Pelajaran Hidup dari Chef Juna, Juru Masak Ternama Indonesia

 Pelajaran Hidup dari Chef Juna, Juru Masak Ternama Indonesia

Kitapastibisa.id – Pelajaran Hidup dari Chef Juna, Juru Masak Ternama Indonesia – Diadona

Pelajaran Hidup dari Chef Juna, Juru Masak Ternama Indonesia – Siapa yang tidak tahu Chef Juna? Pria dengan nama asli Junior Rorimpandey ini kerap menjadi buah bibir khalayak Indonesia. Bukan karena ia kerap muncul dalam acara televisi. Namun, ia juga piawai dalam mengolah bahan makanan menjadi makanan super lezat.

Baik mereka penggemar kuliner maupun yang tidak, Chef Juna pasti pernah menjadi topik pembicaraan mereka. Mengapa tidak? Ia merupakan salah satu juru masak Indonesia yang memulai kariernya dari titik nol. Bahkan, boleh jadi titik minus. Itu artinya Chef Juna memulai kariernya terlambat dan tanpa latar belakang tata boga layaknya peserta Master Chef Indonesia.

Kisah hidup Chef Juna tidaklah mulus. Bahkan, sang Juri Master Chef Indonesia itu menyebut bahwa ia ‘kecebur’ masuk ke dunia kuliner.

“Saya mulai masak itu terlambat, umur 22 tahun. Kecebur ceritanya, dimulai dari kerja di restoran, jadi tukang potong-potong, kupas-kupas,” ucap Juna mengutip dari linetoday.

Lantas, bagaimana perjalanan kuliner sang Junior Rorimpandey ini?

Baca Juga: Sule Dikabarkan Telah Menikahi Nathalie Holscher

Chef Juna: Jangan Tangisi Nasib Orang Lain

Pelajaran Hidup dari Chef Juna, Juru Masak Ternama Indonesia
Kitapastibisa.id – Pelajaran Hidup dari Chef Juna, Juru Masak Ternama Indonesia – Kanal

“Jangan tangisi nasib orang lain,” tegas Juna dalam acara televisi Master Chef Indonesia.

Jika Anda penggemar serial televisi Master Chef Indonesia, maka Anda tidak asing dengan kalimat tersebut. Juna melontarkan kalimat tersebut kala peserta termuda Master Chef Indonesia Season 7 gugur dari kompetisi. Kalimat itu seakan menjadi kilas balik serta refleksi seluruh peserta pada kompetisi tersebut. Bayangkan, seorang pemuda berumur 19 tahun berjibaku dengan peserta lainnya yang notabene lebih tua darinya.

Baca Juga  Membangun Indonesia dari Papua, Sebuah Cita-Cita Billy Membrasar

Hal yang kontras adalah, bahwa pada umur 19 tahun ia sudah terjun ke dalam dunia kuliner. Bahkan mengikuti kompetisi masak paling bergengsi di Indonesia. Sedangkan Juna baru memulai kariernya sebagai juru masak di umur 22 tahun. Itu pun baru belajar mengupas dan potong bahan.

Kini, ia merupakan juru masak yang piawai dalam masakan Jepang dan Prancis. Ia menyandang status sebagai juri kompetisi Masak Nasional. Master Chef dan mengisi beberapa acara televisi lainnya. Mungkin Anda bertanya, bagaimana Juna akhirnya bisa menggeluti dunia kuliner? Bahkan, menjadi salah satu juru masak unggulan Indonesia?

1. Buat Geng Motor saat SMA

Sudah bukan rahasia umum jika pria kelahiran kelahiran Manado 20 Juli 1975 ini dulunya anak berandal. Juna mengenal tato ketika berumur 15 tahun. Bahkan, tato yang ada pada lengannya merupakan peninggalan masa mudanya itu. Ia menato tubuhnya dengan mesin tato saat masih tinggal di bali. Ketika berumur 17 tahun, ia membentuk geng motor yang bernama bernama Bad Bones. Tidak tanggung-tanggung, kendaraan mereka adalah Harley Davidson. Layaknya geng motor pada umumnya, ia kerap ugal-ugalan.

2. Masa Kuliah Juna: Tidak Lulus Kuliah hingga Hijrah Ke Amerika

Lulus sekolah, Juna pergi berkuliah di Trisakti mengambil jurusan perminyakan. Namun, setelah 3,5 tahun kuliah, ia tidak mampu meneruskan pendidikan lantaran kampus menilai ia terlalu nakal. Akhirnya, Juna hijrah ke Amerika. Berbekal uang sekitar 40 juta dari menjual motor kesayangannya, ia mengambil jurusan penerbangan di Negeri Paman Sam itu. Namun, lagi-lagi, keberuntungan tidak berpihak padanya. Setelah mengantongi izin terbang, kampusnya bangkrut. Hasilnya, ia hidup menggelandang di Amerika untuk menyambung hidup. Kala itu, orang tua Juna mengalami kesulitan ekonomi. Oleh sebab itu, ia harus mencari penghidupan sendiri.

Baca Juga  Rajin Menabung Belasan Tahun, Saefudin dan Hani Mampu Pergi Haji

“Ilegal selama 6 bulan, ilegal hampir selaam 6 bulan. Udah gitu selama 6 bulan itu scrambling kerjaan yang masih bisa menghasilkan. Akhirnya landing jadi waiter restoran. Dua minggu kemudian mereka kekurangan orang di kitchen baru saya di-training. Jadi awal mula masih ilegal. Tapi karena memang mungkin berbakat jadi diangkat,” tuturnya mengutip dari acara TonightShow.

3. Dari Tukang Kupas Jadi Executive Chef Restoran Nomor 1

“Mungkin karena takut. Tadinya kan pekerjaan keras semua sampai akhirnya dapat pekerjaan at least di bawah atap, restoran. Akhirnya berusaha di situ. Enggak tahunya membuahkan hasil dan owner restorannya mensponsori green card untuk tinggal di sana,”

Juna menyebut bahwa kariernya sebagai juru masak merupakan ketidaksengajaan. Lantaran pekerjaan yang sebelumnya ia geluti tidak membuahkan hasil, ia akhirnya serius menjadi tukang masak. Kesungguhan Juna muncul lantaran takut akan gagal dalam kehidupan. Selain orang tuanya yang sempit ekonomi kala itu, ia juga harus mampu menyambung hidup. Akhirnya kerja keras Juna terbayar. Pemilik restoran tempat ia bekerja memberikannya green card agar dapat tinggal lebih lama.

“Green Card Holder itu saya peroleh dari pekerjaan karena dinilai oleh pemerintah Amerika saya memiliki skill yang tidak dimiliki warga Amerika pada umumnya seperti sushi chef,” ucapnya.

Setelah mendapatkan pelajaran berharga dari Master Sushi, kerja kerasnnya terbayar. Ia menjadi kepala koki restoran Jepang tempat ia bekerja, Miyako. Selama 5 tahun ia berkontribusi untuk restoran sushi tersebut. Akhirnya, ia mencoba tantangan yang lebih besar. Ia pergi melamar ke restoran Sushi nomor satu di Houston, Uptown Sushi. Tak tanggung-tanggung, Juna menjabat sebagai Executive Chef dengan gaji 4.000 Dollar AS. Juna kemudian melebarkan sayapnya. Dari masakan Jepang, ia tertarik belajar masakan Perancis. French Laundry, merupakan restoran yang ia tuju. Dari sana, ia belajar berbagai macam jenis masakan Perancis dan bagaimana membuat makanan yang cantik serta bergizi.

Baca Juga  Mengenal Pesantren yang Tak Hanya Belajar Ilmu Agama

Belajar dari Kisah Chef Juna

“Tidak cuma dikomentari pedas. Saya dulu sering dihukum, dalam memasak saya dididiknya keras. Kalau kerja, tiga kali bikin kesalahan, tidak dikasih hari libur. Gini dalam seminggu kan kerja 6 hari, nah hari libur sehari itu tidak boleh diambil, jadi seharinya tetap kerja,” tutur Chef Juna.

Pendidikan yang keras serta mental yang kuat merupakan modal yang tak tergantikan. Melalui tekanan tersebut, Juna berhasil meraih kesuksesan. Juna mengajarkan pada kita bahwa tidak ada yang terlambat selama kita masih mampu bekerja keras. Bahkan ia yang menilai pribadinya sudah terlambat dalam menekuni bidang kuliner mampu membuktikan bahwa ia mampu. Disiplin dan pengorbanan adalah kunci. Berani mengambil risiko serta keluar dari zona nyaman merupakan pelajaran yang berharga dari kisah Juna.

“Harus ada sacrifice (pengorbanan). Kalau soal passion(keinginan kuat), pembantu saya juga di rumah pintar masak. Tapi untuk berjalan sejauh ini dengan profesional, rela nggak waktu dengan keluarga berkurang?” pungkas Juna.

Artikel Terkait