Pasta Gigi Pada Zaman Kuno

 Pasta Gigi Pada Zaman Kuno

kitapastibisa.id – Siwak, Salah satu pembersih gigi alami

Pasta Gigi Pada Zaman Kuno – Manusia pada zaman berburu dan meramu cenderung memiliki kebersihan mulut yang lebih baik karena makanan masih terbatas pada daging. Ketika manusia mulai beralih ke masa bercocok tanam, jenis bakteri yang masuk ke mulut pun makin variatif. Karena itu, peneliti kerap menyimpulkan kebersihan mulut manusia di zaman bercocok tanam cenderung lebih buruk. Namun penelitian di Al-Khiday mementahkannya.  Berikut beberapa pembersih gigi alami yang digunakan pada zaman kuno.

Baca Juga: Asal Budaya Makan Lalapan

1. Rumput Teki

Rumput kadang menjadi masalah jika dibiarkan tumbuh liar, terutama jenis rumput yang dikenal sebagai rumput teki (Cyperus rotundus). Tanaman khas daerah tropis ini, yang juga mudah ditemui di berbagai wilayah Indonesia, merupakan salah satu rumput liar paling buruk untuk dikontrol karena persebarannya yang invasif. Rumput teki yang tumbuh liar ternyata dikonsumsi untuk menjaga agar gigi tetap kuat dan bersih.

Sayangnya, meski memiliki tingkat nutrisi yang tinggi dan statusnya sebagai pakan alternatif, petani-petani modern kini kerap menganggap rumput teki sebagai tanaman hama. Rumput teki memiliki akar yang sulit dicabut dan kerap mengganggu pertumbuhan tanaman di kebun atau ladang-ladang mereka.

Baca Juga  Bahaya Tanning, Rusaknya Jaringan Kulit

2. Urin Sebagai Obat Kumur

Bangsa Romawi Kuno menggunakan urin sebagai obat kumur (mouthwash), pasta gigi, sekaligus sabun cuci. Meski terkesan menjijikkan, mereka ternyata cukup pintar untuk menemukan alasan tepat. Urin mengandung amonia dan ini merupakan bahan produk pembersih, membuat gigi mengilap, bahkan mencegah gigi berlubang. Semua yang dilakukan orang-orang Romawi kuno ini ternyata menjadi inspirasi di zaman sekarang.

3. Siwak

Siwak, atau miswak dalam bahasa Arab, berarti ranting atau batang dari pohon Salvadora Persica yang juga biasa disebut “pohon sikat gigi”. Umumnya batang miswak berukuran kecil, mirip ranting, dan berwarna coklat muda. Ranting miswak diperkirakan sudah dipergunakan untuk membersihkan dan merawat gigi serta mulut sejak zaman peradaban awal Arab, Yunani, dan Romawi Kuno.

Tradisi mengunyah siwak masih cukup umum dilakukan oleh beberapa negara jazirah Arab di zaman modern ini. Di Pakistan dan Arab Saudi, misalnya, ditemukan hampir lebih dari 50% masyarakatnya lebih sering bersiwak dibandingkan dengan menyikat gigi. Orang-orang di negara Nigeria dan India juga lebih sering bersiwak ketimbang gosok gigi pakai odol.

Baca Juga  Mutiara Hitam, Sepak Bola Adalah DNA Papua

Bahkan WHO atau Organisasi Kesehatan Dunia turut merekomendasikan masyarakat dunia menggunakan batang pohon ini untuk menjaga kesehatan gigi dan mulut sejak tahun 1987. Kampanye menyikat gigi dengan siwak bahkan masih terus digalakkan oleh WHO sebagai alternatif cara menjaga kesehatan gigi dan mulut masyarakat di negara-negara berpendapatan rendah.

Artikel Terkait

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *