi Selatan

Kitapastibisa.id – Siri Na Pacce Falsafah Hidup Dalam Budaya Sulawesi Selatan – Kumparan

Siri Na Pacce Falsafah Hidup Dalam Budaya Sulawesi Selatan – Dalam budaya Sulawesi Selatan ada sebuah falsafah yang mencerminkan identititas serta watak orang Sulawesi Selatan. Falsafah itu adalah Siri’ Na Pacce, yang mana Siri’ berarti rasa malu atau harga diri, sedangkan Pacce berarti kecerdasan emosional untuk turut merasakan kepedihan atau kesusahan atau solidaritas dan empati.

Masyarakat Bugis-Makassar sangat menjunjung tinggi budaya Siri’ Na Pacce dalam kehidupan sehari-hari. Sebab apabila siri’ na pacce tidak dimiliki seseorang, maka orang tersebut tidak memiliki rasa malu, harga diri, dan kepedulian sosial. Mereka juga hanya ingin menang sendiri dan memperturutkan hawa nafsunya. Siri’ mengajarkan moralitas kesusilaan untuk menjaga dan mempertahankan diri dan kehormatannya. Sedangkan, pacce mengajarkan rasa kesetiakawanan dan kepedulian sosial tanpa mementingkan diri sendiri. Pacce merupakan sifat belas kasih dan perasaan menanggung beban dan penderitaan orang lain.

Hakekat prinsip ini bersumber pada leluhur masyarakat Bugis-Makassar yakni duai temmallaiseng, tellui temmasarang yang berarti dua bagian yang tak terpisahkan dan tiga bagian yang tak terceraikan. Masyarakat Bugis-Makassar untuk senantiasa hidup baik di negeri sendiri atau negeri orang lain adalah menjadi manusia yang perkasa dalam menjalani kehidupan. Mereka dituntut harus memiliki keberanian, pantang menyerah menghadapi tantangan ataupun ujian hidup. Itulah sebabnya maka setiap orang yang mengaku sebagai masyarakat Bugis-Makassar memiliki orientasi yang mampu menghadapi apapun.

Baca Juga  Makna Dibalik Stagen, Kain Tradisional Asal Jawa

Baca Juga: Film Lama Yang Masih Layak Untuk Ditonton

Budaya Siri’ Na Pacce

Falsafah ini oleh masyarakat di Sulawesi Selatan selalu diyakini dalam menjalankan kehidupan sehari-hari. Nilai ini dipandang sebagai sebuah konsep yang memberi dampak terhadap perilaku masyarakat yang menganutnya. Masyarakat Sulawesi Selatan menjadikan siri’ na pacce’ ini sebagai pola tingkah laku dalam berpikir, merasa, bertindak, dan melaksanakan aktivitas dalam membangun dirinya menjadi seorang manusia. Juga dalam hubungan sesama manusia dalam masyarakat.

Dalam Budaya Bugis atau Makassar mempunyai empat kategori, yaitu Siri’ Ripakasiri’, Siri’ Mappakasiri’siri’, Siri’ Tappela’ Siri dan Siri’ Mate Siri’. Kemudian, keempat kategori Siri’ tersebut maka Pacce menduduki satu tempat, sehingga membentuk suatu budaya yakni Siri’ Na Pacce.

Pertama, Siri’ Ripakasiri’ adalah Siri’ yang berhubungan dengan harga diri pribadi, serta harga diri atau harkat dan martabat keluarga. Siri’ jenis ini adalah sesuatu yang tabu dan pantang untuk dilanggar karena taruhannya adalah nyawa.

Kedua, Siri’ Mappakasiri’siri’, merupakan Siri’ yang berhubungan dengan etos kerja. Bekerjalah yang giat, agar harkat dan martabat keluarga terangkat. Jangan jadi pengemis, karena akan memalukan.

Baca Juga  Berkeliling dan Belajar Sejarah Bersama Walking Tour

Ketiga Siri’ Tappela’ Siri’ atau Siri’ Teddeng Siri’ artinya rasa malu seseorang itu hilang “terusik” karena sesuatu hal. Misalnya, ketika seseorang memiliki utang dan telah berjanji untuk berusaha sekuat tenaga untuk menepati janjinya atau membayar utangnya sebagaimana waktu yang telah ditentukan. Ketika sampai waktu yang telah ditentukan yang berutang tidak menepati janji, artinya mempermalukan dirinya sendiri.

Terakhir, Siri’ Mate Siri’, adalah Siri’ yang berhubungan dengan iman. Dalam pandangan orang Bugis Makassar, orang yang mate siri’-nya adalah orang yang di dalam dirinya sudah tidak ada rasa malu sedikit pun. Orang seperti ini diapakan juga tidak akan pernah merasa malu.

Artikel Terkait