Makna Menyendiri dan Terasing dalam Islam

 Makna Menyendiri dan Terasing dalam Islam

Kitapastibisa.id – Makna Menyendiri dan Terasing dalam Islam – Ruang Muslimah

Makna Menyendiri dan Terasing dalam Islam – Ihwal mereka yang mengasingkan diri dan terasing dalam agama Islam sudah ada sejak zaman dahulu. Ini kemudian menimbulkan pertanyaan bagi sejumlah pihak, mengapa mereka yang dinilai alim kerap mengasingkan diri.

Hal ini juga terdapat dalam hadis dari ‘Abdurrahman bin Sannah. Ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Dari ‘Abdurrahman bin Sannah. Ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabad, “Islam itu akan datang dalam keadaan asing dan kembali dalam keadaan asing seperti awalnya. Beruntunglah orang-orang yang asing.” Lalu ada yang bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai ghuroba’, lalu beliau menjawab, “(Ghuroba atau orang yang terasing adalah) mereka yang memperbaiki manusia ketika rusak.” (HR. Ahmad 4: 74. Berdasarkan jalur ini, hadits ini dho’if. Namun ada hadits semisal itu riwayat Ahmad 1: 184 dari Sa’ad bin Abi Waqqosh dengan sanad jayyid)

Selain itu, sejumlah orang beranggapan bahwa mengasingkan diri dari masyarakat yang ia nilai rusak. Merupakan adalah hal yang tepat. Sehingga mereka memilih untuk menyendiri daripada bergaul dengan orang lain. Lalu apakah tanggapan dalam islam terkait menyendiri?

Baca Juga  Kekuatan Kalimat Tauhid: Ringan Diucapkan, Berat di Timbangan

Baca Juga: Bersedekah Setiap Hari dengan Salat Duha

Menyendiri Adalah Berbagi

Agaknya, masih ada sebagian orang yang tidak membaca keseluruhan dari hadis tersebut. Nabi shallallahu alaihi wa sallam menyebut bahwa makna menyendiri atau asing adalah mereka yang berupaya memperbaiki masyarakat. Ini menyiratkan bahwa umat muslim tetap harus bergaul dengan masyarkat.

Dalam hadis lainnya dari oleh ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Beruntunglah orang-orang yang terasing.” “Lalu siapa orang yang terasing wahai Rasulullah”, tanya sahabat. Jawab beliau, “Orang-orang yang shalih yang berada di tengah banyaknya orang-orang yang jelek, lalu orang yang mendurhakainya lebih banyak daripada yang mentaatinya” (HR. Ahmad 2: 177. Hadits ini hasan lighoirihi, kata Syaikh Syu’aib Al Arnauth)

Selanjutnya, makna dari terasing adalah mereka yang berpegang teguh pada ajaran agama meski lingkungannya mendurhakainya. Ini lantas tidak melepaskan kewajiban untuk berbuat baik dan bersosialisasi dengan masyarakat. Sebagaimana Allah berfirman,

“Dan beribadahlah kepada Allah dan janganlah menyekutukan Nya dengan sesuatu pun. Berbuat baiklah terhadap orang tua, kerabat dekat, anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri.” (Q.S. An-Nisa: 36)

Baca Juga  Sebab Sujud Sahwi dan Cara Melakukannya

Allah memerintahkan umatnya untuk tetap berbuat baik kepada orang lain. Sehingga, memaknai terasing dan menyendiri adalah dengan cara berbagi. Meski kala berbagi–dalam hal ilmu agama–orang lain menolak dan menganggapnya asing.

Artikel Terkait