Maya Skolastika, Membangun Semangat Petani Organik

 Maya Skolastika, Membangun Semangat Petani Organik

Kitapastibisa.id – Maya Skolastika, Membangun Semangat Petani Organik – Kumparan

“Entah apa memang sudah takdir, di semester V, saya dapat pelajaran tentang pertanian organik. Dari situ, ketertarikan saya untuk bertani kian besar,” ucap Maya Skolastika Boleng.

Di saat anak muda lainnya bermimpi menjadi seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS), Maya Skolastika justru ingin menjadi petani organik. Lulusan sastra Inggris Universitas Negeri Surabaya itu bahkan sejak kecil sudah memimpikan menjadi seorang petani. Namun, semangat meraih mimpinya tak pernah padam. Pada tahun 2016, Maya mendapat penghargaan Duta Petani Muda Pilihan Oxfam Indonesia.

Bukan pilihan Maya untuk mengambil jurusan sastra Inggris. Namun atas keinginan orang tuanya, Maya akhirnya menekuni bidang tersebut. Bagaikan sebuah takdir, di semester ke V Maya bertemu dengan mata kuliah impiannya, yakni pertanian organik. Bak harimau yang terbangun setelah tertidur pulas, Maya bergegas melampiaskan hasrat bertaninya. Selang satu semester, Maya tak tanggung-tanggung mengaplikasikan ilmu yang ia dapat. Ia bekerja sebagai petani di lahan kering sambil kuliah.

Selain bekerja sebagai petani, pada kesempatan lain Maya membuka usaha pertaniannya sendiri. Ia menyewa lahan seluas 3.000 meter persegi di Pacet, Mojokerto. Langkah awal usaha pertaniannya itu menarik sejumlah anak muda. Pada saat itu, terdapat sekitar 10 anak muda yang ingin bergabung dengannya. Meski tak berbekal ilmu dan pengalaman bisnis pertanian, Maya menggarap lahannya hanya bermodalkan semangat. Untuk menutupi kekurangannya itu, ia giat belajar teknik pertanian secara online.

Baca Juga  Arini Subianto, Tekad, Kegigihan, dan Kerja Keras

Tahun 2009, Maya usahanya untuk pertama kali membuahkan hasil. Kelompok tani muda Maya berhasil memproduksi bermacam-macam sayuran dan buah-buahan berkualitas apik. Bahkan, produk pertaniannya dikirim ke 7 supermarket di Surabaya.

Namun, lantaran tak berbekal ilmu bisnis, usahanya terbentur keterbatasan dana. Saat permintaan sedang tinggi, Maya justru harus merelakan usaha taninya. Kegagalan itu membuatnya kecewa, hingga ia pergi ke Denpasar untuk bekerja di biro perjalanan.

Baca Juga: Pentingnya Menggunakan Sunscreen

Jatuh Bangun Maya Skolastika, Pertanian Organik Tak Bisa Jadi Seketika

Kecewa adalah hal yang lumrah. Kegagalan tentu meninggalkan luka yang tak jarang parah. Maya pergi meninggalkan usaha taninya di Surabaya dan bekerja di biro perjalanan di Denpasar, Bali. Selang 6 bulan bekerja di sana, benaknya tak berhenti memikirkan asanya di bidang pertanian organik. Untuk itu, ia memutuskan untuk berhenti bekerja dan kembali mengejar impiannya.

Berbekal kesalahannya yang lalu, Maya kembali merintis lahan tani seluas 3.000 meter persegi. Tak seperti sebelumnya, usaha pertaniannya ini menjadi satu-satunya pekerjaan Maya saat itu. Ia bersama petani mudanya kembali menggeluti pertanian organik. Setelah 1 tahun berjuang bersama, pada Tahun 2013, Maya dan kelompok taninya mulai merasakan buah dari jerih payah mereka. Lebih manis dari usahanya yang pertama, hasil usaha pertanian organiknya kala itu berhasil menembus dapur hotel.

Baca Juga  Mengenal Kisah Ibu Siti Rahmani Rauf

Keberhasilannya itu tak serta merta membuatnya jemawa. Ia memasang target baru bagi kelompok taninya, yakni menembus pasar rumah tangga. Totalitas dibumbui dengan cita-cita menggerakkanya untuk meraih target yang ia ciptakan. Kerja keras kelompok taninya berhasil menggaet 1.200 rumah tangga yang menjadi pelanggan tetap. Sekitar 70 sampai 80 kg hasil lahan pertanian organik ke rumah tangga hingga pasar swalayan.

Pelanggan tetap yang berlimbah membuat usahanya semakin stabil. Maya memanfaatkan waktu yang semakin luang itu untuk meningkatkan kemampuan berbisnis, serta pelayanan usahanya. Salah satu yang ia kembangkan adalah edukasi pertanian organik kepada pelanggan rumah tangga tetapnya.

Bisnis yang Merambah ke Sektor Edukasi

Maya Skolastika, Membangun Semangat Petani Organik
Kitapastibisa.id – Maya Skolastika, Membangun Semangat Petani Organik – Trubus

Kesadaran akan hidup sehat menjadi salah satu faktor berkembangnya pertanian organik. Maya yang sadar akan hal tersebut tak pernah ragu untuk menularkannya kepada orang lain. Terutama anak-anak muda. Anak-anak muda di Pacet, Jombang, menjadi sasaran utama si pegiat pertanian organik itu. Sekitar 25 anak muda ikut bersama Maya untuk belajar pertanian organik. Bahkan, sejumlah ibu-ibu rumah tangga.

Baca Juga  Gangsadewa Kelompok Musik Tradisional Yang Mendunia

Geliat pertanian organik Maya membuatnya meraih penghargaan Duta Petani Muda Pilihan Oxfam Indonesia. Ia bahkan diberikan kesempatan untuk berbagi ilmu di wilayah lain, salah satunya di Kota Kupang. Baginya bertani adalah tanggung jawab semua orang, khususnya anak muda. Ia ingin meneruskan semangat dan ilmunya kepada pemuda-pemudi Indonesia agar sektor pertanian Indonesia dapat terus berkembang.

Ke depannya, ia berharap anak muda mampu berkaya dan mengembangkan sektor pertanian Indonesia. Banyak dari golongan pemuda-pemudi Indonesia yang memandang pertanian sebelah mata. Untuk itu, Maya memutuskan untuk membuka mata anak muda Indonesia mengenai asyiknya pertanian organik.

Artikel Terkait

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *