Riza Marlon Sang Pionir Fotografi Satwa Liar Indonesia

 Riza Marlon Sang Pionir Fotografi Satwa Liar Indonesia

Kitapastibisa.id – Berburu dengan Foto: Riza Marlon Sang Pionir Fotografi Satwa Liar Indonesia – Twitter: Kickandyshow

Riza Marlon Sang Pionir Fotografi Satwa Liar Indonesia – “Di Wildlife Photography itu enggak harus hanya suka. Saya sebagai pionir itu harus gila. Gila itu penting,” ucap Riza Marlon, fotografer satwa liar Indonesia.

Degup jantung berpacu senada dengan langkah kakinya. Perlahan membelah hutan belantara, menelusuri jejak pusaka satwa Indonesia. Matanya berkelana kian kemari menjelajahi setiap sudut semesta. Indranya selalu awas pada tindak-tanduk hewan buruannya. Berbekal senjata andalannya, ia mampu menambah khazanah fotografi Indonesia.

Layaknya seorang pemburu, Ia keluar masuk hutan mengejar buruannya. Bukan berbekal senapan atau busur dan panah, melainkan dengan memanggul peralatan foto yang beratnya melebihi senapan angin itu. Riza Marlon, seorang fotografer satwa liar yang berburu dengan kameranya.

Menjadi seorang fotografer satwa liar bukanlah hal yang enteng. Riza perlu menjadi orang gila untuk berhasil di sana. Kegilaannya itu justru membuatnya memahami seluk-beluk fotografi satwa liar. Objek buruanya bukanlah seorang model yang bisa diatur waktu dan tempatnya, melainkan hewan liar yang selalu dihantui ketidakpastian. Ia membutuhkan riset dan penelitian sebelum bertemu ‘kliennya’.

“Binatang itu enggak bisa kita direct, enggak bisa kita atur. Itu salah satu kesulitannya. Tidak seperti motret orang, kita bisa suruh dia bergaya,” ungkap sang maestro, dikutip dari narasi.tv, dalam dokumenter bertajuk Fotografi Satwa Liar.

Baca Juga  Riwayat Saad bin Abi Waqqash: Doa yang Semanjur Panahnya

Tidak hanya hewan buruannya yang menantang, medan yang ia tempuh pun sukar dijalani. Berminggu-minggu, bahkan bulan, ia berada di habitat hewan buruannya untuk mendapatkan hasil yang optimal. Bahkan, pulang dengan tangan kosong pun tak luput dari pilihan. Jika materi yang ia kejar, maka ia tak akan menyandang sebagai seorang pionir.

“Kalau saya orientasinya materi, itu pasti dari awal sudah gugur. Karena wildlife photography selain peralatannya mahal, katanya, perjalanannya mahal, binatangnya juga banyak,” jelas Riza.

Baca Juga: Nurain Lapolo Pelindung Mangrove Gorontalo

Berburu dari Sabang hingga Merauke

Berburu dengan Foto: Riza Marlon Sang Pionir Fotografi Satwa Liar Indonesia
Kitapastibisa.id – Berburu dengan Foto: Riza Marlon Sang Pionir Fotografi Satwa Liar Indonesia – Thejakartapost

Riza merupakan salah satu dari fotografer Indonesia yang mengabadikan burung endemik khas Indonesia Timur, yakni Cenderawasih. ‘Berburu’ burung mutiara hitam itu merupakan pengalaman tersulit baginya. Alam Papua yang sulit dijangkau serta informasi yang minim soal cenderawasih kala itu membuat Riza kesulitan.

“Medan yang paling berat adalah wilayah atau kawasan Indonesia bagian Timur. Karena topografi alam dan tidak banyak informasi dan akses menuju kesana. Contohnya seperti memotret cendrawasih,” ungkap Riza, dilansir dari mongabay, (16/05) 2020.

Baca Juga  Menanam Benih Toleransi Bersama SabangMerauke

Dari seluruh medan yang ia tempuh, Indonesia Timur-lah yang paling menantang. Perjalanannya itu direkam dalam buku pertamanya yang berjudul Living Treasure of Indonesia yang terbit pada tahun 2011. Baginya, foto yang tersemat dalam buku itu bukanlah sekadar foto, melainkan pesan konservasi alam pada khalayak umum.

“Itu kan intinya konservasi. Masalahnya sekarang kan, masyarakat belum kenal terus gimana mereka mau peduli? Saya tidak menyelamatkan harimau, atau satwa-satwa lainnya. itu tugas orang lain. Tugas saya adalah membangun rasa kepedulian, memperkenalkan satwa Indonesia ke publik,” ungkapnya.

Ia merasa prihatin dengan kondisi alam yang kian lesu. Banyak dari habitat hewan yang dulu ia sambangi mulai tergerus. Begitu pula dengan satwa yang semakin banyak diburu. Riza dengan fotografinya hendak menjaga warisan budaya Indonesia melalui karyanya.

Pesan dari Sang Maestro: Peralatan Bukanlah yang Termahal

“Saya sering bilang ‘1000 Riza Marlon kurang untuk mendokumentasikan seluruh Indonesia’, artinya masih banyak banget hal yang bisa digarap untuk bikin buku dan harusnya makin banyak yang menggeluti ini,” kata Riza.

Meski tak bisa ditampik harga dari peralatan fotografi membutuhkan modal yang besar, namun menurut Riza peralatan bukanlah yang termahal dari seorang fotografer satwa liar. Untuk mengabadikan hewan buruannya dalam foto, Riza harus belajar dari orang yang mengetahui seluk beluk satwa tersebut. Ia tak lain adalah pemburu.

Baca Juga  Welin Kusuma 32 Kali Menjadi Sarjana Karena Hobi

“Lensa, kamera, dan perlengkapan lain bisa dibeli. Teknik fotografi bisa dilatih. Tapi kalau kita enggak ketemu ahlinya, kita cuma mikul kamera di hutan aja,” tutur pria itu.

Riset dan penelitian akan satwa yang hendak difoto adalah penting. Sebagai lulusan Fakultas Biologi Universitas Nasional ini, pengetahuannya mengenai fauna mendukung profesinya sebagai fotografer satwa liar. Namun, ilmunya tidak seberapa dibandingkan dengan ahli lapangan, yakni pemburu, atau yang disebut local expert.

Menurut Riza, prestasi butuh modal. Bukan hanya modal semangat, tapi butuh uang. Seorang pemimpi harus berani membayar untuk meraih mimpinya sendiri. Bagi sang pionir fotografi satwa liar, tak ada kata mahal dalam berkorban untuk mimpi.

“Di Indonesia kan harus ngebuktiin dulu pakai uang sendiri. Jadi kalau ada yang ngeluh mahal, menurut saya itu cengeng karena gak mau berkorban untuk mimpinya,” jelas Riza.

Artikel Terkait

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *