Tradisi Megengan Menyambut Ramadan yang Sarat Makna

 Tradisi Megengan Menyambut Ramadan yang Sarat Makna

kitapastibisa.id – Tradisi Megengan Menyambut Ramadan yang Sarat Makna – Tempo

Jawa Timur mempunyai budaya khas untuk menyambut bulan Ramadan yang dinamakan tradisi megengan. Megengan berasal dari kata “Megeng” yang artinya menahan. Jadi, “Megengan” mengandung arti dan filosofi untuk menahan segala hal yang membatalkan ibadah puasa. Seperti makan dan minum, serta hal lain yang membatalkan puasa. Megengan juga berarti keselamatan agar tetap terjaga dengan baik menghadapi bulan Ramadan.

Tradisi Megengan ditandai dengan selamatan yang diadakan di masjid, mushola atau langgar setempat. Biasanya berbagai menu makanan dan jajanan digabung menjadi satu. Selanjutnya, dengan dipimpin pemuka agama, didoakan untuk keselamatan dan kekuatan dalam menjalankan ibadah puasa.

Pada dasarnya, tradisi Megengan di Jawa Timur adalah sama. Namun, ada perbedaan sedikit dalam cara penyajian sarana doa seperti nasi selamatan dan jajanan khas daerah. Biasanya, masing-masing orang mengadakan acara Megengan secara pribadi di rumah.

Baca Juga: 6 Tips Lawan Kantuk Selama Work From Home

Megengan di Bulan Ramadan

Megengan bisa berarti menahan. Dalam konteks bulan Ramadan, Megengan berarti menahan hawa nafsu yang terkait dengan makan, minum, berhubungan seksual, dan lain sebagainya. Sebagaimana dijelaskan Nur Syam, tradisi Megengan bisa menjadi penanda bagi umat Islam untuk melakukan persiapan khusus menjelang datangnya bulan suci Ramadan.

Baca Juga  Zakat Fitrah Bisa jadi Solusi di Tengah Pandemi

Diketahui bersama, Islam memang sangat menganjurkan kaumnya untuk menahan nafsu. Dalam kehidupan sehari-hari manusia memang tidak bisa dilepaskan dari nafsu, seperti nafsu makan, nafsu biologis, dan lain sebagainya. Tetapi apabila nafsu itu tidak dikendalikan, justru bisa menjerumuskan manusia ke lembah kenistaan.

Dikutip dari nursyam.uinsby.ac.id, dalam Islam dikenal nafsu mutmainnah. Nafsu mutmainnah adalah nafsu keberagamaan atau etis yang mendasarkan tindakan manusia pada ajaran agama. Nafsu inilah yang akan menuntun manusia untuk tetap berada di jalan iman dan Islam. Umat Islam yang mengembangkan nafsu mutmainnah akan dijamin keselamatannya dalam mengarungi bahtera kehidupan.

Acara Megengan di Ngawi Jawa Timur sungguh berbeda. Megengan biasanya diadakan setelah sholat ashar, sehari menjelang bulan Ramadhan. Setiap kepala keluarga yang berada di sekitar masjid, mushola atau langgar membawa nasi selamatan (Jawa: sego berkat) tersebut ke masjid, mushola atau langgar setempat.

Nasi selamatan ditaruh di tempat khusus dan dibungkus dalam kantong plastik. Isinya (toping) bebas sesuai dengan masing-masing orang. Tetapi, biasanya selain nasi berisi sayur, lauk pauk dan kue khas Jawa Timur. Selanjutnya, nasi selamatan tersebut dikumpulkan menjadi satu untuk didoakan oleh ustad atau kyai (modin).

Baca Juga  Beberapa Tips Nyaman Bekerja Dari Rumah Selama Pandemi

Artikel Terkait

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *