Perbedaan Figur Publik, Sosialita, dan Influencer

 Perbedaan Figur Publik, Sosialita, dan Influencer

Kitapastibisa.id – Perbedaan Figur Publik, Sosialita, dan Influencer – Usweekly

Perbedaan Figur Publik, Sosialita, dan Influencer – Figur publik atau juga disebut tokoh masyarakat merupakan sosok yang memiliki pengaruh bagi masyarakat luas. Banyak aspek yang menjadikan seseorang menjadi seorang figur publik, mulai dari intelektualitasnya, geliatnya dalam membantu masyarakat lingkungannya, kedermawanannya, dan segudang sifat-sifat positif lainnya. Namun, konsep tersebut terkesan kabur dewasa ini.

Jika dahulu seseorang harus memiliki kontribusi yang nyata dalam masyarakat untuk diakui, saat ini tak lagi demikian. Perkembangan teknologi membuat segalanya berubah. Joy Roesma, penulis buku Media Sosialita, mengatakan bahwa saat ini media sosial telah mengubah cara kita berkomunikasi. Lantas hal tersebut pula merubah perilaku masyarakat.

“Kita harus menyesuaikan diri dengan kemampuan yang dimiliki, misalnya memang ingin mengikuti, harus mampu mulai dari finansial dan lainnya, dan sesuai dengan karakter yang dimiliki, jadi memang benar-benar harus disesuaikan,” papar Joy, dilansir dari okezone.com.

Joy menambahkan, bahwa kehadiran media sosial membuat banyak masyarakat yang kemudian ingin tenar. Ada dari mereka yang sering muncul di televisi, baik sebagai seorang philantropi atau dengan kemampuannya menghibur audiens. Ada pula mereka yang tenar di media sosial melalui konten-kontennya yang beragam.

Baca Juga  Sepatu Ratu Marie Antoinette Dilelang dengan Harga Fantastik

Kehadiran media sosial memunculkan sosok-sosok baru pada masyarakat seperti figur publik, sosialita, dan influencer. Sama-sama memiliki pengaruh yang kuat pada masyarakat, Lantas apa perbedaan figur publik, sosialita, dan influencer?

Baca Juga: Celyn Bocah Jenius Asal Sragen Mengantongi 700 Piala

Perbedaan Figur Publik, Sosialita, dan Influencer

Menurut Cambridge Dictionary, influencer adalah orang yang mampu memberikan perubahan terhadap orang lain melalui media sosial. Seorang influencer biasanya dinilai dari banyaknya jumlah pengikut di media sosial seperti twitter, instagram, atau youtube. Acapkali konten-konten mereka berisikan informasi soal apa yang diinginkan oleh masyarakat luas.

Hal ini yang membedakan dirinya dengan figur publik. Meski influence juga dapat disebut sebagai figur publik lantaran pengaruhnya dalam masyarakat, konsep tersebut di Indonesia lebih ditujukan untuk para pejabat dan akademisi. Dilansir dari harnas.co, perbedaan paling mencolok antara figur publik dan influencer terletak pada konten dan informasi yang disebarkan oleh mereka.

Jika figur publik terpaku pada statusnya sebagai seorang pelayan masyarakat, influencer bergerak lebih fleksibel. Informasi yang mereka berikan relatif cepat dan baru mengikuti keinginan masyarakat, sedangkan figur publik terkesan lebih kaku. BIdang yang diemban oleh influencer juga beragam, mulai dari teknologi, sastra, hingga menjadi kanal iklan produk-produk tertentu.

Baca Juga  Mengatasi Lemari Berjamur Dengan Cara Alami

Sedangkan untuk sosialita, Robert L. Peabody mendefinisikan mereka sebagai orang yang kerap terjun dalam aktivitas sosial, serta menghabiskan sebagian banyak waktunya untuk menghibur sekaligus mendapatkan hiburan. Penulis di majalah Town and Country itu menyebutkan kelompok sosialita biasanya terdiri dari kaum elite yang mencoba mendekatkan diri dengan masyarakat luas melalui aksi sosial. Demikian nama sosialita berasal dari bahasa Inggris, yakni gabungan dua kata social dan elite.

Mengetahui Fungsi dan Makna Ketenaran dalam Media Sosial

Dengan adanya media sosial, menjadi seorang influencer, figur publik, dan sosialita, bukanlah yang yang sulit. Mereka dengan mudah dapat mengunggah opini serta aktivitas mereka di beranda aplikasi pertemanan itu untuk menggaet simpatisan dan atensi dari masyarakat. Namun, acapkali terdapat upaya-upaya yang tidak sejalan.

Muncul sebuah fenomena yang kerap disebut dengan BPJS–Budget Pas-pasan, Jiwa Sosialita. Fenomena ini dinilai sebagai upaya sejumlah orang untuk meraih ketenaran dan meraup pengikut sebanyak-banyaknya. Kehadirannya membuat konsep sosialita mulai berubah makna.

Dari sosok yang mempengaruhi orang, menjadi ajang mencari ketenaran. Permasalahannya adalah, fenomena BPJS kian populer dewasa ini. Oleh Rachel Octavia, seorang pengamat gaya hidup, fenomena tersebut bernama sosialita palsu. Penulis buku ‘Better and Better’ ini menjelaskan bahwa media sosial mempengaruhi tumbuhnya sifat ingin tenar dan ingin diaku yang tak sedikit caranya adalah membuat diri terlihat kaya dan mewah.

Baca Juga  Perempuan Indonesia Bangga Memakai Kebaya Indonesia

Kita juga pasti ingat kasus prank sampah yang hangat diperbincangkan akhir-akhir ini. Menurut Rachel, baik fenomena BPJS dan aksi prank yang tidak pantas muncul atas perasaan ingin menjadi bagian dari sebuah komunitas. Dalam hal ini komunitas dunia maya dengan segala ideologi dan standar-standarnya.

Sekadar tenar tanpa konten yang berbobot tengah mencoreng muruah baik tokoh-tokoh jagat maya yang sudah berjuang keras mengupayakan konten positif bagi masyarakat. Dengan demikian, memahami fungsi dan perbedaan status sosial dalam dunia maya, setidaknya dapat membantu kita untuk memanfaatkan media sosial dengan sebaik-baiknya.

Artikel Terkait

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *