Nilai Filosofis Di Balik Batik Truntum

 Nilai Filosofis Di Balik Batik Truntum

Kitapastibisa.id – Nilai Filosofis Di Balik Batik Truntum – Batik.or.id

Nilai Filosofis Di Balik Batik Truntum – Motif pada batik Truntum digambarkan seperti bintang-bintang yang bertaburan di langit malam yang cerah. Serta taburan bunga-bunga abstrak kecil, atau menyerupai kuntum bunga melati yang bertebaran. Truntum atau taruntum dalam bahasa Jawa berasal dari istilah, “teruntum-tuntum” artinya tumbuh lagi. Taruntum memiliki makna senantiasa bersemi kembali.

Motif Truntum melambangkan romantika cinta antara dua manusia. Sebagai simbol cinta dan kasih sayang, batik Truntum kerap mewarnai pernikahan adat Jawa. Dalam konteks pernikahan, motif batik Truntum membawa nilai filosofi pengharapan akan kesetiaan dan kelanggengan kedua mempelai, ketika menjalani kehidupan rumah tangga.

Biasanya dipakai oleh pengantin perempuan dan juga oleh orang tua pengantin. Yang menjadi representasi, bahwa orang tua berperan penting dalam memberi pengetahuan dan menuntun anak-anaknya ke gerbang rumah tangga.

Selain itu, konsep-konsep romantika yang tertuang dalam motif batik Truntum mulai dari kesetiaan, kesabaran, ketulusan, harmoni, hingga pertumbuhan yang terus berlangsung dan subur. Motif batik Truntum yang mengedepankan rasa cinta dan kasih sayang kepada sesama. Yang menggambarkan sikap orang-orang Jawa dalam memandang romantika cinta dan kehidupan yang selaras berdasarkan kesetiaan.

Baca Juga  Lathi Lagu EDM dengan Nuansa Jawa

Baca Juga: Malam Satu Suro, Tradisi Pensucian Diri

Kisah Lahirnya Batik Truntun 

Dikisahkan, pada abad ke-18 silam, Kanjeng Ratu Kencana, permaisuri Sunan Pakubawana III Surakarta Hadiningrat. Ratu Kencana merasa diabaikan oleh sang suami karena kesibukannya dan adanya selir baru di istana. Bahkan, pada hari pernikahan pun Kanjeng Ratu dilanda cemburu karena ketidaksetiaan.

Malam-malam sepi Ia lalui dengan memandang langit cerah bertabur bintang. Bintang-bintang di langit malam senantiasa setia menemani sang ratu. Selain ditemani bintang, Kanjeng Ratu Kencana juga dihibur oleh wangi bunga tanjung yang semerbak. Tangannya pun ingin melukis semua rasa yang berkecamuk di hatinya.

Maka Kanjeng Ratu Kencana pun mulai membatik. Ia menggambar bintang-bintang dan kembang tanjung pada lembar-lembar kain yang kemudian diberi warna biru gelap langit malam. Ia mengisi kekosongan kain mori putih sebagaimana Ia mengisi kekosongan hatinya yang merindu kasih sayang sang suami.

Hingga suatu malam, Sunan Pakubawana III melihat istrinya yang tengah membatik. Gambaran bintang-bintang dan bunga tanjung itu begitu menyentuh hati sang raja. Kemudiannya insaf karena telah membuat istrinya merasa kesepian. Ia pun menyadari kesalahannya karena selalu meninggalkan istri yang senantiasa setia menantinya dengan kasih sayang.

Baca Juga  Belanja Online Di Tengah Masa Pandemi

Kisah tersebut merupakan asal lahirnya motif batik Truntum. Ketulusan dan kesetiaan Ratu Kencana dalam menyayangi suaminya yang diabadikan melalui motif batik truntum. Hal itu terlukis dari kesetiaan Kanjeng Ratu Kencana yang senantiasa menunggu kedatangan sang suami, meski dirinya kerap diabaikan

Artikel Terkait