Menanam Benih Toleransi Bersama SabangMerauke

 Menanam Benih Toleransi Bersama SabangMerauke

Kitapastibisa.id – Menanam Benih Toleransi Bersama SabangMerauke – indonesiaone

Menanam Benih Toleransi Bersama SabangMerauke – Keberagaman merupakan nafas yang tak mungkin lepas dari Nusantara dan Indonesia. Menjadi berbeda, dan beragam bukanlah sebuah kelemahan yang harus diperdebatkan. Keberagaman bisa bertahan dengan jalinan toleransi, dan rasa hormat serta menghargai antar sesama. Indonesia, merupakan sebuah bangsa besar yang dibangun dengan semangat perjuangannya yang tinggi. Tak elok rasanya jika semangat dan perjuangan ini, pada hari ini satu per satu runtuh karena rendahnya rasa saling menghargai, dan menjadikan perbedaan sebagai jurang pemisah.

SabangMerauke lantas hadir, menjadi salah satu penyejuk untuk memupuk kembali bagaimana menjadi berbeda adalah sebuah kekuatan yang harusnya dijaga, dan dieratkan oleh sebuah rasa kemanusian yang indah dan bersahaja.

Baca Juga: Menjadi Bagian dari Perubahan untuk Menjaga Bumi

Program SabangMerauke 

Melalui program SabangMerauke (Seribu Anak Bangsa Merantau untuk Kembali) mencoba untuk menanamkan nilai tambah, memupuk kembali rasa dan wujud toleransi, pendidikan, dan kenegaraan. Program yang digagas oleh Ayu Kartika Dewi, Aichiro Suryo, dan Dyah Widiastuti. Pada 2012 ini mempertemukan banyak anak-anak dari berbagai latar belakang yang berbeda dari seluruh wilayah nusantara.

Baca Juga  Elliot Handler, Tokoh di Balik Pamor Mainan Hot Wheels

Jika kita membuka dan mencoba untuk memahami sabangmerauke.id, program ini merupakan program pertukaran pelajar antar daerah di Indonesia. Bertujuan untuk menanamkan semangat pembaruan, membuka cakrawala anak-anak Indonesia dan menanamkan nilai toleransi pada kebinekaan.

Dalam program tersebut, para pelajar akan ditampung relawan SabangMerauke. Ada dua jenis relawan Sabang Merauke: Famili Sabang Merauke dan Kakak Sabang Merauke. Selama dua minggu, pelajar yang masuk program Anak Sabang Merauke tinggal bersama Famili Sabang Merauke. Pelajar tersebut dibimbing guru yang masuk sebagai Kakak Sabang Merauke.

Pada sebuah fase hidupnya, ketika Ayu memilih keluar dari sebuah perusahaan besar dan bergabung dengan gerakan Indonesia Mengajar, untuk mengabdikan hidupnya selama satu tahun menjadi seorang guru ajar di  timur Indonesia memberinya makna dan perjalanan penting untuk membentuk dirinya menjadi seperti saat ini.

Pengalamannya mengajar di Halmahera Selatan semakin membukakan matanya. Daerah itu sempat terdampak konflik Maluku pada 1998-2000. Meski tidak ada lagi pertikaian, anak-anak di wilayah itu masih trauma dengan konflik. Apalagi kebencian terhadap umat yang berbeda agama masih terus ditanamkan orang tua mereka.

Baca Juga  Supian Nor, Pengrajin Sedotan Ramah Lingkungan dari Banjarmasin

SabangMerauke adalah sebuah semangat yang ia wujudkan untuk memberi sumbangsih pada benih-benih toleransi agar terus tumbuh dan tak tercerabut dalam setiap diri anak Indonesia.

Artikel Terkait