Makna Tifa Dalam Persaudaraan Masyarakat Maluku

 Makna Tifa Dalam Persaudaraan Masyarakat Maluku

Kitapastibisa.id- Makna Tifa Dalam Persaudaraan Masyarakat Maluku – Talde Brooklyn

Makna Tifa Dalam Persaudaraan Masyarakat Maluku – Tifa merupakan salah satu alat musik yang menjadi identitas kultural masyarakat Maluku. Alat ini juga sangat kental dengan identitas masyarakat Maluku. Bagi masyarakat Maluku, tifa bukan sekadar alat musik. Melainkan menjadi sebuah suara persaudaraan dan persatuan.

Tifa milik masyarakat Maluku, memiliki perbedaan bentuk dengan tifa Papua. Tifa yang berasal dari Papua memiliki pegangan di sampingnya dengan bentuk yang lebih ramping. Sedangkan dari Maluku hanya berbentuk tabung tapa memiliki pegangan.

Tifa sering digunakan untuk mengiringi upacara-upacara adat, tarian tradisional, serta tarian perang. Misalnya tari Cakalele yang menggambarkan suasana peperangan masyarakat Maluku zaman dulu.

Tifa juga memiliki nama yang berbeda-beda. Di Maluku bagian tengah, tifa disebut sebagai tihal atau tahito. Sementara di Maluku sebelah utara, tifa dibuat dari pohon sukun atau pohon eh dengan bentuk dan ukuran yang dibuat beragam. Sedangkan di pulau Aru, tifa biasanya dikenal dengan nama Titi.

Tihal atau tahito ini memiliki bentuk seperti gendang yang bulat dan pendek. Pada bagian pinggir tihal terdapat anyaman tali rotan dengan beberapa kayu kecil yang disebut badeng. Bagian sisi yang dipukul juga umumnya menggunakan kulit kambing sementara sisi lainnya dibiarkan terbuka.

Baca Juga  Filosofi Mendalan Dibalik Rumah Adat Suku Huaulu

Tihal atau tahito di Maluku bagian tengah biasanya dimainkan menggunakan tangan kosong, namun bisa juga menggunakan tongkat pemukul. Tongkat pemukul ini biasanya terbuat dari pelepah pohon kelapa, rotan, atau pelepah dahan sagu yang panjangnya sekitar 60 sampai 100 cm.

Baca Juga: Sepatu Ratu Marie Antoinette Dilelang dengan Harga Fantastik

Filosofi Tifa Bagi Kehidupan Masyarakat

Tifa terkait erat dengan cerita asal-usul nenek moyang orang Maluku yakni falsafah Siwa Lima. Konon, di Pulau Seram dulu hidup tiga bersaudara, yakni Ulisiwa, Ulilima, dan Uliassa. Uliassa memilih pindah, sementara Ulisiwa dan Ulilima menetap di Seram yang kemudian melahirkan keturunan di Maluku sampai sekarang ini. Mereka menyebut Pata Siwa untuk keturunan Ulisiwa dan Pata Lima untuk keturunan Ulilima.

Kerukunan Pata Siwa dan Pata Lima ini kemudian menjadi falsafah hidup masyarakat Maluku. Siwa Lima menjadi falsafah yang bermakna meski berbeda, pada dasarnya manusia itu satu. Falsafah ini bisa juga ditafsir bahwa meski laku, identitas, orientasi politik, bahasa, ataupun strata pendidikan berbeda, namun manusia harus tetap bersatu. Bersatu dalam tujuan hidup untuk membangun kebaikan.

Baca Juga  Makna Tri Hita Karana Bagi Kehidupan Masyarakat Bali

Artikel Terkait