Memaknai Cinta Dalam Pandangan Islam

 Memaknai Cinta Dalam Pandangan Islam

Kitapastibisa.id – Memaknai Cinta Dalam Pandangan Islam – Pinterst

Memaknai Cinta Dalam Pandangan Islam – Islam adalah agama yang sempurna. Kesempurnaan Islam mencakup segala aspek kehidupan manusia. Mulai dari yang remeh-temeh hingga hal yang menjadi esensi dalam hidup. Islam membimbing umatnya untuk mendapatkan kehidupan yang damai dan bahagia baik dalam dunia maupun akhirat.

Kesempurnaan Islam juga meliputi salah satu materi yang selalu menjadi buah bibir manusia, yakni cinta. Materi itu, cinta, kerap kali menjadi bahasan umat manusia. Makna dari cinta begitu banyak, tergantung siapa yang memaknai. Boleh jadi cinta itu menyakitkan. Boleh jadi, cinta itu menyembuhkan.

Begitu banyak definisi cinta membuat manusia tersesat dalam meraihnya. Berbagai cara mereka lakukan atas nama cinta yang tak jarang berujung petaka. Atas nama cinta, seseorang menyakiti. Atas nama cinta pula seseorang dapat hidup bahagia.

Secara umum, cinta merupakan limpahan kasih sayang. Dalam Islam, cinta pun memiliki panduan agar ia tidak menjadi petaka pada hari kemudian. Cinta menurut pandangan Islam dapat bermakna sebagai kepatuhan terhadap ajaran agama. Hal tersebut sebagaimana Ibnu Katsir menjelaskan ihwal cinta.

Baca Juga  Hukum Memakan Daging Tupai, Halal atau Haram?

Mengapa kepatuhan menjadi penjelasan atas cinta? Dan, bagaimana agama Islam memandu umatnya untuk melaksanakan cinta?

Baca Juga: Barirah dan Mughits: Kala Cinta Bertepuk Sebelah Tangan

Memaknai Cinta

Cinta adalah suci, sebuah rahmat dari Allah yang tiada dua. Cinta mampu memberikan rasa tentram, nyaman, damai dan kerukunan tergantung kepada siapa ia berlabuh. Dalam surat Al-Imran ayat 14 Allah ta’ala berfirman,

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).”

Dari ayat tersebut kita dapat belajar bahwa cinta dalam Islam mengusung ketenangan yang abadi. Dr. Seyyed Hossein Nasr dalam karyanya “The Garden of Truth” menjelaskan hal ini. Alasan mengapa cinta lekat dengan keimanan dan kepatuhan terhadap Allah adalah karena makna dari cinta itu sendiri.

Sebagai salah satu nikmat Allah, maka sudah sepatutnya cinta memberikan ketenangan kepada pemeluknya. Allah subhanahu wa ta’ala tidak menginginkan hambanya jatuh sakit dan sengsara akibat cinta. Itu sebabnya cinta harus berlabuh pada kepatuhan.

Baca Juga  Tiga Cara Untuk Menghindari Dosa Zina

Mengapa kepatuhan? Ketika cinta berlabuh pada zat yang lekang oleh waktu, maka cinta itu akan menampakkan wujudnya dalam bentuk kesengsaraan. Zat yang lekang oleh waktu, seperti benda, makhluk atau materi punya batas waktu dan aka binasa pada waktunya. Ketika cinta berlabuh pada mereka, seseorang akan merasakan pedihnya kehilangan. Lantas, cinta pada makna seperti ini akan berujung pada rasa sakit.

Allah ta’ala melalui ajaran Islam tidak menghendaki hal tersebut. Oleh karenanya, cinta bermakna kepatuhan yakni melabuhkan cinta pada zat yang tak lekang oleh waktu. Allah subhanahu wa ta’ala merupakan zat yang tak lekang oleh waktu dan Maha segalanya. Sehingga, kala melabuhkan cinta kepada-Nya, maka tidak ada kata sedih dalam cinta.

Artikel Terkait