Respon Keresahan Diah Widuretno atas Pendidikan

 Respon Keresahan Diah Widuretno atas Pendidikan

Kitapastibisa.id – Respon Keresahan Diah Widuretno atas Pendidikan – forrest digest

Respon Keresahan Diah Widuretno atas Pendidikan – Pendidikan dan pertanian mungkin secara tak langsung menjadi dua buah topik yang sangat renyah untuk terus dibahas agar menemukan sebuah sistem yang memang dibutuhkan dan kontekstual pada setiap daerah di Indonesia. Keberagaman yang menjadi nyawa bangsa ini juga menjadi penguat bahwa tanpa sistem dan pendidikan yang tepat, mustahil kesejahteraan bagi setiap orang bisa dicapai.

Keterampilan bertani, bertahan hidup dalam pemenuhan pangan merupakan sebuah syarat mutlak yang seharusnya diwarisi oleh setiap putra nusantara. Bagaimana tidak, bentang alam yang terkenal akan kesuburan tanah serta kekayaan alam baik di darat maupun di laut menjadi gagap tatkala krisis iklim dan pangan tengah mengancam dunia.

Baca Juga: Siapakah yang Wajib Menafkahi Orang Tua?

Mendirikan Sekolah Pagesangan

Respon Keresahan Diah Widuretno atas Pendidikan
Kitapastibisa.id – Respon Keresahan Diah Widuretno atas Pendidikan – mediaindonesia

Hal inilah yang kemudian dijawab oleh seorang Diah Widuretno, sang pendiri Sekolah Pagesangan sebagai respon atas keresahan tersebut. Tahun 2003 beliau pindah ke Jogja. Sejak saat itu beliau sangat tertarik dengan dunia pendidikan, terutama pendidikan kontekstual. Singkatnya di tahun 2008 beliau memberanikan diri datang Ke Dusun Winangun di Gunung Kidul. Sekolah Pagesangan bukan lembaga belajar seperti kebanyakan yang kita bayangkan, bukan juga lembaga LSM ataupun program pemerintah. Sesuai dengan namanya, Gesang yang artinya hidup, Sekolah Pagesangan adalah sekolah kehidupan. Komunitas belajar bagi siapa saja yang ingin belajar.

Baca Juga  Sofyan Adi Cahyono, Petani Organik di Lereng Merbabu

Visi sekolah yang digerakkan Diah Widuretno dan para sukarelawan ini bersifat kontekstual dan berupaya menyelesaikan permasalahan ekonomi, sosial, dan ekologi masyarakat.

Kurikulum dan model pembelajaran Sekolah Pagesangan berbeda dibandingkan dengan sekolah formal. Hal-hal yang diajarkan tidak lagi perkara membaca, menulis, dan berhitung. Anak-anak diajak menyelesaikan permasalahan mikro di sekitar mereka dengan pendekatan lokal dan dialogis.

Salah satunya dengan mengembangkan kembali budaya bertani berbasis kearifan lokal. Masyarakat lokal Dusun Winatos memiliki budaya dan etos bertani yang mumpuni. Alam Kabupaten Gunungkidul yang tandus telah mendorong intensifikasi, diversifikasi, dan kemampuan mengolah berbagai pangan lokal.

Apa yang dilakukan oleh Diah merupakan sebuah tanggapan atas realitas yang ia temukan dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimana negeri yang katanya kaya ini justru berpotensi besar untuk kehilangan jumlah petani. Hal ini dibuktikan melalui jumlah yang terus berkurang dari tahun ke tahun, serta minimnya jumlah usia produktif yang mau terjun langsung guna menggarap lahan pertanian. Pendidikan sejatinya menjadikan manusia apapun pekerjaannya menjadi sesuatu yang baik dan menyejahterakan sesama, juga keberlangsungan alam semesta.

Baca Juga  Naufal Abshar Si Pelukis Tawa Asal Indonesia

Artikel Terkait