Nanda Mei Sholihah, Atlet Difabel Yang Kaya Prestasi

 Nanda Mei Sholihah, Atlet Difabel Yang Kaya Prestasi

Kitapastibisa.id – Nanda Mei Sholihah, Atlet Difabel Yang Kaya Prestasi – Kumparan

Nanda Mei Sholihah, anak sulung asal Sragen ini terlahir dengan keterbatasan fisik. Akan tetapi, kekurangannya tersebut tidak menjadi sebuah halangan besar. Ia tetap bisa melakukan segala aktivitas, meski hanya satu tangan yang berfungsi normal.

Dengan kondisi fisik yang tak sempurna ketika dilahirkan, tangan kanan yang hanya sampai siku. Masa kecil Nanda dipenuhi dengan perlakuan diskriminatif. Yang paling membekas di benaknya, ketika ia ditolak saat ingin mendaftar sekolah di taman kanak-kanak.

Bagi sekolah tersebut, tak seharunya Nanda mendaftar di sana. Pihak sekolah justru menyarankan untuk didaftarkan di Sekolah Luar Biasa (SLB). Lantas bukan Nanda kecil yang berontak, tapi pihak keluarga yang tak menerima saran seperti itu.

Jalan hidup Nanda berubah ketika dirinya duduk di bangku kelas 5 Sekolah Dasar. Saat itu dirinya ditawari ketua NPC (National Paralympic Committees) Kediri untuk menjadi atlet. Awalnya Nanda sempat ragu untuk menerima tawaran itu karena kondisinya.

Namun akhirnya dia menerima, setelah ibunya terus mendorong dan meyakinkan Nanda pasti bisa menjadi atlet. Nanda kemudian mulai berlatih bersama atlet NPC lainnya. Ketekunannya membuahkan hasil dengan menyabet tiga emas ajang Walikota Cup Surabaya di usia 11 tahun.

Baca Juga  Witan Sulaeman Pemain Indonesia Yang Menembus Sepak Bola Eropa

Baca Juga: Tips Cara Memotong Rambut Sendiri

Sukses Menjadi Atlet Difabel Indonesia

Nanda Mei Sholihah, Atlet Difabel Yang Kaya Prestasi
Kitapastibisa.id – Nanda Mei Sholihah, Atlet Difabel Yang Kaya Prestasi – Instagram/@nandameish

Nanda Mei Sholihah adalah satu dari 300 atlet difabel dari kontingen Indonesia. Sebagai seorang yang terlahir tanpa setengah lengan kanan, membuatnya tumbuh menjadi pribadi yang kuat. Banyaknya penolakan yang ia alami justru mengantarkannya pada puncak keberhasilan saat ini.

Baginya, kunci untuk bisa bangkit dari segala keraguan yang dilontarkan orang-orang adalah menganggap dirinya tidak aneh meski fisiknya tak sempurna. Tentu saja, dorongan dari pihak keluarga pun jadi salah satu faktor lain.

“Kalau saya di TK saat itu diajak ikut lomba-lomba kaya lomba lari dan tanding lawan anak-anak lain. Jadi dari dulu saya sudah aktif banget, pecicilan ke sana-sini. Anehnya itu, saya tidak merasa cacat dan tidak beda, pokoknya saya cuek. Orang tua saya pun sering mengajak untuk sosialisasi,” paparnya.

Berbagai medali yang ia peroleh dari banyak ajang olahraga di tingkat nasional maupun internasional. Di antaranya medali emas ASEAN Youth Para Games 2013, medali perak dan perunggu ASEAN Para Games 2014, tiga medali emas ASEAN Para Games 2015, serta tiga medali emas di ASEAN Para Games 2017.

Baca Juga  Singgih Kartono, Sosok Dibalik Radio Kayu Yang Menawan Dunia

Artikel Terkait

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *