Mengupas Beban Algojo Terpidana Mati Nusakambangan

 Mengupas Beban Algojo Terpidana Mati Nusakambangan

Kitapastibisa.id – Mengupas Beban Algojo Terpidana Mati Nusakambangan – Brilio

Mengupas Beban Algojo Terpidana Mati Nusakambangan – “Maaf, saya hanya menjalankan tugas,” ucap sang algojo sambil mengikat terpidana pada sebuah tiang.

Ia tahu bahwa itu adalah tugasnya. Namun, siapa manusia yang sanggup menahan rasa beban terlibat dalam sebuah pembunuhan? Baginya, menarik pelatuk pada senapan tak lebih berat dari beban mental yang ia rasakan. Bukan saat melepaskan tembakan. Namun, ketika ia harus mengantarkan narapidana ke tiang eksekusi dan mengikatnya.

“Beban mental yang lebih berat itu adalah petugas yang harus mengikat terpidana, ketimbang algojo penembak,” mengutip dari guardian edisi Maret 2015.

Kisah Algojo terpidana mati Nusakambangan merupakan kisah lama. Namun, menyambut hari hukuman mati dunia, mari kembali mengkaji ihwal dampak mentalnya. Hukuman mati dapat berdampak bagi orang lain. Baik itu keluarga terpidana, petugas eksekusi, bahkan masyarakat itu sendiri.

Hari hukuman mati sedunia yang jatuh pada tanggal 10 Oktober merupakan bentuk peringatan perihal ketidakmanusiawian hukuman mati. Selain merupakan bentuk pelanggaran Hak Asasi Manusia, hukuman mati juga berdampak pada kesehatan mental.

Baca Juga  Antara Ujian dan Kasih Sayang Allah

Baca Juga: Gal Gadot Tuai Kritik karena Perannya Sebagai Cleopatra

Algojo Terpidana Mati: 5 Menit untuk Seumur Hidup

Mengupas Beban Algojo Terpidana Mati Nusakambangan
Kitapastibisa.id – Mengupas Beban Algojo Terpidana Mati Nusakambangan – Tribun

Proses eksekusi hukuman mati tak sampai 5 menit. Ketika terpidana sudah terikat dan tim penembak siap, maka eksekusi pun terjadi. Namun, dari 5 menit itu tumbuh beban yang tak hilang seumur hidup.

“Tapi sebagai manusia, saya tidak akan melupakan kejadian ini seumur hidup,” ungkap algojo yang namanya tidak disebutkan.

Ia melihat secara dekat terpidana itu. Mulai dari mengantarkannya dari sel hingga tiang eksekusi. Dari mulai terpidana masih hidup dan berbicara. Melihat raut wajahnya sebelum akhirnya kain hitam menutup wajah mereka. Bahkan, terkadang wajah mereka tidak tertutup sama sekali. Bayangkan, ia melakukan hal itu tidak hanya sekali. Namun, berkali-kali. Merenggut nyawa bukanlah perkara enteng. Belum lagi ketika ingatan itu terus menghantuinya kala ia tidur.

“Kalau cuma sekali atau dua kali tidak masalah, tapi kalau harus berkali-kali bisa mempengaruhi secara psikologi,” katanya.

“Saya inginnya tidak terus-terusan menjadi algojo. Saya juga tidak suka melakukannya. Jika ada anggota lain, biar mereka saja,” imbuhnya.

Baca Juga  Definisi Zina Beserta Jenis-jenis Zina

Ia terikat dengan sumpah prajurit. Ia tak mampu menolak perintah untuk tidak melakukan eksekusi mati. Baginya, ini merupakan tanggung jawab yang harus ia emban. Meski kesehatan mentalnya yang menjadi taruhannya.

Berkaca Pada Algojo Terpidana Mati pada Hari Hukuman Mati Sedunia

Amnesty International menilai hukuman mati adalah hukuman yang paling kejam, tidak manusiawi, dan merendahkan martabat. Oleh karenanya, organisasi internasional itu menolak dan mengecam hukuman mati. Hukuman mati tak hanya berdampak pada terpidana mati. Baik itu keluarga maupun petugas eksekusi, mereka rentan terhadap gangguan psikis. Berkaca dari kasus algojo terpidana mati, maka mereka perlu mendapat perhatian khusus perihal kesehatan mental.

Bayangkan, Data Riset Kesehatan Dasar 2018 menyebut kesehatan mental pekerja Indonesia berisiko. Berdasarkan data tersebut, setidaknya 1 dari 3 orang pekerja Indonesia memiliki masalah pada kesehatan mental. Sakit yang mendera mental tidak menunjukkan gejala layaknya penyakit pada fisik. Tidak ada tanda seperti tidak enak badan, meriang ataupun demam. Gangguan pada kesehatan mental berbentuk perasaan sedih, lelah secara pikiran, bahkan merasakan kekosongan dalam kehidupan. 10 Oktober mengingatkan khalayak dunia ihwal kejamnya hukuman mati. Tidak hanya bagi terpidana, namun juga orang lain. Dalam kasus ini, adalah petugas eksekusi yang rentan dengan gangguan psikis.

Baca Juga  Perempuan Desa Cluntang, Boyolali, Olah Mawar Jadi Makanan

Artikel Terkait