Mie Lethek Khas Bantul yang Masih Eksis Hingga Kini

 Mie Lethek Khas Bantul yang Masih Eksis Hingga Kini

Kitapastibisa.id – Mie Lethek Khas Bantul yang Masih Eksis Hingga Kini – Travelingyuk

Jejak Mie Lethek Khas Bantul yang Masih Eksis – Salah satu makanan yang sangat sering kita temui di negara-negara Asia adalah mie. Menggunakan berbagai bahan dasar sesuai dengan kearifan dan bahan lokal yang tersedia. Mie merupakan salah satu bahan yang sangat bisa dikreasikan dalam berbagai tambahan campuran makanan.

Salah satu yang terkenal berasal dari Yogyakarta, yaitu mie lethek. Mie Lethek, adalah salah satu kuliner mie yang berasal dari Srandakan, Bantul, Yogyakarta dengan menggunakan bahan dasar tepung tapioka dan singkong. Proses produksi mie letheg masih dengan menggunakan cara yang tradisional. Sebutan letheg ini muncul karena mie memiliki warna yang keruh kecoklatan dan kurang menarik, tidak seperti mie pada umumnya. Mie ini tidak menggunakan pewarna zat kimia serta zat pengawet. Meski tanpa zat pengawet, mie kering bisa awet disimpan hingga lebih tiga bulan.

Sekilas, mie ini mirip seperti sohun. Nama “letheg” sendiri yang dalam bahasa Jawa berarti kotor atau tidak bersih. Itu karena warna mie letheg memang benar-benar kusam sehingga terlihat tidak membangkitkan selera makan.

Baca Juga  Cara Untuk Mengontrol Rasa Lapar

Baca Juga: Otak-Otak, Primadona Makanan Khas Daerah Pesisir

Melewati proses pembuatan yang cukup unik

Proses pembuatan mie lethek ini juga terbilang sangat unik. Menggunakan tenaga manusia dan sapi. Mie yang berasal dari bahan baku singkong dan tepung tapioka ini diproduksi dengan bantuan sapi. Tenaga seekor sapi dimanfaatkan untuk menggerakkan silinder seberat 1 ton sebagai alat pengaduk bahan baku mi. Bahan baku utamanya diaduk-aduk terdiri dari tepung singkong serta gaplek atau singkong kering. Adonan ini selanjutnya dikukus di atas tungku yang masih berbahan tanah liat. Setelah kadar airnya diatur, adonan dikukus lagi, dipotong dan kemudian dicetak menjadi mi.

Untuk mencetak, dibutuhkan sebuat alat pencetak mi yang biasa disebut dengan tarikan. Tarikan ini terbuat dari kayu tepeng dan membutuhkan sedikitnya 8 tenaga manusia untuk menggerakannya. Masing-masing orang mendapatkan pembagian tugas yang jelas. Ada yang bertugas sebagai penginjak balok kayu berdiameter 40 cm yang disebut munyuk, karena gerakannya meloncat-loncat seperti kera. Selain itu ada juga yang bertugas secara serempak untuk menarik kayu. Setelah dicetak, mi lalu dijemur pada panas matahari.

Baca Juga  Waktu Yang Tepat Untuk Konsumsi Buah

Ditemui di pabrik mie lethek Asli Bendo Cap Gadura, Yasir Ferry Ismatrada sang pemilik usaha menuturkan bahwa ia adalah pewaris usaha generasi ketiga. Pada awalnya, ada dua perusahaan dengan merek lain yang ada di sekitar Srandakan dan Bantul kota. Ketiga pabrik tersebut masih ada hubungan saudara satu sama lain.

Artikel Terkait

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *