Riwayat Saad bin Abi Waqqash: Doa yang Semanjur Panahnya

 Riwayat Saad bin Abi Waqqash: Doa yang Semanjur Panahnya

Kitapastibisa.id – Riwayat Saad bin Abi Waqqash: Doa yang Semanjur Panahnya – Sindo

Riwayat Saad bin Abi Waqqash: Doa yang Semanjur Panahnya – Saad bin Abi Waqqas adalah paman Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Ia adalah orang ketiga yang memeluk agama Islam dan orang pertama yang melepaskan panah kala berjihad untuk Islam. Begitulah Saad bin Abi Waqqash memperkenalkan diri.

Saad merupakan sahabat Nabi yang luar biasa. Ia memiliki banyak sekali nilai-nilai baik yang melekat padanya. Bukan hanya satu atau dua, namun banyak. Mulai dari keimanannya yang sangat tangguh hingga kepiawaiannya dalam berperang.

Saad bin Abi Waqqash adalah putra Wuhaib bin Abdi Manaf yang mana keturunan bangsawan dalam Bani Zahrah. Ia merupakan anak yang berbakti kepada orang tua dan merupakan sosok yang sangat pemberani. Kepiawaiannya dalam hal memanah menjadi salah satu ciri khas sahabat Nabi satu ini.

Saking piawainya dalam memanah, bidikan Saad tak pernah meleset. Persis dengan ketajamannya dalam memanah, doa Saad sangat manjur. Nabi shallallahu alaihi wa sallam bahkan mendoakan Saad agar doanya selalu terkabul.

Baca Juga  Nanda Mei Sholihah, Atlet Difabel Yang Kaya Prestasi

Saad meninggal ketika memasuki umur 80. Kala itu, ia sedang dalam keadaan sakit. Ia berpesan kepada sahabatnya agar ia mengenakan kain kafan berupa jubah yang ia gunakan saat perang badar. Kemudian, Saad menghembuskan napas terakhirnya. Sahabat menguburkannya di pemakaman Baqi sebagai makam para syuhada.

Baca Juga: Tips Konsumsi Makanan Agar Tubuh Lebih Sehat

Awal Saad bin Abi Waqqash Masuk Islam

Proses keislaman Saad bin Abi Waqqash tergolong cepat. Tak ayal, beliau sudah mengenal baginda Nabi sejak lama. Saad mengetahui sifat terpuji Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Namun, meski cepat, keislaman Saad bukanlah tergolong muda.

Saad bin Abi Waqqash merupakan anak yang sangat berbakti kepada orang tuanya. Khususnya ibunya. Hamnah binti Sufyan bin Abu Umayyah, ibu Saad, merupakan perempuan keturunan bangsawan Quraisy yang cantik nan anggun. Namun, ibu Saad begitu setia kepada ajaran nenek moyang mereka.

Ketika mendengar kabar adanya utusan dari Allah yang hendak menyempurnakan akhlak manusia, hati Saad terketuk. Abu Bakar as Siddiq radhiyallahu anhu merupakan orang yang mengajak Saad untuk menyembah Allah. Kemudian, ia langsung bertemu Rasulullah dan mengucapkan kalimat syahadat.

Baca Juga  Desainer Indonesia di New York Fashion Week 2020

Saad masuk Islam ketika berumur 17 tahun. Mendengar kabar tersebut, ibunya begitu marah. Bahkan, Hamnah binti Sufyan mengancam tidak akan makan dan minum kecuali Saad meninggalkan agama barunya.

“Demi Allah, aku tidak akan meninggalkan agamaku!” tegas Saad.

Mendengar hal tersebut keluar dari anak kesayangannya, Hamnah semakin kesal. Ia terus melanjutkan aksi mogok makannya dengan harapan hati Saad akan luluh. Namun, Saad tidak juga berubah pikiran.

“Wahai Ibunda, demi Allah, seandainya engkau memiliki 70 nyawa dan keluar satu per satu, aku tidak akan pernah mau meninggalkan agamaku selamanya!” tegasnya.

Kisah masuknya Saad bin Abi Waqqash terekam dalam Alquran. Dalam surat Al-Luqman ayat 15, Allah berfirman,

“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”

Baca Juga  Bercanda Menurut Koridor Ajaran Islam

Doa yang Semanjur Bidikan Panahnya

Saad bin Abi Waqqash terkenal dengan kepiawaiannya dalam berperang. Selain karena keberanian dan keteguhan imannya, Saad sangat pandai dalam memanah. Kemampuannya bahkan menuai pujian dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

Pertama, Ia merupakan orang yang selalu pergi berperang bersama Rasulullah. Kala bertempur bersama Nabi dalam perang Uhud, Nabi berkata kepada Saad,

“Panahlah, wahai Sa’ad! Ayah dan ibuku menjadi jaminan bagimu.”

Kedua, tak hanya bidikannya, yang manjur. Namun, doanya selalu terkabul. Hal ini terbukti kala Ia marah kepada Usamah. Saat itu, Usamah telah menyebarkan berita bohong tentang Saad. Mendengar hal tersebut, Saad begitu marah seraya berdoa.

Dalam doanya, ia meminta kepada Allah agar memanjangkan umur Usamah yang dusta, riya’, atau sum’ah agar dapat hidup dengan dengan kefakirannya dan diberi cobaan.

Artikel Terkait