Princen, Serdadu Belanda yang Jadi Pahlawan Indonesia

 Princen, Serdadu Belanda yang Jadi Pahlawan Indonesia

kitapastibisa.id – Princen, Serdadu Belanda yang Jadi Pahlawan Indonesia – Tirto ID

Princen, Serdadu Belanda yang Jadi Pahlawan Indonesia – “Kami masuk ke ruangan dan melihat terbaring seorang perempuan bersimbah darah. Ini adalah cewek yang baru saja aku kencani,” aku Poncke dalam autobiografinya, Kemerdekaan Memilih.

Princen berang betul melihat Asmuna, perempuan asal Bogor yang tidak lain kekasihnya, tewas diberondong peluru oleh kawan-kawan serdadu Belandanya. Hatinya remuk tak hanya karena pacarnya baru saja dibunuh karena alasan sepele, tetapi karena muak dengan sikap kawannya. Ia siap merobek tirai kesabarannya lantaran jengah dengan sikap kawan-kawannya terhadap kaum pribumi.

Asmuna, gadis geulis–cantik–kekasih Princen tak punya salah. Kala itu, ia hanya ingin bertemu kekasihnya, Princen, yang sedang bertugas di markasnya. Alih-alih diantarkan ke Princen, serdadu Belanda justru menggoda dan melecehkan Asmuna. Tak terima dinodai, Asmuna melawan. Perlawanan gadis Bogor itu menjadi akhir kisah cinta Princen dan Asmuna. Serdadu Belanda itu kemudian memberondong Asmuna.

“Ketika terdengar tembakan, aku langsung berlari ke depan sambil membawa sten. Betapa terkejut dan marahnya aku ketika melihat Asmuna terbaring di ruangan jaga dengan tubuh penuh dengan lubang peluru dan bersimbah darah,” kenang Princen, serdadu Belanda yang kemudian membelot ke TNI tersebut.

Princen adalah pria yang sedari muda senang dengan keadilan. Baginya, penderitaan orang lain adalah siksaan untuk dirinya. Ia terjebak menjadi serdadu Belanda lantaran harus memenuhi panggilan negara, yakni wajib militer. Ia sadar bahwa tempat ia bekerja kala itu penuh dengan praktik kotor yang menguntungkan kaum elit politik Belanda. Ia pernah mangkir dari tugas negara lantaran jijik dengan tugas yang ia emban.

Baca Juga  Johannes Leimena Menteri Kesehatan Yang Menjadi Pahlawan Nasional

Terbunuhnya Asmuna bukan satu-satunya asalan ia membelot. Alasan terbesarnya adalah ketidakadilan yang terus menghantuinya sebagai seorang serdadu Belanda.

Baca Juga: Guilt Trip, Tanda Hubungan Asmara Tak Sehat

Menjadi Penggawa yang ‘Menyusahkan’ Belanda

“Sebagai komandan Pasukan Istimewa, aku harus melengkapi para prajuritku yang sebagian masih menggunakan golok, klewang dan senapan tua,”ujar Princen.

Tiga tahun setelah berkhianat, Princen memandu penyerangan pada pos Hardjasari, pabrik teh dan karet yang menyimpan sejumlah persenjataan. Pada tanggal 17 Juni tahun 1949, aksi penyerangan dimulai.

Sebelum memasuki pos, Princen menempatkan masing-masing dua peleton di sebelah barat pabrik dan satu peleton di jalur yang mengarah ke pos militer Belanda di Stasiun Lampegan. Ia bersama dua orang dengan senapan otomatis masuk dengan cara memanjat pagar.

“Inspeksi pasukan! Aku dari dinas keamanan dalam negeri, demi ketertiban semua penjaga harus berkumpul di sini,” teriak pria yang akrab disapa Poncke itu.

Pasukan penjaga yang merupakan pasukan Tionghoa bentukan Belanda, tidak menyadari bahwa Poncke bukanlah serdadu Belanda asli. Poncke dan dua orang pasukannya berhasil masuk dan menggiring seluruh penjaga ke sebuah lapangan luas di dalam pabrik tersebut. Merasa curiga dengan tingkah aneh serdadu Belanda satu ini, salah seorang penjaga akhirnya melakukan perlawanan. Salah seorang pasukan Poncke, Qadim, dikeroyok penjaga.

Baca Juga  Rohana Kudus, Jurnalis Perempuan Dengan Gelar Pahlawan

Melihat kerusuhan itu, pemilik pabrik yang berhasil sembunyi akhirnya melarikan diri dengan sepeda motor. Berhasil lolos, pemilik pabrik melaporkan aksi penyerangan itu kepada pos militer Belanda di Stasiun Lampegan. Serdadu Belanda dengan persenjataan penuh langsung meluncur ke Hardjasari. Aksi tembak-tembakan tak bisa dihindari antara serdadu Belanda  dengan pasukan yang sudah disiapkan Poncke untuk mencegah mereka.

Situasi di dalam pabrik genting kala senjata pasukan Poncke berhasil dilucuti oleh pasukan penjaga. Princen mengambil langkah ekstrem dengan menghujani para penjaga dengan senapan otomatisnya. Qadim dan rekannya menggunakan tubuh penjaga pos Hardjasari sebagai perisai dari peluru yang berterbangan. Atas aksinya itu, mereka berhasil kabur membawa beberapa pucuk senjata serta tiga orang tawanan.

Atas aksi penyerangan tersebut, Belanda semakin berang. Geliat Poncke sebagai pembelot kian menyusahkan militer Belanda.

Princen Menolak Diberi Gelar Pahlawan

Pada tahun 1949, Presiden Sukarno telah memberikan gelar Bintang Gerilya sebagai penghormatan atas kiprahnya di dunia militer Indonesia. Atas gelar tersebut, Princen berhak untuk dimakamkan di “tempat yang terhormat”, yakni Taman Makam Pahlawan Kalibata. Tapi ideologi Poncke menolaknya sedari awal. Bahkan saat itu, ia masih melontarkan kalimat satir.

“Papah pernah bilang ingin dimakamkan sebagai orang biasa saja dan tidak di TMP Kalibata yang dia bilang banyak koruptornya,” ungkap Wilanda Princen melansir dari historia.id.

  1. B. Mangunwijaya alias Romo Mangun mengatakan bahwa Princen adalah sosok Belanda nekat yang membela ketertindasan pribumi oleh bangsanya sendiri. Ia berjuang atas nama kemanusiaan meski ia harus menentang negaranya sendiri. Menurut Romo Mangun, Princen adalah orang yang setia pada kemanusiaan dan rakyat tertindas
Baca Juga  Kisah Inspiratif Presiden Indonesia Bacharuddin Jusuf Habibie

“Aku pernah menjadi bagian suatu negara yang ditindas oleh para fasis Jerman, apakah aku harus berlaku sama seperti para penindas itu kala berhadapan dengan orang-orang Indonesia yang ingin merdeka?” ungkap Poncke.

Sejak ia secara resmi berpihak pada Indonesia pada tahun 1948, ia melakukan banyak aksi yang menyulitkan Belanda. Ia bersusah payah membiasakan diri sebagai seorang pribumi yang tertindas. Poncke ingat betul saat ia melakukan long march dari Yogyakarta ke Jawa Barat bersama Batalyon Kala Hitam Divisi Siliwangi, serta sejumlah anak-anak dan perempuan, mereka dihujani peluru dan bom oleh pesawat Belanda. Ia menyaksikan penderitaan dan kengerian serangan Belanda dalam kejadian itu.

“Omong kosong, kalau itu semua tidak membuatku semakin terikat dalam satu nasib dan satu penderitaan dengan mereka!” ujarnya.

Princen bukan orang Indonesia, namun ia begitu mencintai masyarakat Indonesia. Patutlah sebagai generasi muda meneladani sikap Princen dan keteguhannya dalam mencintai kemanusiaan serta ketidakadilan.

Artikel Terkait

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *