Ritual Sepak Bola di Kamp Pengasingan Digul, Papua

 Ritual Sepak Bola di Kamp Pengasingan Digul, Papua

kitapastibisa,id – Ritual Sepak Bola di Kamp Pengasingan Digul, Papua – Insider Media

“Sepak bola ini tak biasa. Para pemain bukanlah atlet, melainkan tokoh politik dan aktor cendekia. Menyepak bola bukan sekadar untuk melepas penat dan olahraga. Namun, ada semangat perjuangan dan persahabatan yang hendak dijaga.”

Suparno, penggawa muda asal kesebelasan Sport of Health (SH), berlari kencang menunju gawang lawan. Bung Hatta, bek andal senior dari kesebelasan 1935 menghadang. Gesit dan lincah, Bung Hatta tak mampu mengimbanginya. Lolos dari terkaman tokoh pergerakan nasional itu, Suparno masuk ke belakang garis pertahanan kesebelasan 1935. Dengan ancang-ancang yang kokoh, satu tendangan keras dari Suparno mampu membobol gawang yang dijaga Murwoto. Skor 1-0 untuk kesebelasan SH.

Ini bukanlah cuplikan pertandingan imajiner atau bahkan pertandingan rekayasa yang bebas diramu dalam gim konsol sepak bola populer tahun 2000-an. Ini adalah kisah nyata pertandingan tokoh perjuangan kemerdekaan Indonesia kala dibuang ke Boven Digul, Papua, tempat pengasingan yang dibuat oleh Kolonial Belanda. Kisah di atas adalah pertandingan persahabatan yang dilakukan saat menyambut rombongan tahun 1935, termasuk di dalamnya terdapat Sutan Syahrir dan Bung Hatta.

“Seminggu setelah kami tiba, sebagai pendatang baru kami menerima penghormatan dari teman-teman penghuni lama dengan mengadakan pertandingan persahabatan sepakbola. Kami dari PNI berjumlah tujuh orang, ditambah teman-teman dari Partindo dan PSII,” tulis Mohammad Bondan dalam Memoar Seorang Eks Digulis.

Adapun susunan pemain dari kesebelasan 1935 yakni Maskun sebagai poros, bersama gelandang kanan H. Nurdin, dan Sutan Sjahrir di posisi gelandang kiri. Dalam lini serang Muhidin Nasution menjadi ujung tombak, dikawal oleh, H. Jalaludin Thalib di sisi kanan luar, dan kiri luar oleh Datuk Singo Marajo. Pada lini pertahanan, Bondan sebagai pengapit kiri ditemani Suka sebagai pengapit kanan, Hatta sebagai bek kanan, bek kiri Burhanuddin, dan gawang dipercayakan pada Murwoto.

Baca Juga: Ekspresi Seni Melukis dengan Media Kopi

Sepak Bola Sebagai Olahraga Pemersatu Orang Buangan

Kesebelasan tokoh perjuangan nasional ini terbentuk secara spontan harus takluk dengan kesebelasan SH, yang mana merupakan klub sepak bola terkuat kala itu. Klub SH diperkuat oleh sejumlah anak muda yang lahir di Digul, antara lain Suparno dan Sendang yang kala itu masih remaja. Kalah atau menang, bukanlah persoalan dalam pertandingan sepak bola di Digul. Permainan itu memiliki makna lain dari sekadar olahraga, yakni perajut persatuan.

Baca Juga  Desainer Indonesia di New York Fashion Week 2020

Sepak bola di Digul bagaikan sebuah ritual. Pertandingan diadakan dalam rangka menyambut atau melepas tahanan. Pertandingan diatur oleh organisasi kesenian olahraga bernama Kunst, Sport en Voetbal Vereeniging Digoel (KSVD), yang dikepalai oleh Wiranta asal Bandung, kemudian digantikan oleh Sabariman. Sepak bola menjadi olahraga yang paling digandrungi di kalangan orang buangan Digul, pertandingan pun semakin sering digelar.

Sepak Bola Menurut Bondan

Di balik keriaan pertandingan sepak bola, Bondan menemukan intrik konflik. Menurutnya, pertandingan sepak bola mengungkap adanya perseteruan di dalam masyarakat buangan ini. Pernyataan Bondan dibuktikan melalui dua lapangan bola yang digunakan untuk latihan.

“Adanya dua lapangan sepak bola membuktikan bahwa dulunya pernah terjadi konflik mental politik antara kedua golongan itu. Tetapi, kami tidak membedakan dua golongan itu dalam pergaulan, tidak membenci kepada mereka yang menjadi werkwilliger meskipun kami mengambil sikap naturalist,” papar Bondan.

Masyarakat Digul terbagi menjadi beberapa kelompok, antara lain werkwillinger dan naturalist. Werkwilliger adalah istilah untuk tahanan yang loyal terhadap pemerintah yang ditunjukkan dengan kesediaannya untuk bekerja. Mereka memiliki kesempatan lebih tinggi untuk dipulangkan. Sedangkan naturalist adalah lawan dari werkwillinger, yakni mereka yang tidak mau bekerja untuk pemerintah. Gesekan sosial yang terjadi antara kedua kubu mengakar hingga pertandingan sepak bola.

Menurut pengamatan Bondan, kelompok werkwilliger memiliki lapangan sepak bola di Kampung C untuk berlatih. Sedangkan kelompok naturalist memiliki lapangan bola di Kampung B. Namun, seiring berjalannya waktu konflik mulai reda. Bondan berpendapat bahwa konflik tersebut merupakan rekayasa Belanda dengan politik adu dombanya.

Baca Juga  Sepatu Olahraga Sesuai Jenisnya

“Sepak bola ini tak biasa. Para pemain bukanlah atlet, melainkan tokoh politik dan aktor cendekia. Menyepak bola bukan sekadar untuk melepas penat dan olahraga. Namun, ada semangat perjuangan dan persahabatan yang hendak dijaga.”

Suparno Kesebelasan Sport of Health

Suparno, penggawa muda asal kesebelasan Sport of Health (SH), berlari kencang menunju gawang lawan. Bung Hatta, bek andal senior dari kesebelasan 1935 menghadang. Gesit dan lincah, Bung Hatta tak mampu mengimbanginya. Lolos dari terkaman tokoh pergerakan nasional itu, Suparno masuk ke belakang garis pertahanan kesebelasan 1935. Dengan ancang-ancang yang kokoh, satu tendangan keras dari Suparno mampu membobol gawang yang dijaga Murwoto. Skor 1-0 untuk kesebelasan SH.

Ini bukanlah cuplikan pertandingan imajiner atau bahkan pertandingan rekayasa yang bebas diramu dalam gim konsol sepak bola populer tahun 2000-an. Ini adalah kisah nyata pertandingan tokoh perjuangan kemerdekaan Indonesia kala dibuang ke Boven Digul, Papua, tempat pengasingan yang dibuat oleh Kolonial Belanda. Kisah di atas adalah pertandingan persahabatan yang dilakukan saat menyambut rombongan tahun 1935, termasuk di dalamnya terdapat Sutan Syahrir dan Bung Hatta.

“Seminggu setelah kami tiba, sebagai pendatang baru kami menerima penghormatan dari teman-teman penghuni lama dengan mengadakan pertandingan persahabatan sepakbola. Kami dari PNI berjumlah tujuh orang, ditambah teman-teman dari Partindo dan PSII,” tulis Mohammad Bondan dalam Memoar Seorang Eks Digulis.

Adapun susunan pemain dari kesebelasan 1935 yakni Maskun sebagai poros, bersama gelandang kanan H. Nurdin, dan Sutan Sjahrir di posisi gelandang kiri. Dalam lini serang Muhidin Nasution menjadi ujung tombak, dikawal oleh, H. Jalaludin Thalib di sisi kanan luar, dan kiri luar oleh Datuk Singo Marajo. Pada lini pertahanan, Bondan sebagai pengapit kiri ditemani Suka sebagai pengapit kanan, Hatta sebagai bek kanan, bek kiri Burhanuddin, dan gawang dipercayakan pada Murwoto.

Olahraga Pemersatu Orang Buangan

Kesebelasan tokoh perjuangan nasional ini terbentuk secara spontan harus takluk dengan kesebelasan SH, yang mana merupakan klub sepak bola terkuat kala itu. Klub SH diperkuat oleh sejumlah anak muda yang lahir di Digul, antara lain Suparno dan Sendang yang kala itu masih remaja. Kalah atau menang, bukanlah persoalan dalam pertandingan sepak bola di Digul. Permainan itu memiliki makna lain dari sekadar olahraga, yakni perajut persatuan.

Baca Juga  Witan Sulaeman Pemain Indonesia Yang Menembus Sepak Bola Eropa

Sepak bola di Digul bagaikan sebuah ritual. Pertandingan diadakan dalam rangka menyambut atau melepas tahanan. Pertandingan diatur oleh organisasi kesenian olahraga bernama Kunst, Sport en Voetbal Vereeniging Digoel (KSVD), yang dikepalai oleh Wiranta asal Bandung, kemudian digantikan oleh Sabariman. Sepak bola menjadi olahraga yang paling digandrungi di kalangan orang buangan Digul, pertandingan pun semakin sering digelar.

Di balik keriaan pertandingan sepak bola, Bondan menemukan intrik konflik. Menurutnya, pertandingan sepak bola mengungkap adanya perseteruan di dalam masyarakat buangan ini. Pernyataan Bondan dibuktikan melalui dua lapangan bola yang digunakan untuk latihan.

“Adanya dua lapangan sepak bola membuktikan bahwa dulunya pernah terjadi konflik mental politik antara kedua golongan itu. Tetapi, kami tidak membedakan dua golongan itu dalam pergaulan, tidak membenci kepada mereka yang menjadi werkwilliger meskipun kami mengambil sikap naturalist,” papar Bondan.

Masyarakat Digul terbagi menjadi beberapa kelompok, antara lain werkwillinger dan naturalist. Werkwilliger adalah istilah untuk tahanan yang loyal terhadap pemerintah yang ditunjukkan dengan kesediaannya untuk bekerja. Mereka memiliki kesempatan lebih tinggi untuk dipulangkan. Sedangkan naturalist adalah lawan dari werkwillinger, yakni mereka yang tidak mau bekerja untuk pemerintah. Gesekan sosial yang terjadi antara kedua kubu mengakar hingga pertandingan sepak bola.

Menurut pengamatan Bondan, kelompok werkwilliger memiliki lapangan sepak bola di Kampung C untuk berlatih. Sedangkan kelompok naturalist memiliki lapangan bola di Kampung B. Namun, seiring berjalannya waktu konflik mulai reda. Bondan berpendapat bahwa konflik tersebut merupakan rekayasa Belanda dengan politik adu dombanya.

Artikel Terkait

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *