Peran Srikandi Indonesia Dalam Kemerdekaan

 Peran Srikandi Indonesia Dalam Kemerdekaan

kitapastibisa.id – laksmana malahayati – Peran Srikandi Indonesia Dalam Kemerdekaan

Peran Srikandi Indonesia Dalam Kemerdekaan – Selain pahlawan pria, Indonesia juga memiliki begitu banyak pahlawan wanita yang tak kalah pemberani. Mereka berjuang melalui bidang masing-masing, seperti pendidikan, tulisan dan pemikiran tajam, hingga berjuang langsung di medan tempur.

Baca Juga: Manfaat Buah Naga, Si Cantik yang Bernutrisi

Pahlawan-pahlawan Perempuan Indonesia

Keumalahayati atau yang lebih dikenal dengan nama Malahayati ini adalah cucu dari pendiri Kesultanan Aceh Darussalam. Meski seorang putri kerajaan, sejak kecil dia lebih suka berlatih ketangkasan dan bercita-cita menjadi panglima perang.

Berkat kegigihannya, sekitar tahun 1589-1604 dia jadi panglima perang di era Sultan Saidil Mukammil Alauddin Riayat Syah IV. Pada tahun 1599 dia memimpin 2 ribu pasukan tentara perempuan Inong Balee, yakni janda para pahlawan yang gugur melawan Belanda.

Raden Ajeng atau Raden Ayu Kartini dikenal sebagai pelopor emansipasi wanita di Indonesia. Selama hidupnya dia bertekad memperjuangkan kesetaraan hak-hak kaum wanita yang di zamannya masih sangat terbatas dibanding kaum pria.

Kartini meninggal di usia yang masih muda, yakni 25 tahun, setelah melahirkan putra pertamanya. Namun pemikirannya telah menginspirasi banyak orang dan terus dilanjutkan oleh para penerusnya.

Baca Juga  Buku Perdana Jerome Polin Meraih Penghargaan IKAPI

Banyak yang mengira Rasuna Said adalah sosok laki-laki. Padahal dia adalah perempuan pejuang emansipasi wanita dari Sumatera Barat. Dia tegas menentang poligami dan menganggap hal itu sebagai pelecehan terhadap kaum wanita.

Dia juga sempat menjadi pemimpin redaksi majalah Raya. Rasuna Said dikenal sebagai jurnalis yang kritis dan tulisannya tajam. Karena pemikirannya itu, pada 1932 Rasuna dipenjara di Semarang.

We Maniratu Arung Data Raja Bone-XXV (1823-1835), adalah salah satu dari beberapa perempuan yang pernah memimpin kerajaan di tanah Bugis. We Maniratu Arung Data terpilih oleh Dewan Ade’ Pitu Kerajaan pada tahun 1823 menggantikan saudaranya yaitu To Appatunru Matinroe’ ri Ajabbenteng Raja Bone-XXIV (1812-1823).

Pada masa pemerintahannya We Maniratu Arung Data dikenal sebagai pelopor bagi sebagian raja-raja di Sulawesi Selatan dalam menolak pembaharuan perjanjian Bungaya (18 November 1667) yang dikehendaki oleh VOC. Sebagai akibat pembangkangan itu tanggal 14 Maret 1824, pasukan VOC di bawah pimpinan jenderal Van Goen menyerang kerajaan Bone melalui Pantai Bajoe

Baca Juga  Bocah Kelas 4 SD Rela Menabung Demi Berqurban

Kesempatan bagi perempuan Indonesia masa kini untuk mendapatkan hak-hak mereka tidak terlepas dari perjuangan para Srikandi Indonesia pada masa lampau. Keberanian dan kegigihan para pejuang perempuan ini untuk mengangkat harkat perempuan dan memperjuangkan kemerdekaannya membuahkan hasil yang tidak sedikit.

Kami berharap semua artikel yang disajikan edisi ini dapat menginspirasi dan memperluas wawasan kita tentang peran para wanita di era modernitas ini, sekaligus memperkuat kapasitas dalam menjalankan peran-perannya.

Artikel Terkait

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *