Naufal Abshar Si Pelukis Tawa Asal Indonesia

 Naufal Abshar Si Pelukis Tawa Asal Indonesia

Kitapastibisa.id – Naufal Abshar Si Pelukis Tawa Asal Indonesia- Detik

Naufal Abshar Si Pelukis Tawa Asal Indonesia – Nama Naufal Abshar terkenal hingga dunia seni Internasional. Beberapa negara seperti Spanyol, Prancis, Singapura, dan Afrika membawa pulang lukisan seniman asal Indonesia ini. Karyanya tak hanya membawa Naufal bersinar. Namun, ia mampu mengharumkan dunia seni bangsa.

Naufal berhasil mendobrak stigma buruk seorang seniman yang biasa menghiasi mata khalayak Indonesia. Menurut mereka, kebanyakan orang Indonesia menafikan kehadiran seni. Terlebih, mereka terlalu fokus dengan hal-hal teknis.

“Orang awam melihat seniman itu tidak punya masa depan, enggak tau kerjanya ngapain. Padahal negara maju memprioritaskan lima bidang fundamental, scientist, psychologist, mechanic, doctor, dan artist. Tapi kita mengesampingkan sisi keindahan,” ujar Naufal mengutip kompasmuda.

Pelukis yang menyandang nama “Pelukis Tawa” ini begitu unik. Seninya yang tidak biasa mampu menghadirkan tawa dalam kesibukan sehari-hari. Naufal menggabungkan kata-kata ke dalam lukisannya. Salah-satu kata yang paling sering ia gunakan adalah kata “ha-ha”.

Melalui tawa dalam lukisannya, Naufal hendak mengajak dunia tertawa bersama. Tertawa tak melulu soal kebahagian dan canda. Namun, sesekali tawa adalah bentuk kritik yang santun nan pedas terhadap kondisi-kondisi sosial.

Baca Juga: Kisah Hidup Seto Mulyadi, Psikolog Ternama Indonesia

Perjalanan Seni Si Pelukis Tawa

Naufal Abshar Si Pelukis Tawa Asal Indonesia
Kitapastibisa.id – Naufal Abshar Si Pelukis Tawa Asal Indonesia – MLD Spot

Yang sederhana adalah yang terbaik. Mungkin hal tersebut merupakan ungkapan yang mampu menjelaskan awal mula Naufal terjun ke dunia seni. Sebuah lukisan kunci kecil berwarna merah yang tersemat dalam sebuah kanvas putih yang besar menarik perhatiannya.

Baca Juga  Cara Tepat Menghemat Uang Belanja Bulanan

“Kok bisa lukisan se-sederhana ini bisa masuk pameran?” pikirnya kala itu.

Semasa menjalani kehidupan masa SMA, teman-teman Naufal mengenalnya sebagai “penggambar”. Julukan itu tak selamanya baik. Bagi Naufal, beberapa dari mereka justru tidak melontarkan apresiasi, justru sebaliknya. Julukan ini membuatnya bimbang soal masa depan.

Bisa jadi apa dari gambar? Sebuah pertanyaan yang terus menggema dalam otaknya. Naufal kala itu bahkan tidak mampu menggambar bagus atau realis. Dalam kebingungannya, orang tua Naufal hadir sebagai cahaya kehidupannya. Kedua orang tuannya membawanya ke Sunaryo Soetono, pemilik dari Selasar Sunaryo.

Benar saja, Sunaryo menyebut Naufal sebagai pemuda yang berbakat. Pernyataan Sunaryo membuat orang tua Naufal yakin bahwa anaknya mampu menjadi seorang seniman yang hebat. Meski pada awalnya mereka ragu akan kehidupan seniman, namun Naufal berhasil membuktikan bahwa pandangan itu salah.

Akhirnya, Naufal mengambil keputusan untuk menempuh penghidupan di La Salle College of the Arts dan Goldsmith University di Singapore. Tapi, lulus dari kampus seni bergengsi bukanlah jaminan untuk sukses. Pasalnya, Naufal masih belum menemukan gairahnya sebagai seorang seniman. Ia belum memiliki arah yang pasti ingin menjadi seniman seperti apa.

Baca Juga  Cerita Najwa Shihab dan Karir Gemilangnya

Selepas mengenyam pendidikan di La Salle, Naufal tak langsung menyandang nama Pelukis Tawa. Berbagai pekerjaan pernah ia lakoni. Mulai dari penjaga galeri, packing lukisan, hingga mengirim lukisan buat kolektor seni. Hingga akhirnya, ia menemukan jalannya.

Panggilan Menjadi Seorang Pelukis

Seni adalah panggilan hati. Begitulah ucap pemuda kelahiran Bandung 13 Juli 1993 ini. Setelah lulus dari kuliahnya, ia belum menyentuh dunia gambar-menggambar. Ia melakoni pekerjaan yang secara tidak langsung tidak berkaitan dengan proses produksi lukisan. Khususnya lukisannya sendiri.

Saat itu, ia mencoba memamerkan karyanya di salah satu art gallery di Singapore. Dari sana, ia mendapatkan kepercayaan diri sebagai seorang pelukis. Bahkan, ia juga menemukan passion-nya. Hal ini muncul setelah pemilik gallery memberikan respons positif dari karya Naufal.

Momen itu menjadi titik balik bagi Naufal. Dari sana, ia mulai menekuni profesi sebagai seorang pelukis. Kini, Naufal sudah menggelar sekitar 50 pameran kelompok dan tiga pameran tunggal. Ia juga menjadi pemenang grafis desain album terbaik pada ajang Anugerah Musik Indonesia 2019.

Lukisannya bahkan mendunia. Pertama kali lukisannya mendapat pembeli adalah semasa ia kuliah. Ia sempat menjadi peserta termuda dalam pameran seni Suntec, Singapura. Pada acara tersebut, seorang penggemar seni asal Afrika Selatan memboyong lukisannya.

Baca Juga  Agung Ridwan, Disleksia Yang Meningkatkan Literasi

Apresiasi Adalah Kunci

Kesuksesan Naufal tak lepas dari dukungan kedua orang tuanya. Saat ia jatuh, orang tuanyalah yang menjadi sandarannya untuk bangkit. Mulai dari membawanya kepada Sunaryo, hingga memberikan dukungan pada pameran profesional pertamanya di Suntec, Singapur.

Menurut Pelukis Tawa ini, apresiasi adalah kunci. Mulai dari apresiasi seni dari orang tuanya, masyarakat Indonesia, hingga masyarakat dunia. Apresiasi seni masyarakat Indonesia berbanding terbalik dengan masyarakat dunia, khususnya Singapur pada saat itu.

Edukasi serta apresiasi seni perlu diajarkan sejak dini. Dengan demikian, orang dapat lebih menghargai seni. Karena, seni mengandung banyak makna dan ilmu.

“Seni enggak mengenal istilah benar-salah. Pohon bisa jadi warna merah, laut bisa jadi warna kuning, sesuai perspektif dan imajinasi pelukisnya. Itu yang membuat saya ingin menjadi seniman,” ujar Naufal.

Dari sebuah kunci dalam kanvas besar, ia belajar bahwa seni adalah interpretasi dari siapa yang melihatnya. Melalui itu, imajinasi seseorang terasah. Begitu pula sifat apresiatif tumbuh.

“Ada yang beranggapan biarkan karya berbicara sendiri. Lho, setiap orang punya interpretasi masing-masing kok. Di situlah seniman bisa menceritakan karyanya. Orang akan menilai bahwa seniman ini menguasai karyanya,” tambahnya.

Artikel Terkait