Neas Wanimbo Membangun Masa Depan Melalui Perpustakaan

 Neas Wanimbo Membangun Masa Depan Melalui Perpustakaan

Kitapastibisa.id – Perpustakaan untuk anak pedalaman papua

Neas Wanimbo Membangun Masa Depan Melalui Perpustakaan – Buku merupakan salah satu media untuk mampu membuka wawasan, mempelajari hal baru, bahkan sering dikatakan bahwa buku adalah jendela dunia. Bagi anak-anak, keinginan untuk menemukan dan mempelajari hal baru adalah suatu keniscayaan. Membangun kedekatan dengan buku juga sangat perlu dibangun sejak dini. Namun apakah kita bisa mencintai buku tanpa pernah memiliki dan membacanya ?

Pengalaman dalam keterbatasan mengakses buku ini yang kemudian membawa Neas Wanimbo membangun sebuah perpustakaan di sejumlah daerah di Papua. Ia ingat betul bagaimana sulitnya mendapatkan buku bacaan ketika duduk di bangku sekolah dasar. Neas menempuh pendidikan di Universitas Tanri Abeng, dan berhasil menyelesaikan kuliahnya dalam waktu 2 tahun 8 bulan, kemudian Neas mengikuti program Initiatives of Change di India selama enam bulan.

Perjalanan Neas Wanimbo Membangun Masa Depan Papua

Neas Wanimbo
Kitapastibisa.id – Neas Wanimbo

Neas merupakan pemuda yang berasal dari suku Dani di Wamena, daerah pegunungan Papua. Kondisi geografis wilayah tinggalnya membuat ia dan teman-temannya kesulitan mengakses ilmu pengetahuan. Dani kecil bersekolah di SD YPPGI Tangma, Kabupaten Yahukimo, Papua. Hanya ada satu guru yang mengajar untuk enam kelas. Ia juga sering membantu untuk mengajar di sekolah itu saat SD, karena dinilai sudah lancar membaca, menulis dan berhitung dengan baik.

Baca Juga  Amalan yang Pahalanya Setara Ibadah Haji

Dari latar belakang tersebut, ia kemudian mempunyai inisiatif membangun perpustakaan Hano Wene di SD YPPGI pada 2017. Sekolahnya mempunyai satu gedung kosong yang kemudian disulapnya menjadi perpustakaan. Ia kemudian mengumpulkan buku-buku bekas dari teman-temannya dan dibawa ke Papua. Dengan harapan meskipun hanya ada satu guru yang mengajar, tapi hasrat anak membaca bisa terpuaskan. Perpustakaan tersebut diberi nama Hano Wene yang bermakna kabar baik. Ia ingin dari perpustakan tersebut dapat menyebarkan kebaikan untuk masyarakat di sekitarnya. Untuk tahap awal sudah ada sekitar 500 buku bacaan di perpustakaan itu. Dalam waktu dekat, ia akan mengirimkan lagi sekitar 2.000 buku bacaan ke kampung halamannya. Buku-buku tersebut didapatnya dari kampanye donasi buku bekas yang digalangnya. Ia juga menerapkan pola menjemput buku, bagi donatur yang ingin menyumbang buku bekas.

Selain di kampung halamannya, Neas juga merintis pembangunan perpustakaan di empat daerah lainnya, yakni Sorong, Kaimana, Sarmi, dan Lani Jaya. Perpustakaan tersebut dikelola oleh Neas bersama dengan melibatkan warga setempat sehingga mereka merasa memiliki. Perpustakaan tersebut ia buka untuk umum, bagi siapapun yang ingin membaca.

Artikel Terkait

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *