Onesimus Aluwa, Dari Yahukimo Hingga Moscow Untuk Sebuah Pedagogi

 Onesimus Aluwa, Dari Yahukimo Hingga Moscow Untuk Sebuah Pedagogi

Kitapastibisa.id – Onesimus Aluwa, Dari Yahukimo Hingga Moscow Untuk Sebuah Pedagogi

Belum ada transportasi bahkan jalan yang khusus dibuka dari Yalmabi untuk sampai ke Yahukimo, pemuda 25 tahun ini, Onesimus Aluwa, harus melewati hutan terlebih dahulu, dan dilanjutkan dengan berjalan kaki. Salju pertama yang turun kala itu menjadi sebuah saksi perjalanan nan jauh, 11.000 kilometer dari rumah. Dari Yalmabi, kampung di pelosok Kabupaten Yahukimo yang ditempuh dengan berjalan kaki “satu hari”.

Kisah Onesimus Aluwa Asal Papua

Onesimus Aluwa
Kitapastibisa.id – Onesimus Aluwa

Pemuda yang menyelesaikan pendidikan S1-nya di Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Kristen, Wamena, ini diperbantukan mengisi kekosongan guru di sebuah sekolah yayasan di Kabupaten Yahukimo setelah lulus sebagai sarjana. Ia kemudian mengajar namun belum menjadi PNS ataupun honorer. Berbekal beasiswa, ia melanjutkan pendidikan magister bidang pedagogi di kampus pencetak guru terbesar di Rusia, Moscow State Pedagogical University.

Jurusan yang diambil oleh Ones untuk pendidikan S2-nya bukan tanpa alasan. Ia sadar dan paham betul Papua masih sangat butuh perbaikan secara besar-besaran dalam bidang pendidikan. Selain karena tenaga pengajar yang masih sangat terbatas di daerah Papua dan wilayahnya, kurikulum yang digunakan juga belum tepat. Kurikulum yang sedang dan masih di gunakan saat ini sangat tidak sesuai dengan kondisi Papua sendiri. Hal ini kemudian menyebabkan tenaga pendidik dan murid tidak paham mengenai konteks materi yang diajarkan. Ini tentu saja bisa dinilai sebagai salah satu faktor penghambat pendidikan mereka, karena terlalu jauh dari sumber pengetahuan yang dijelaskan oleh sekolah atau buku yang digunakan sebagai bahan ajar.

Baca Juga  Chef Marinka Lepas Masa Lajang Diumur 40 Tahun

Ones sangat percaya bahwa perpustakaan, sekolah dengan kurikulum yang kontekstual dan tenaga pendidik atau pengajar yang memang berasal dari Papua adalah sebuah harapan untuk membangun Papua agar lebih terbuka secara pikiran, dan mampu tumbuh menjadi masyarakat yang terdidik secara ilmu dan karakter.

Ia tentu saja bukan satu-satunya mahasiswa Papua yang melanjutkan pendidikan tinggi ke luar negeri. Ada beberapa teman-temannya yang sudah terlebih dahulu mengenyam pendidikan. Semua anak-anak Papua yang melanjutkan sekolah dengan beasiswa bertekad untuk kembali pulang ke Papua dan sama-sama menguatkan Papua sebagai sebuah kesatuan yang berwawasan.

Artikel Terkait

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *