Menjaga Kekhusyukan Ramadan

 Menjaga Kekhusyukan Ramadan

kitapastibisa.id – Menjaga Kekhusyukan Ramadan – NgopiBareng

“Aa kira kalau kita ibadah di rumah di bulan Ramadan ini bisa jauh berlimpah-limpah pahalanya. Mari kita jadikan rumah-rumah jadi masjid kita, tempat ibadah pasti akan banyak keberkahannya,” ujar Aa Gym, Pendiri Pondok Pesantren Daarut Tauhiid.

Ramadan kali ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Kemeriahan serta semarak Ramadan kian pudar kala sejumlah ibadah berjamaah harus dihentikan sementara. Wabah covid-19 memaksa umat muslim harus menjaga jarak antar sesama. Meninggalkan tak lain kerinduan akan bulan Ramadan yang semakin menggebu.

Tahun ini, umat muslim diingatkan kembali pada bentuk perjuangan dasar dari seorang pemeluk agama Islam. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah bersabda:

“Jihad yang paling utama adalah seseorang berjihad (berjuang) melawan dirinya dan hawa nafsunya” (Hadits shahih diriwayatkan oleh ibnu Najjar dari Abu Dzarr).

Boleh jadi Ramadan kali ini lebih berat. Meski hanya berada di dalam rumah saja, meski setan diikat selama bulan Ramadan, tak berarti kita terlepas godaan-godaan untuk mengingkari nikmat Allah. Kita kehilangan semangat beribadah lantaran tak ada suasana beribadah di rumah kita. Kondisi wabah membuat diri kita kian lesu, malas melakukan ibadah. Itulah makna jihad sebenarnya.

Baca Juga  Menanti Protokol Kesehatan Bagi Atlet Indonesia

Pepatah mengatakan, berlian terbentuk melalui tekanan yang luar biasa. Perumpamaan itu seakan mengingatkan kita akan kondisi saat ini. Iman yang kokoh dan akhlak yang terpuji tak lepas dari gempuran cobaan yang harus dilalui. Tentu, dilalui dalam koridor syar’i.

Baca Juga: Kenali Perbedaan Batuk Covid-19 dan yang Bukan

Berjihad di Tengah Pandemi, Meraih Ridha-Nya

Ibnu Qayyim rahimahullah pernah berkata, “Dalam ayat ini Allah mengaitkan hidayah dengan jihad. Orang yang paling sempurna hidayahnya adalah yang paling sempurna jihadnya. Jihad yang paling wajib adalah menjihadi diri sendiri, menjihadi hawa nafsu, menjihadi setan, dan menjihadi dunia.”

Ayat yang beliau maksud adalah ayat 69 surat Al-Ankabut yang bermakna, “Dan orang orang yang berjihad di jalan Kami, Kami akan memberikan kepada mereka hidayah kepada jalan jalan Kami” (Al-Ankabut: 69).”

Ibnu Qayyim rahimahullah menjelaskan bentuk-bentuk jihad yang dapat dilakukan oleh umat muslim dan yang utama ialah jihad melawan hawa nafsu yang bercokol dalam diri sendiri. Mereka yang mampu melawan empat perkara yang disebutkan tadi karena Allah, maka Allah akan menganugerahiny hidayah kepada jalan keridhaan-Nya

Baca Juga  Ngabuburit Di Rumah Saat Karantina

Perihal jihad melawan diri sendiri pernah dikisahkan melalui kisah yang dipopulerkan oleh Imam Al-Ghazali. Kisah Sari As-Saqathi, yakni seorang sufi yang tidak mau mencelupkan roti ke dalam susu, padahal ia sangat menginginkannya. Bayangkan, jika Anda begitu menyukai sebuah makanan, tetapi Anda tidak memakan makanan tersebut dengan niat melatih hawa nafsu Anda.

Kisah tersebut patut diteladani bagi kita yang sedang menjalankan ibadah puasa. Meski bukan untuk ditiru, yakni tidak makan makanan kesukaan selama 40 tahun, namun kisah tersebut mengisahkan bagaimana berjihad melawan diri sendiri dapat dimulai dari hal kecil.

Aa Gym dalam pernyataan sebelumnya menjelaskan perihal menjadikan rumah kita sebagai masjid-masjid dengan memperbanyak ibadah di dalamnya. Oleh karena itu, mari kita jadikan momen Ramadan tahun ini untuk mewujudkan hal tersebut. Jadikan rumah penuh berkah. Mulailah tingkatkan kekhusyukan diri melalui jihad pada diri sendiri. Jihad untuk konsisten melakukan ibadah sunnah sekalipun.

Artikel Terkait

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *