Mengenal Kisah Ibu Siti Rahmani Rauf

 Mengenal Kisah Ibu Siti Rahmani Rauf

kitapastibisa.id – Kisah Ibu Siti Rahmani Rauf

Siti Rahmani Rauf merupakan seorang pendidik dan penulis buku peraga pelajaran Bahasa Indonesia. Pada era 1980-an dengan menggunakan tokoh Budi yang kemudian menjadi terkenal di Indonesia.

Buku peraga ini kemudian digunakan di hampir seluruh kota di Indonesia. “Ini Budi, ini ibu Budi, ini bapak Budi” menjadi kalimat yang terkenal pada saat itu. Struktur Analitik Sintesis (SAS) dianggap menyenangkan bagi siswa SD sehingga membantu para murid menjadi lebih cepat bisa membaca.

Biografi Siti Rahmani Rauf

Siti Rahmani Rauf adalah perempuan kelahiran Sumatera Barat pada 5 juni 1919. Karmeni anak perempuan dari Ibu Siti yang juga akrab disapa Eni, mengatakan beliau berkiprah menjadi seorang pendidik di Pulau Sumatera selama kurang lebih 15 tahun sejak tahun 1938 hingga tahun 1953. Pada tahun 1954, Siti kemudian pindah ke Jakarta bersama suami dan anak-anaknya.

Telah Berpulang Pahlawan Pendidikan Indonesia

Kabar duka menyelimuti dunia pendidikan Indonesia. 10 Mei 2016, Siti Rahmani Rauf penulis buku ‘Ini Budi’ mengembuskan nafas yang terakhir pada usia 97 tahun. Beliau wafat setelah selama 30 tahun berjuang melawan penyakit gula yang dideritanya.
Selepas pensiun, ibu Siti mendapatkan tawaran dari Kemdikbud untuk menulis buku bacaan bahasa Indonesia. Tanpa menerima bayaran, Ibu Siti melakukan hal tersebut dilandasi karena rasa cintanya terhadap pendidikan.

Baca Juga  Mengenal Sosok Kepahlawanan Seorang MT Haryono

Selama hampir setahun tawaran yang diberikan selesai, buku peraga yang dibuatnya itu kemudian dicetak dan disebarkan ke seluruh wilayah Jawa dan Sumatera. Atas suksesnya buku peraga yang diminati banyak sekolah, Siti Rahmani Rauf diberangkatkan haji oleh salah satu penerbit.

Pada Juni 2014 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, M Nuh resmi menghapus ‘Ini Budi’ dalam pelajaran Bahasa Indonesia. Kemendikbud menggantinya dengan kurikulum 2013 dengan beragam tokoh yang mencerminkan keanekaragaman suku di Indonesia. Misalnya ada si Edo yang keriting, mencerminkan orang Papua. Lalu ada Siti yang berjilbab, ada Dayu dari Bali, ada Lani yang sipit dari
Cina, dan ada juga si Beni dari suku Batak.

Meskipun sudah begitu renta, namun kisah dan dedikasi seorang Siti Rahmani Rauf patut untuk kita jadikan inspirasi. Terutama bagi generasi muda, keinginan untuk memberikan yang terbaik bagi negara adalah hal yang wajib ditanamkan sejak dini. Tentunya kita bisa menjalankan hal tersebut lewat beragam cara salah satunya dengan berprestasi.

Artikel Terkait

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *