Memajukan Budaya Literasi Melalui Gerakan Buku Indie

 Memajukan Budaya Literasi Melalui Gerakan Buku Indie

Kitapastibisa.id – Memajukan Budaya Literasi Melalui Gerakan Buku Indie – Republika

Memajukan Budaya Literasi Melalui Gerakan Buku Indie – Dunia literasi yang memang selalu menjadi bagian dari perkembangan dunia sudah sewajarnya memiliki jalurnya sendiri. Ditengah maraknya buku dengan terbitan digital, masih banyak juga diantara para pembaca yang tak bisa berpaling dari buku cetak. Aroma kertas, dan lebih bersahabat di indera penglihatan tetap menjadikan buku fisik idola banyak pembaca.

Pun banyak sekali penulis pemula yang kemudian bermunculan namun memiliki kendala untuk menerbitkannya. Karena untuk bisa mencetak buku perlu adanya perjanjian antara penulis dan penerbit yang sulit ditembus untuk penulis pemula. Namun, berkat semangat komunitas para pecinta buku di Yogyakarta, lahirlah sebuah penerbit indie pada tahun 2009. Indie Book Corner (IBC)  membantu para penulis pemula maupun senior untuk menerbitkan buku secara mandiri, yakni dengan biaya cetak dari penulis sendiri.

Baca Juga: Pentingnya Minum Air Putih Bagi Kesehatan

Komunitas Indie Book Corner 

Indie Book Corner merupakan sebuah proyek yang digawangi oleh Irwan Bajang bersama Anindra Saraswati. Di sela-sela kegiatannya menulis dan menyunting naskah, mereka menyempatkan untuk membantu penulis-penulis pemula yang ingin menerbitkan bukunya.

Baca Juga  Pilihan Menu Untuk Meningkatkan Nafsu Makan

Banyak buku yang ditolak penerbit major label, padahal belum tentu buku itu jelek dan tidak layak baca. Kebanyakan masalahanya terletak pada tinjaun pasar dan perhitungan untung rugi. “Indie Book Corner” lahir untuk menjawab tantangan itu dan memberi solusi.

Sudah saatnya, buku akan gampang diproduksi, meskipun dalam jumlah yang barangkali tak sebanyak produksi penerbit konvensional. Biarkan penulis mempublikasi bukunya dan pembaca menikmati apapun jenis buku tanpa harus kompromi dengan pasar.

Di IBC semua penulis berhak menerbitkan buku. Semua naskah bisa terbit, dan tentu saja dalam jumlah terbatas, bahkan bisa dihitung jari. Pertama kali menerbitkan, kami hanya mencetak 10 eksemplar untuk satu judul. IBC tidak memberi royalti, tapi penulis menentukan royalti dari bukunya (kalau buknya dijual).

Menurut Irwan, Indie Book ini bukan penerbit, tapi lebih tepatnya sebuah “gerakan perbukuan/gerakan buku indie”. Mereka ingin mengampanyekan bagaimana buku biar mudah diproduksi, diedarkan, dibaca dan diapresisi. Mereka berfokus kepada bagaimana menghadirkan sebuah “cara” menerbitkan alternatif, di tengah pusaran dunia perbukaun yang memang tak bisa terlepas dari “kapital”.

Baca Juga  Pesona Taman Nasional Lorentz di Papua

Indie Book berusaha memberi tahu, bagaimana cara menerbitkan buku. Jadi, kalau semua orang sudah tahu bagaimana cara menerbitkan buku, bisa jadi kelak IBC sudah tidak dibutuhkan lagi. Dan kami akan bahagia sebab cita-cita kami terpenuhi: semua penulis bisa menerbitkan karyanya dalam bentuk buku.

Artikel Terkait

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *