Mencari Akar Isu Rasisme dari Sudut Pandang Islam

 Mencari Akar Isu Rasisme dari Sudut Pandang Islam

Kitapastibisa.id – Mencari Akar Isu Rasisme dari Sudut Pandang Islam -goodnewsfromindonesia

Mencari Akar Isu Rasisme dari Sudut Pandang Islam – Bulan Juni 2020 isu diskriminasi dan rasisme ramai diperbincangkan di dunia. Kasus kematian George Floyd memicu aksi solidaritas dunia terhadap penindasan kaum kulit hitam. Dari barat hingga timur, seluruh dunia menyuarakan keadilan rasial. Tak terkecuali di Indonesia.

Momen tersebut digunakan untuk mengingatkan kembali diskriminasi rasial yang dialami oleh masyarakat Papua. Seperti artikel yang dimuat oleh tirto.id yang bertajuk ‘Kasus Rasisme & Represi seperti George Floyd Berulang di Indonesia’, Indonesia turut menyuarakan keadilan rasial.

Dalam pandangan agama Islam, tindak rasisme dan diskriminasi tidak dibenarkan. Islam tidak pernah mengajarkan perilaku sebagaimana demikian. Sebaliknya, Islam mengajarkan umatnya untuk berperilaku baik serta saling mengenal satu sama lain. Hal tersebut disampaikan dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala,

 “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. (Al-Hujurat: 13)

Baca Juga  Anak Jenius Indonesia, Cendikiawan Suryaatmadja

Semua ras dan suku di mata Allah adalah sama. Yang membedakan satu dengan lainnya adalah ketakwaannya kepada Sang Pencipta. Hal senada juga disampaikan oleh Nabi shallallahu alaihi wa salam,

“Lihatlah, engkau tidaklah akan baik dari orang yang berkulit merah atau berkulit hitam sampai engkau mengungguli mereka dengan takwa.” (HR Ahmad)

Lantas, bagaimana Islam memandang sebab isu rasial?

Baca Juga: Waspada Nafsu yang Tersembunyi

Cara Islam Memandang Isu Rasisme

Sejak dahulu kala, Islam telah menentang perilaku rasisme dan diskriminasi. Salah satu kisah yang sangat terkenal adalah kisah Bilal bi. Rabah. Ia merupakan seorang budak berkulit hitam yang mendapatkan derajat yang tinggi di antara sahabat Nabi.

Dalam sebuah hadis, Rasul shallallahu alaihi wa salam mengimbau umat Islam untuk memperlakukan budak bahkan seperti saudara sendiri. Ini merupakan bukti bahwa Islam mempersempit praktik perbudakan, diskriminasi, dan rasisme. Faktanya, budak kerap diperlakukan semena-mena dan kasar oleh majikannya. Mari simak sabda Nabi berikut ini,

”Mereka (para budak) adalah saudara dan pembantu kalian yang Allah jadikan di bawah kekuasaan kalian, maka barang siapa yang memiliki saudara yang ada dibawah kekuasaannya, hendaklah dia memberikan kepada saudaranya makanan seperti yang ia makan, pakaian seperti yang ia pakai. Dan janganlah kamu membebani mereka dengan pekerjaan yang memberatkan mereka. Jika kamu membebani mereka dengan pekerjaan yang berat, hendaklah kamu membantu mereka.” [HR. Bukhari I/16, II/123-124]

Baca Juga  Nama Setan dalam Islam dan Tugas Mereka

Bahkan Islam mengajarkan umatnya untuk membebaskan budak sebagaimana dalam hadis disampaikan,

“Siapa saja seorang muslim yang membebaskan seorang budak yang muslim, maka perbuatannya itu akan menjadi pembebas dirinya dari api neraka.” [HR. Tirmidzi, Imam al-Mundziri berkata, hadis ini diriwayatkan oleh Tirmidzi dan beliau mengatakan hadis ini hasan shahih (no.1547)]

Akar Rasisme dalam Pandangan Islam

Islam juga membahas akar permasalahan tindak rasisme. Dalam artikel bertajuk ‘Rasisme: Diskriminasi Ras Menurut Pandangan Islam’ ta’ashub atau sikap fanatik menjadi penyebab utamanya. Sikap berlebihan mencintai sesuatu golongan, sosok tokoh, atau ajaran tertentu berpotensi menciptakan kelompok-kelompok. Ini yang disampaikan oleh Abu Umar rahimahullah sebagai cikal bakal perselisihan pendapat.

Fanatik mendorong perasaan benar sendiri yang berujung kepada diskriminasi. Bahkan, boleh jadi memunculkan rasisme sebagaimana white supremacy yang dikecam dunia. Oleh karenanya, Islam tidak membenarkan sikap fanatik. Imam Ibnu al- Qayyim berpesan,

“Sesungguhnya hal yang paling pantas dan paling utama untuk orang saling berlomba dan berpacu adalah meraih sesuatu yang bisa menjamin kebahagiaan hidup di dunia maupun di akhirat dan bisa memberi petunjuk pada jalan yang mengantarkan pada kebahagiaan itu.”

Baca Juga  Siapakah yang Wajib Menafkahi Orang Tua?

Artikel Terkait