Ngertakeun Bumi Lamba Tradisi Sunda Bersenyawa dengan Bumi

 Ngertakeun Bumi Lamba Tradisi Sunda Bersenyawa dengan Bumi

kitapastibisa.id – Ngertakeun Bumi Lamba Tradisi Sunda Bersenyawa dengan Bumi

Ngertakeun Bumi Lamba. Ritual tahunan yang digelar bertepatan dengan perjalanan matahari yang baru kembali dari paling utara Bumi menuju selatan. Setiap bulan Kapitu (bulan ke-7), dalam hitungan Suryakala, kala ider (kalender) Sunda.

Apa Itu Ngertakeun Bumi Lamba?

Ngertakeun Bumi Lamba adalah upacara menjalankan pesan kasepuhan, yang menitipkan tiga gunung, sebagai paku alam (harus diperlakukan sebagai tempat suci). Gunung Tangkuban Perahu, Gunung Wayang, dan Gunung Gede adalah amanat yang harus dijaga sebagai tempat “kabuyutan”.

Menurut Falsafah

Berdasarkan falsafah hidup dan aturan dasar adat istiadat, upacara ini merupakan manifestasi hubungan harmonis manusia dengan alam dan pencipta-Nya. Rajah atau medium tentang pandangan hidup urang Sunda.

Filosofi hidup masyarakat Sunda adalah Mulasara Buana yaitu memelihara alam semesta. Visi hidup yang terbentuk dari perlunya menjaga keseimbangan alam dari berbagai perilaku yang cenderung mengeksploitasi alam berlebihan.

Gunung berapi merupakan sumber kehidupan masyarakat Sunda, sehingga memiliki tempat terhormat sebagai guru. Sebagaimana ungkapan gunung adalah guru nu agung atau guru besar.

Baca Juga  Bocah Rambut Gimbal, Khas Dataran Tinggi Dieng

Hal itu dikuatkan penelitian Jakob Sumardjo (2005) dan Edi S Ekajati (2005), keberadaan mandala atau kawasan yang sakral di gunung-gunung berapi merupakan perwujudan dari konsep gunung sebagai ‘axis mundi’. Atau, penghubung transendental antara manusia dengan Yang Maha Kuasa.

Pada zaman leluhur, Gunung Tangkuban Perahu dipercayai sebagai gunung terbesar, sehingga diagungkan. Dengan pernah meletusnya gunung agung ini, dianggap alam murka.

Kerusakan dan kemusnahan alam cenderung dianggap akibat perbuatan manusia yang berlebihan. Akibatnya, Yang Maha Pencipta dan Maha Kuasa (Sanghyang Keresa atau Sanghyang Widhi) bereaksi dengan memusnahkan sebagian alam yang tidak terjaga baik.

Inti upacara Ngertakeun Bumi Lamba adalah bentuk terima kasih dan pengingat pada setiap orang bahwa kesucian gunung adalah sumber utama kehidupan makhluk. Gunung adalah paku Bumi di semesta ini. Gunung sumber spiritual dan budi pekerti yang mendasari perilaku berbudaya bagi umat manusia.

Pesan tersiratnya, mendesak manusia untuk mengubah sikap terhadap lingkungan. Lebih arif terhadap alam sebagaimana yang dilakukan leluhur sejak dulu.

Baca Juga  Tradisi Berburu Paus Di Pulau Lembata NTT

Terlebih, Masyarakat Sunda membagi hutan dalam kawasan gunung dalam tiga kategori: leuweung larangan (hutan keramat), leuweung tutupan (hutan lindung), dan leuweung baladaheun (hutan titipan). Bila diinterpretasikan merupakan petuah mengelola alam dengan kebijaksanaan sekaligus mengenal batas-batas yang diajarkan nenek moyang.

Artikel Terkait

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *