Malam Satu Suro, Tradisi Pensucian Diri

 Malam Satu Suro, Tradisi Pensucian Diri

Kitapastibisa.id – Malam Satu Suro, Tradisi Pensucian Diri – Tribun

Malam Satu Suro, Tradisi Pensucian Diri – Satu Suro merupakan adalah hari pertama dalam kalender Jawa di bulan Suro yang bertepatan dengan 1 Muharram pada kalender Islam. Dalam budaya Jawa, malam satu suro menjadi hal yang istimewa. Dan biasanya diisi dengan beberapa perayaan sakral.

Masyarakat suku Jawa menyelenggarakannya beberapa tradisi. Salah satunya adalah tradisi siraman malam. Proses siraman ini menggunakan air yang dicampur dengan kembang tujuh rupa. Tradisi ini memiliki makna sebagai bentuk menyucikan diri guna menyatukan jiwa raga dengan alam semesta. Siraman yang biasa disebut dengan “sembah raga” ini merupakan pertanda dimulainya hidup baru di tahun yang baru dan diiringi dengan tirakat menjaga dan menyucikan hati, pikiran serta panca indera dari hal yang negatif.

Dalam prosesi siraman ini, dilakukan ritual mandi dengan mengguyur badan dari ujung kepala hingga sekujur badan. Serta diharuskan untuk membaca doa memohon perlindungan dan ampunan kepada Tuhan. Ada yang malakukan siraman sebanyak 7 kali, bisa juga 11 kali dan 17 kali. Hal ini memiliki makna tersendiri, yakni untuk siraman yang ketujuh (pitu) merupakan doa meminta pitulungan atau pertolongan kepada Tuhan. Kemudian 11 kali siraman atau dalam bahasa jawa sewelas merupakan doa agar Tuhan memberikan kewelasan atau belas kasih. Sedangkan 17 atau pitulas artinya Tuhan memberikan pitulungan dan kewelasan.

Baca Juga  Pesona Taman Nasional Lorentz di Papua

Selain tradisi siraman, tradisi selanjutnya ialah tapa mbisu atau menjaga segala perkataan dengan mengucapkan yang baik-baik saja. Serta berziarah ke makam para leluhur dan menyiapkan sesaji bunga setaman di dalam wadah air untuk menghormati para leluhur yang akan berkunjung ke rumah. Ada juga tradisi kirab budaya dan kirab mubeng benteng seperti yang dilakukan di Keraton Yogjakarta. Yaitu mengarak benda pusaka mengelilingi benteng keraton tanpa diperbolehkan untuk berbicara, dan lain-lainnya.

Baca Juga: Tradisi Rujak Gobet Dalam Acara Tujuh Bulanan

Sejarah Perayaan Tradisi Malam Satu Suro

Malam Satu Suro, Tradisi Pensucian Diri
Kitapastibisa.id – Malam Satu Suro, Tradisi Pensucian Diri – Liputan6

Awal mulanya, malam satu suro sudah ada di era Kerajaan Mataram Islam pada masa pemerintahan Sultan Agung Hanyokrokusumo yang ingin memperluas ajaran agama Islam di Jawa dengan memadukan tradisi agama Islam dengan Jawa. Sehingga, beliau memadukan kalender Hijriah dengan kalender yang merupakan warisan Hindu. Maka, lahirlah tanggal 1 Suro yang bertepatan dengan 1 Muharram.

Masyarakat Jawa juga meyakini selama bulan Suro harus terus bersikap waspada, dan bersyukur selalu ingat bahwa siapa kedudukannya sebagai ciptaan Tuhan. Sedangkan, waspada artinya harus waspada dengan godaan yang menyesatkan atau tipu dunia.

Baca Juga  Makna Dibalik Stagen, Kain Tradisional Asal Jawa

Terlepas dari banyaknya tradisi yang ada di malam suro, peringatan ini perlu untuk tetap dilakukan sebagai rasa bersyukur kepada Tuhan dan sebagai wujud pembaharuan diri atau mempersiapkan diri menjadi pribadi yang lebih baik lagi dalam setahun kedepan. Dengan diselingi pembacaan doa, karena tradisi ini memberikan makna pada ketentraman batin serta keselamatan.

Artikel Terkait