Sejarah Jam Gadang, Kota Bukit Tinggi

 Sejarah Jam Gadang, Kota Bukit Tinggi

kitapastibisa.id – Sejarah Jam Gadang, Kota Bukit Tinggi

Jam Gadang –  Sumatera Barat merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki banyak tempat wisata, salah satunya di Kota Bukittinggi. Terlebih Kota Bukittinggi menjadi spot wisata andalan Indonesia yang dikenal hingga seluruh dunia. Bila pergi ke Bukittinggi, maka belum sah rasanya jika tidak mengunjungi Jam Gadang.

Jam Gadang didirikan oleh Pemerintah Hindia-Belanda atas perintah dari Ratu Wilhelmina dari Belanda. Jam ini merupakan hadiah bagi sekretaris (controleur) Kota Bukittinggi (Fort de Kock) yang menjabat saat itu yakni HR Rookmaaker.

Sebutan ‘Gadang’ sendiri diambil dari bahasa Minangkabau yang memiliki arti ‘besar’. Sehingga Jam Gadang adalah menara tinggi besar dengan wujud atap seperti rumah khas Minang.

Fakta Terkait Berdirinya Jam Gadang

Jam Gadang memiliki kemiripan dengan bangunan jam yang ada di London, yakni Big Ben. Bukan hanya itu saja,mesin penggerak Jam Gadang sama dengan Big Ben karena dibuat oleh orang yang sama. Brixlion merupakan sebutan untuk mesin penggerak manual yang dibuat oleh seorang bangsawan ternama pada saat itu, yakni Forman.

Baca Juga  Tradisi Berburu Paus Di Pulau Lembata NTT

Bandul Jam Sempat Patah pada Tahun 2007, saat Indonesia mengalami bencana gempa bumi yang mengguncang Sumatera Barat cukup hebat. Gempa yang berkekuatan 5,8 hingga 6,4 skala richter ini bahkan getarannya terasa hingga negara Singapura dan Malaysia.

Bangunan yang berdiri kokoh ini memiliki luas alas 13×4 meter dan tinggi 26 meter, namun faktanya bangunan ini dibuat tanpa rangka besi dan semen. Karena pembangunan Jam ini menggunakan campuran putih telur, pasir putih, dan kapur. Tentu saja hal itu menjadi salah satu bukti kehebatan dari teknik pembangunan zaman dulu.

Angka 4 pada bilangan Romawi biasa dituliskan dengan IV. Tapi coba perhatikan Jam Gadang Bukittingi, angka 4 ditulis dengan IIII. Beberapa sejarah menyebutkan penulisan ini diatur oleh pemerintahan Belanda yang kala itu menduduki Bukittingi.

Simbol IV diartikan sebagai I Victory, mengundang kecemasan Belanda akan menumbuhkan semangat perlawanan dari rakyat setempat pada mereka. Namun sejarah ini belum diakui kebenarannya, mengingat ada satu lagi jam yang menggunakan angka IIII bukan IV.

Baca Juga  Budaya Mengenakan Kebaya di Indonesia

Sejak dibangun pada tahun 1926, Jam ini sudah mengalami tiga kali pergantian bentuk atap. Awalnya atap berbentuk bulat dan terdapat patung ayam jantan di atasnya yang menghadap ke Timur.

Renovasi pertama dilakukan saat masa pendudukan Jepang, atap pada Jam dibuat menyerupai pagoda. Lalu segera diubah selepas Indonesia merdeka, menjadi seperti atap Rumah Gadang sesuai adat Minangkabau. Kemudian renovasi terakhir baru dilakukan padfa tahun 2010 oleh Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI).

Artikel Terkait

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *