Menyikapi Corona Dalam Pandangan Islam

 Menyikapi Corona Dalam Pandangan Islam

Kitapastibisa.id – Menyikapi Corona Dalam Pandangan Islam – Detik

Menyikapi Corona Dalam Pandangan IslamMusibah tak kunjung berhenti. Mulai dari banjir hingga akhirnya wabah. Tak sedikit orang mungkin beranggapan bahwa wabah yang mendera adalah bentuk kesialan yang menimpanya.

Di dalam Islam, beranggapan sedang sial disebut dengan thiyaroh atau thatoyyur.

Thiyaroh berasal dari kata thoirun yang artinya burung. Dahulu kala, orang Arab pada masa jahiliyah kerap menggunakan burung untuk menentukan nasib. Biasanya, ketika mereka hendak bepergian, mereka akan melihat ke arah mana burung pergi. Jika burung pergi ke arah kanan, maka hal itu pertanda baik. Jika sebaliknya, mereka percaya akan ada musibah di depan.

Thiyaroh secara umum diartikan sebagai beranggapan sial. Anggapan-anggapan sial ini cenderung ke arah kepercayaan dan bukan dari pengamatan sebab-akibat. Hal ini merujuk pada akidah orang Arab jahiliyah pada masa lampau. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran, mereka berkata: “Itu adalah karena (usaha) kami”. Dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya. Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (QS. Al A’raf: 131).

Baca Juga  Seperti Apa Ciri-ciri Orang Bertakwa?

Beranggapan sial dilarang dalam Islam. Ayat di atas menyebut bahwa segala kesialan atau keburukan datangnya dari Allah subhanahu wa ta’ala. Dan segala musibah yang datang adalah ketetapan dari Allah dengan maksud baik dari-Nya.

Lantas bagaimana kita harus menyikapi pandemi Corona dalam Pandangan Islam?

Baca Juga: Memilih Peralatan Makan Berbahan Dasar Keramik

Beranggapan Sial Adalah Syirik

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud,

“Beranggapan sial adalah kesyirikan, beranggapan sial adalah kesyirikan”. Beliau menyebutnya sampai tiga kali. Kemudian Ibnu Mas’ud berkata, “Tidak ada yang bisa menghilangkan sangkaan jelek dalam hatinya. Namun Allah-lah yang menghilangkan anggapan sial tersebut dengan tawakkal.” (HR. Abu Daud no. 3910 dan Ibnu Majah no. 3538. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Perlu diketahui bahwa musibah merupakan ketetapan Allah. Namun, beberapa hal yang menimpa diri kita boleh jadi datang karena kesalahan kita sendiri. Musibah memiliki tanda-tanda yang dapat dipahami secara logis.

Misal, mengunci pintu rumah sebelum bepergian atau meletakkan barang berharga dalam pengawasan. Jika kita lalai, maka musibah yang menimpa kita adalah bentuk dari kecerobohan kita. Bukan berarti kita sedang sial, namun lengah terhadap kemungkinan yang ada.

Baca Juga  Pelopor Batik Nasional Bernama RA Kartini

Lantas, thiyaroh sangat dekat dengan prasangka. Sebagaimana dalam surat Al-Hujurat ayat 12, Allah berfirman,

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang.” (QS. Al Hujurat: 12).

Berprasangka buruk sebagian besar adalah berdosa. Lawan dari thiyaroh adalah berprasangka baik atau disebut fa’lu. Tentu konteksnya adalah setelah musibah itu terjadi.

Ketika hal buruk menimpa, jangan kemudian kita berpikiran bahwa diri kita sedang sial. Namun, berikanlah prasangka baik soal apa yang menimpa kita. Ketahuilah bahwa keburukan datang dari Allah ta’ala dan bukan terjadi kebetulan. Bersyukurlah bahwa hal yang lebih buruk tidak terjadi lantaran Allah memberikan perlindungannya.

Berikanlah pemahaman bahwa keburukan yang menimpa boleh jadi bentuk Allah menyelamatkan diri kita dari hal yang lebih berbahaya. Dengan demikian, hati lebih tenang.

Artikel Terkait