Rasa Malas dalam Kacamata Islam dan Cara Mengatasinya

 Rasa Malas dalam Kacamata Islam dan Cara Mengatasinya

Kitapastibisa.id – Rasa Malas dalam Kacamata Islam dan Cara Mengatasinya – Aktual

Rasa Malas dalam Kacamata Islam dan Cara Mengatasinya – Dunia kian mencengkram. Tanggung jawab pekerjaan dan beban hidup kerap menghimpit manusia hingga akhirnya mereka lupa pada Sang Pencipta. Mereka terlena dengan nikmatnya berjibaku dengan perkara fana.

Berdalih tidak punya waktu, mereka meninggalkan salat. Atau minimal, menggeser waktu salat lantaran ada pekerjaan yang mengejarnya. Dalam sebagian kasus, hal ini terbilang wajar. Namun, jika terus menerus seperti itu, lambat laun perasaan malas bercokol dalam diri.

Dalam Islam, perasaan malas adalah hal yang wajar. Sifat malas atau futur merupakan sebuah kondisi saat iman menurun hingga malas beribadah. Dalam sebuah hadis dari Mujahid, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, ia berkata,

“Akan tetapi aku tidur dan aku shalat malam. Aku pun puasa, namun ada waktu bagiku untuk tidak berpuasa. Siapa yang mencontohiku, maka ia termasuk golonganku. Siapa yang benci terhadap ajaranku, maka ia bukan termasuk golonganku. Setiap amal itu ada masa semangat dan ada masa malasnya. Siapa yang rasa malasnya malah menjerumuskan pada bid’ah, maka ia sungguh telah sesat. Namun siapa yang rasa malasnya masih di atas ajaran Rasul, maka dialah yang mendapat petunjuk.” (HR. Ahmad 5: 409).

Baca Juga  Film Terbaru Park Shin Hye The Call Tayang Di Netflix

Rasa malas merupakan hal yang wajar. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam meminta umatnya agar tidak berlebihan dalam beribadah agar rasa malas tersebut tidak membinasakan mereka.

Baca Juga: Hukum Giat Beribadah Namun Malas Bekerja

Malas yang Membinasakan dan Malas Orang Munafik

Dalam surat An-Nisa ayat 12, Allah menyebut bentuk malas yang sangat berbahaya,

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah azza wa jalla kecuali sedikit sekali.”

Sifat malas tersebut kemudian perlu diwaspadai. Oleh karenanya, terdapat doa dari Nabi agar terlepas dari sifat malas. Dalam kitab Riyadhus Shalihin hadis 1479 Zaid bin Arqam radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengucapkan,

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, kemalasan, kekikiran, ketuaan—kepikunan–, dan siksa kubur. Ya Allah, datangkanlah pada jiwaku ini ketakwaannya dan bersihkanlah ia. Engkaulah sebaik-baik yang dapat membersihkannya, Engkaulah Pelindungnya dan Rabbnya. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyuk, nafsu yang tidak pernah puas, dan doa yang tidak dikabulkan.” [HR. Muslim, no. 2722].

Baca Juga  Wanita Karier, Why Not?

Artikel Terkait