Samsul, Kuli Bangunan yang Sukses Rintis Warung Kopi

 Samsul, Kuli Bangunan yang Sukses Rintis Warung Kopi

Kitapastibisa.id – Samsul, Kuli Bangunan yang Sukses Rintis Warung Kopi – Kompas

Samsul, Kuli Bangunan yang Sukses Rintis Warung Kopi – Tidak ada yang tidak mungkin jika doa dan kerja keras sudah bersinergi. Samsul (30), pria asal Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan, ini telah membuktikannya. Sempat menjadi kuli bangunan, kini Samsul menggantungkan hidupnya dari bisnis warung kopinya.

Bayangkan, dari bisnisnya itu ia berhasil lepas dari lembah kemiskinan. Buktinya? Pria yang akrab dengan panggilan Sem ini mampu membeli rumah, membeli emas, membeli motor, membiayai sekolah adik. Bahkan, ia mampu membantu biaya pernikahan saudara.

Sebuah perjalanan hidup yang begitu inspiratif. Seorang kuli bangunan yang mampu meramu warung kopi yang sukses. Lantas, bagaimana kisah Sem merajut bisnisnya?

Kerja Keras Sejak Kecil

Hidup Sem berubah kala ia kehilangan ayahnya. Setelah ia menjadi yatim, hidup Sem menjadi semakin berat. Ia harus bekerja keras demi menyambung hidup. Bukan hidupnya sendiri, namun juga hidup ibunya.

Sejak duduk di Sekolah dasar, Sem sudah bekerja. Ia berjualan es lilin sembari bersekolah. Sepulang sekolah, Sem lanjut mengadu nasib menjadi seorang kuli bangunan. Bahkan upahnya pun tidak seberapa.

Baca Juga  Beton Daur Ulang Ramah Lingkungan Karya Anak Bangsa

“Jadi kalau ke sekolah jual es lilin punya orang, biasanya dapat upah Rp 1000. Ketika pulang sekolah lanjut kerja bangunan,” kata Sem, mengutip dari kompas, Jumat (11/9/2020).

Meski sudah bekerja keras, Sem masih tidak mampu untuk membayar biaya masuk SMP. Akhirnya, ia pulang ke tempat ibunya di Dusun Subur, Kecamatan Bontoharu, Selayar. Ia hidup bersama ibu dan kedua adiknya yang masih kecil. Saat itu, Sem masih berumur 16 tahun.

Kehidupan Sem mulai berubah kala ia mendapatkan kesempatan untuk bekerja dengan orang Perancis. Ia mendapat tawaran untuk menjadi asisten pribadi seorang pengusaha yang bergerak dalam bidang minyak kemiri.

Dari pekerjaan tersebut, Sem mulai bisa menabung. Namun, cobaan berikutnya datang. Ibu Sem sakit, hingga ia harus menjalani operasi. Meski biaya pengobatan masih menggunakan BPJS, namun Sem harus membayar biaya obatnya.

Dari kejadian tersebut, Sem harus berhenti bekerja lantaran mengurus sang ibu. Ia kembali menganggur. Namun, Sem tidak kehabisan akal. Ia mencoba merintis bisnis sablon pakaian. Bahkan, ia mendapat pekerjaan sebagai supervisor pada Warkop Ramlanis Selayar. Dari sana, Sem mendapatkan ilmu yang sangat berharga.

Baca Juga  Mengenal Lasiyo, Sang Profesor Pisang Dari Yogyakarta

Baca Juga: Prayogo Pangestu Quddus, Pencetus Ramen Instan Ala Garut

Bisnis Warkop: Diterjang Kegagalan Berkali-kali

Samsul, Kuli Bangunan yang Sukses Rintis Warung Kopi
Kitapastibisa.id – Samsul, Kuli Bangunan yang Sukses Rintis Warung Kopi – Tribun

Beberapa tahun bekerja menjadi seorang supervisor, Sem memutuskan untuk berhenti. Ia kemudian menyewa Warkop bernama Passiana dan mencoba usaha warkopnya sendiri. Kala itu, Sem hanya punya uang 500 ribu saja untuk beli kopi.

Kondisinya dan kondisi warkopnya sama-sama terpuruk. Untuk menyambung bisnisnya, ia harus menjual motornya dengan harga 5 juta. Uang tersebut ia gunakan untuk memoles warkopnya dan membeli motor dengan cicilan 1 juta perbulan.

“Saya harus merelakan motor dengan harga Rp 5 juta. Uang itu digunakan beli kursi dan DP motor yang cicilannya Rp 1 juta per bulan,” kata Sem.

Keputusan itu membuat hidup Sem semakin berat. Untuk mengimbangi pengeluaran, ia harus berjualan kosmetik secara online. Kuat bertahan dalam gempuran cobaan bisnis, Sem akhirnya mulai bisa bernapas lega. Pendapatannya mulai stabil, baik dari warung kopinya dan bisnis online-nya.

Mulai stabil, Sem akhirnya membuka warkop Sem Coffee Shop yang bertengger pada Jl Rauf Rahman, Kecamatan Benteng. Usahanya itu berbuah manis. Sem mampu membeli tanah dan membangunkan ibunya sebuah rumah.

Baca Juga  Dissa Syakina Ahdanisa Meberdayakan Tuna Rungu

Namun, kebahagiaan itu tak berjalan lama. Sem menjadi salah satu korban pandemi Corona. Warkopnya sepi hingga akhirnya ia kehabisan uang.

“Selama corona, saya kehabisan uang dan harus bayar lampu, WiFi serta makanan sehari -hari. Memang saat itu tidak ada pemasukan untung ada keuntungan dari bisnis online. Namun tetap saja tidak mencukupi akhirnya menggadaikan emas 10 gram,” ungkapnya.

Lagi-lagi, bisnis online menyelamatkan Sem. Setelah menggadaikan emas dan melakoni bisnis kosmetiknya, Sem mampu bangkit. Bulan Juli 2020, Sem membuka kembali warungnya dan menambah menu baru. Alhasil, warung kembali ramai.

Baginya, melakoni bisnis memang tidak mudah. Namun dari sana, ia berhasil menunjukkan bahwa kerja kerasnya berbuah manis. Tidak untuk Sem sendiri, namun juga orang lain. Buktinya, ibunya dapat hidup layak. Bahkan, ia mampu membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain.

Artikel Terkait