Memayu Hayuning Bawana, Nilai Kehidupan Masyarakat Jawa

 Memayu Hayuning Bawana, Nilai Kehidupan Masyarakat Jawa

Kitapastibisa.id – Memayu Hayuning Bawana, Nilai Kehidupan Masyarakat Jawa – Kepek Wonosari

Memayu Hayuning Bawana, Nilai Kehidupan Masyarakat Jawa – Memayu hayuning bawana adalah nilai tentang kehidupan dalam kebudayaan Jawa yang memiliki arti memperindah keindahan dunia. Filosofi ini sering kali digunakan oleh Orang Jawa sebagai falsafah hidup dan nilai moral yang harus dimiliki setiap orang.

Memayu Hayuning Bawana memiliki relevansi dengan Kejawen. Dimana Memayu hayunig bawana dipandang sebagai sebuah spiritualitas budaya. Orang Jawa menghayatinya sebagai realitas hidup sebagai upaya melindungi keselamatan dunia baik lahir maupun batin. Dengan memperindah keindahan dunia, serta memelihara dan memperbaiki lingkungan fisiknya. Sedangkan disisi lain manusia juga dituntut untuk memelihara dan memperbaiki lingkungan spritualnya. Orang Jawa menyebutkan bahwa manusia hendaknya arif lingkungan, tidak merusak dan berbuat semena-mena.

Dr. Budya Pradipta pernah menulis buku berjudul Memayu Hayuning Bawana yang menjelaskan bahwa kata memayu berasal dari kata hayu yang berarti cantik (ayu), indah atau selamat. Setelah mendapat awalan ma, maka berubah menjadi mamayu yang artinya mempercantik, memperindah atau meningkatkan keselamatan. Dalam keseharian, kata mamayu inilah yang seringkali diucapkan sebagai memayu.

Baca Juga  Memajukan Budaya Literasi Melalui Gerakan Buku Indie

Sedangkan kata hayuning,  berasal dari kata dasar hayu  yang mendapatkan kata ganti kepunyaan ning, serupa nya dalam Bahasa Indonesia sehingga kemudian berarti cantiknya, indahnya, selamatnya atau keselamatannya. Maka memayu hayuning, dengan demikian dapat diartikan atau diterjemahkan bebas sebagai mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan.

Kata Bawana berarti dunia, tapi bukan hanya dunia dalam pengertian lahir, melainkan juga dalam pengertian dunia batin, jiwa atau rohani. Karena untuk pengertian lahiriah, ragawi, atau jasmaniah untuk dunia, dalam Bahasa Jawa dipergunakan kata buwono mengacu pada dunia dalam arti fisik.

Baca Juga: Dewa-Dewi Yang Melagenda Dalam Mitologi Yunani

Menerapkan Filosofi Memayu Hayuning Bawono

Penerapan filosofi ini dapat diartikan dengan mengusahakan atau mengupayakan keselamatan, kebahagiaan, dan kesejahteran hidup baik di dunia maupun di akhirat. Falsafah ini mengatur kehidupan yang secara vertikal yakni mengatur tata hubungan antara manusia dengan Sang Pencipta. Dan secara Horizontal, yakni mengatur tata hubungan antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam tempatnya hidup, serta hubungan antara manusia dengan makhluk hidup lain, di antaranya hewan dan tumbuhan.

Baca Juga  Padu Padan Kebaya dengan Sentuhan Kekinian

Tata hubungan inilah yang kerap disebut sebagai ajaran Tri Satya Brata, atau Tiga Ikrar Kesetiaan Pengendalian Diri. Pertama, Rahayuning bawana kapurba waskitaning manungsa, yang berarti bahwa  kesejahteraan dunia tergantung manusia yang memiliki ketajaman rasa. Kedua, Darmaning manungsa mahanani rahayuning negara, yang berarti bahwa tugas hidup manusia adalah menjaga keselamatan negara. Ketiga, Rahayuning manungsa dumadi karana kamanungsane, yang berarti bahwa keselamatan manusia itu tergantung pada kemanusiaannya sendiri.

Itulah makna dari Tiga Ikrar Kesetiaan Pengendalian Diri yang hendaknya menjadi pedoman hidup bagi kita agar tercipta keselarasan dunia dan alam semesta. Dengan pedoman itulah diharapkan agar semua penghuni dunia merasa aman, nyaman, damai, tenteram dan bahagia lahir-batin.

Artikel Terkait