Sejarah Kutang atau Bra

 Sejarah Kutang atau Bra

kitapastibisa.id – Sejarah Kutang atau Bra

Di Indonesia, bra dikenal dengan nama BH. Mungkin sampai sekarang, hanya sedikit yang tahu kepanjangan dari BH adalah singkatan dari “Buste Hounder” (bahasa Belanda) yang berarti pemegang susu/payudara. Beberapa orang Indonesia kini menyebutnya Bra, yang diambil dari kata “Brassiere” (bahasa Perancis). Meski secara tradisional, orang-orang Indonesia generasi lama banyak menyebutnya “kutang”. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kutang dimaknai sebagai pakaian dalam wanita untuk menutupi payudara atau baju tanpa lengan.

Pada awal abad ke-19, menutup dada belum jadi kelaziman di Indonesia. Di daerah Jawa masih banyak penduduk (wanita) yang bertelanjang dada. Mereka hanya memakai penutup di bagian bawah. Bahasa Jawanya ngligo, dan ini sebetulnya hal yang biasa di desa-desa dan kota. Kebiasaan mengenakan kutang diperkenalkan Belanda. Masuk melalui perempuan-perempuan Belanda, yang ikut bersama dengan suami-suami mereka. Pakaian dalam ini kemudian ditiru oleh perempuan-perempuan Indonesia, dan mulai dikenakan dibalik kebaya atau gaun terusan ala noni Belanda.

Baca Juga: Mengolah Sampah Menjadi Manfaat

Asal Usul Sebutan “Kutang”

Pada masa penjajahan Belanda dulu, saat pengerjaan proyek pembuatan jalan Anyer-Panarukan. Banyak budak-budak  pribumi baik laki-laki maupun perempuan yang bekerja hanya mengenakan semacam cawat dan kemben. Sedangkan bagian atas tubuh, mulai dari pusar hingga ke leher, telanjang. Mandor yang bertugas di tempat saat itu, Don Lopez comte de Paris kaki tangan Daendels yang berkebangsaan Prancis merasa risih melihat keadaan ini. Ahirnya, ia memotong-motong suatu kain putih dan memberikannya kepada salah satu budak perempuan. Sambil memberikan kain tersebut pada si budak, dia mengatakan,”Tutup bagian berharga itu”. Don Lopez berbicara dalam bahasa Prancis ketika mengatakan hal itu. Dalam bahasa Prancis, berharga adalah coutant.

Budak perempuan itu tidak mengerti mengapa ia diberi kain putih, karena perempuan bertelanjang dada adalah hal yang biasa pada masa itu. Don Lopez yang merasa jengkel, lalu menunjuk-nunjuk payudara budak tersebut sambil terus-menerus mengatakan “Coutant! Coutant!”. Budak-budak pribumi yang melihat keadaan tersebut ahirnya mengerti bahwa kain putih itu dimaksudkan untuk menutup payudara wanita. Dan dalam pemahaman mereka, kain putih yang dipakai untuk menutup payudara itu namanya adalah coutant. Atau, dalam ejaan Indonesia, kutang.

Tren Fahion Kala Itu

Tren fashion kemudian bergeser dari gaya yang dianggap modern saat itu adalah gaya busana perempuan yang dibuat praktis tanpa menggunakan banyak bahan dan membuat perempuan lebih mudah bergerak. Pergeseran tren ini diikuti kian aktifnya perempuan di berbagai lapangan pekerjaan. Perempuan yang mengikuti fashion, yang dianggap mencerminkan pemberontakan itu, kemudian lazim disebut flapper.

Bra dengan bentuk modern ini kemudian mulai diproduksi secara massal pada 1920-an. Tapi produksi masal itu belum memperhatikan ukuran individual masing-masing perempuan. Barulah pada 1922 perempuan bisa mengenakan bra dengan lebih nyaman ketika Ida dan William Rosenthal merevolusi bentuk bra. Mereka menciptakan ukuran baku bra yang terdiri dari lingkar linear rusuk dan ukuran volume dada dengan menggunakan abjad (A, B, C, D, dan seterusnya). Ukuran A sama dengan delapan ons cairan, sementara B setara dengan 13 ons, dan C sama dengan 21, dan seterusnya. Ida dan William kemudian mendirikan perusahaan bra Maidenform yang beroleh kesuksesan luar biasa dan menjadikan pasangan Rosenthal jutawan. Maidenform masih berdiri hingga sekarang.

Baca Juga  Obat Alternatif Kanker Yang Dikembangkan SMAN 2 Palangkaraya

Artikel Terkait

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *