Indonesia banyak memiliki sastrawan yang melegenda meskipun sosoknya sudah tiada, salah satunya Pramoedya Ananta Toer. Sastrawan kelahiran Blora, Jawa Tengah ini memiliki banyak sekali karya sasta.

Pram, sapaan akrabnya, adalah seorang anak sulung dalam keluarganya yang produktif dalam sejarah sastra Indonesia. Kiprahnya dalam dunia literasi sudah tidak dapat diragukan lagi dengan menghasilkan banyak karya mulai dari puisi hingga novel.

Memiliki nama asli Pramoedya Ananta Mastoer, Pram pernah mengikuti kelompok militer di Jawa dan kerap ditempatkan di Jakarta pada akhir perang kemerdekaan. Pram juga menulis cerpen, serta buku di sepanjang karier militernya. Lewat situlah karya-karyanya mulai bangun.

Baca Juga: STYLE HARAJUKU DI INDONESIA,COCOK KAH?

Awal Karier Pramoedya Sebagai Sastrawan

Dalam memulai kariernya sebagai sastrawan, Pram mengalami jalan yang tidak mulus. Pram pernah ditahan selama tiga tahun pada masa kolonial dan satu tahun pada masa orde lama, serta pada masa orde baru Pram juga ditahan selama 14 tahun sebagai tahanan politik karena pandangan pro-komunis Tiongkoknya. Bukunya pun dilarang dari peredaran.

Baca Juga  Wahyuni, Nenek Pendaki Gunung Asal Pekalongan

Selama ditahan, Pram dilarang menulis. Namun, jiwa sastrawannya memang sudah mendarah daging, Pram masih dapat menyusun serial karyanya yang terkenal berjudul Bumi Manusia. Empat seri novel semi-fiksi sejarah Indonesia tersebut menceritakan perkembangan nasionalisme Indonesia dan sebagian berasal dari pengalamannya sendiri saat tumbuh dewasa.

Setelah karya tersebut, Pram kembali menuliskan buku Gadis Pantai, novel semi-fiksi lainnya berdasarkan pengalaman neneknya sendiri. Tak hanya itu, Pram juga menulis Nyanyi Seorang Sunyi pada 1995, sebuah otobiografi berdasarkan tulisan yang ditulis untuk putrinya. Selanjutnya munculah karya-karya Pram.

Pram telah berpulang pada 30 April 2006 di usianya yang ke 81 tahun di kawasan Utan Kayu, Jakarta Timur, karena penyakit komplikasi dan jantung. Meskipun sudah tiada, karya Pram hingga kini masih dinikmati oleh para penggemarnya. Bahkan, karya-karyanya memiliki peningkatan dengan difilmkan melalui adaptasi novelnya.

Pram telah menghasilkan lebih dari 50 karya sastra berupa novel yang telah diterbitkan ke dalam 41 bahasa di dunia. Karya-karya Pram kerap bertemakan humanisme universal, berbicara tentang persoalan dan pemikiran pada zamannya yang masih relevan dengan kehidupan zaman sekarang.

Baca Juga  Neas Wanimbo Membangun Masa Depan Melalui Perpustakaan