Penanganan Cedera Saat Berolahraga

 Penanganan Cedera Saat Berolahraga

Kitapastibisa.id – Penanganan Cedera Saat Berolahraga – Orami

Penanganan Cedera Saat Berolahraga – Banyak hal yang mengakibatkan seseorang mengalami cedera saat berolahraga. Di antaranya adalah kurang pemanasan (stretching) saat berolahraga, tidak memahami jenis olahraga yang cocok untuk tubuhnya, serta kurangnya asupan gizi dan nutrisi yang dibutuhkan tubuh.

Persendian merupakan salah satu bagian tubuh yang rentan cedera. Terjepitnya jaringan saraf, pergeseran atau retaknya tulang, hingga robekan pada urat adalah kondisi yang umumnya terjadi dan menjadi penyebab rasa sakit. Sendi yang mengalami cedera bisa menimbulkan rasa nyeri, memar, atau bengkak. Ketiga hal tersebut bisa muncul beberapa menit setelah seseorang mengalami cedera pada persendian.

Penanganan cedera harus segera dilakukan untuk menghindari dampak yang lebih buruk. Dalam penanganan cedera dikenal dengan istilah RICES yakni terdiri dari Rest, Ice, Compression, Elevation, dan Support. Metode ini dapat dilakukan sesaat setelah cedera hingga dua hingga tiga hari paska cedera.

Seluruh metode penanganan tersebut sebagai berikut:

Baca Juga: Memajukan Budaya Literasi Melalui Gerakan Buku Indie

  1. Rest

    Segera hentikan aktivitas apabila mengalami cedera saat berolahraga. Hendaknya langsung beristirahat dan jangan memaksakan untuk kembali beraktivitas/olahraga. Jika terus dipaksakan maka cedera akan semakin parah dan dapat merusak jaringan otot maupun jaringan lainnya. Usahakan tidak menggunakan bagian yang cedera untuk aktivitas selama proses penyembuhan. Hal ini juga termasuk tidak memijat pada daerah yang cedera. Pemijatan justru akan memperparah kondisi pembengkakan.

  2. Ice

    Pada cedera olahraga akan ada risiko pendarahan karena rusaknya pembuluh darah. Oleh karena itu disarankan mengompres bagian yang cedera dengan air/es batu. Es memiliki sifat analgesik yang dapat meredam rasa sakit dan dapat mengecilkan pembuluh darah yang rusak. Namun pemberian es pada cedera sebaiknya dilapisi dengan kain agar tidak langsung bersentuhan dengan kulit yang dapat menyebabkan alergi. Kompres cukup dilakukan selama 15 menit setiap dua sampai tiga jam untuk mengurangi rasa sakit akibat peradangan internal. Tidak disarankan memberi air panas atau balsem pada daerah cedera. Pembengkakan selalu disertai dengan peningkatan suhu di sekitar daerah cedera. Pemberian air panas atau balsem akan perbesar kemungkinan jaringan otot meradang dan bahkan sobek.

  1. Compression

    Compression yakni menutup atau menekan lokasi cedera dengan kasa atau perban. Tindakan ini dibutuhkan untuk mencegah terjadinya pembengkakan. Selain itu, perlindungan ini juga bertujuan untuk minimalisir rasa sakit dan kurangi pergerakan bagian yang cedera. Alat yang bisa dipakai untuk melindungi bagian tubuh yang cedera di antaranya, perban elastis, ankle brace, atau gips.

  1. Elevation

    Mengistirahatkan bagian yang cedera dengan mengangkat posisinya berada lebih tinggi di atas jantung. Pada posisi terlentang, daerah yang cedera bisa ditopang dengan tumpukan bantal atau benda empuk agar aliran darah tetap lancar. Hal ini sebaiknya diulangi setiap dua hingga tiga jam sekali guna melancarkan kembali aliran darah yang mengalami pembengkakan akibat cedera.

  1. Support

    Proses penyembuhan juga bergantung pada pola aktivitas dan asupan yang baik. Gunakan alat bantu seperti tongkat atau kruk untuk minimalisir beban pada daerah yang cedera. Hindari minuman mengandung alkohol dan pastikan untuk selalu mengkonsumsi makanan dengan gizi berimbang.

Baca Juga  Terapi Dengan Melakukan Olahraga Rafting

Artikel Terkait

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *