Mengenal Tradisi Tumbilotohe Dari Gorontalo

 Mengenal Tradisi Tumbilotohe Dari Gorontalo

Kitapastibisa.id – Mengenal Tradisi Tumbilotohe Dari Gorontalo – Correcto

Mengenal Tradisi Tumbilotohe Dari Gorontalo – Setiap tahun masyarakat Gorontalo selalu melakukan tradisi tumbilotohe. Sebuah tradisi memasang banyak lampu pijar yang menggunakan minyak tanah pada 10 hari terakhir bulan Ramadan sampai dengan malam Idul fitri. Hal ini menjadi tanda sukacita masyarakat Gorontalo akan keberkahan sepertiga bulan Ramadan yang didalamnya terdapat berkah malam Lailatul Qadar dan malam Idulfitri sebagai Hari Kemenangan umat muslim. Selain memasang lampu pijar, biasanya masyarakat Gorontalo akan memasang suatu rangkaian atau kerangka untuk memperindah susunan lampu pijar.

Baca Juga: Drama Korea Adaptasi Webtoon True Beauty Segera Tayang

Rangkaian Tradisi Tumbilotohe

Alikusu

Alikusu adalah semacam gapura yang dibentuk dari rangkaian lampu pijar sebagai simbol dari sebuah pintu gerbang. Hal ini diartikan sebagai tempat tinggal karena lampu-lampu yang diletakkan dalam keadaan menyala itu bermanfaat memberi penerangan agar tidak tersesat. Lampu diartikan sebagai jasad, sedangnya cahaya lampu diartikan sebagai rohnya. Bagi masyarakat Gorontalo, jumlah lampu yang harus dirangkai total ada 27 buah lampu dan disusun secara bertingkat. Susunan ini memiliki arti khusus dan sarat akan nuansa Islami.

Baca Juga  Nilai Filosofis Di Balik Batik Truntum

Lale

Dalam bahasa Gorontalo lale berarti janur kuning yang menjadi tanda kehadiran malam seribu bulan atau malam Lailatul Qadar. Lale menari-nari ini sebagai cerminan ideal masyarakat Gorontalo dengan selalu tetap riang gembira dalam menyambut Lailatul Qadar. Masyarakat Gorontalo percaya bahwa manusia secara naluri berhak bergembira, maka untuk menyambut kebahagiaan tersebut ada pula tradisi Tuwango Lipu. Dimana masyarakat dianjurkan untuk berhias diri dalam menyambut malam Lailatul Qadar.

Butulu

Butulu adalah botol kaca yang menjadi tempat lampu pijar yang diisi oleh sumbu dan minyak tanah. Yang merupakan simbol kekuatan hidup kala manusia harus tetap teguh dan sabar. Selain itu, butulu juga diartikan layaknya Alquran yang merupakan tempat dimana manusia akan mendapatkan kekuatan rohani dan kekuatan iman. Itu karena Alquran merupakan pemberi cahaya jalan kehidupan.

Tubu

Tubu yaitu sumbu lampu yang dimaknai sebagai jalan kehidupan yang berakar dan mengacu pada Alquran. Hal ini menyimbolkan gambaran untaian benang yang merupakan cerminan umat muslim Gorontalo. Yang kehidupannya untuk tetap lurus sesuai dengan ajaran dan larangan Allah SWT. Oleh karena itumenyalakan lampu pijar menggunakan nyala api dimaknai sebagai penghilangan perilaku yang kusut.

Baca Juga  Harmoni Kerajaan Turki Utsmani dengan Aceh pada Abad ke-16

Polohungo

Polohungo adalah sejenis tanaman bunga yang dirangkai dan memiliki ragam warna yang diikat menjadi satu dan digantung pada alikusu. Hal ini dimaknai sebagai warna-warni proses kehidupan yang sudah terlewati dan terangkai dari perjalanan hidup manusia. Setiap orang pasti memiliki rangkaian warnanya masing-masing, ada suka, duka, tawa, sedih, bangga, kecewa, dan sebagainya. Bahkan masyarakat Gorontalo memaknainya sebagai simbol keindahan.

Patodu

Patodu adalah tebu dalam bahasa Gorontalo. Patondu yang merupakan pemanis, bermakna agar manusia dapat mengambil nilai dari sifat patodu yang semakin tua rasanya akan semakin manis. Yang mana ini mengisyarakatkan kepada umat muslim untuk selalu memperbaiki perilaku dan berhati-hati dalam bertutur kata.

Lambi

Lambi adalah pisang yang dimaknai sebagai seorang manusia yang bersungguh-sungguh dalam pengabdiannya kepada Allah SWT. Layaknya tanaman pisang yang tidak mau mati sebelum menghasilkan buah.  Hal ini bermakna bahwa hanya Allah swt yang berhak memetik buah dari kesungguhan manusia dan memanggilnya untuk kembali kepada Sang Pencipta.

Artikel Terkait